
Oleh: Ananda Rizki Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University
JurnalPost.com - Daviza Rizky Algyfari lahir di Sukabumi pada 12 April 2002. Masa kecilnya ia habiskan di daerah tersebut hingga kelas satu SMP sebelum akhirnya pindah ke Bogor. Perjalanan pendidikannya cukup beragam. Ia menempuh pendidikan dasar di Cisarua, Sukabumi, melanjutkan ke SMPN 5 Kota Sukabumi, lalu berpindah ke SMPN 3 Bogor di Malabar, dan akhirnya menamatkan sekolah menengah atas di SMAN 1 Sukaraja Bogor pada tahun 2020.
Setelah lulus SMA, Daviza melanjutkan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI dan memilih program studi Ekowisata. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Minatnya terhadap kehutanan cukup kuat, didukung oleh latar belakang keluarganya yaitu kakek dan ayahnya yang merupakan alumni kehutanan. Selama masa kuliah, ia aktif mengembangkan diri melalui berbagai praktik dan penelitian di lapangan.
Salah satu pengalaman yang memperkaya wawasannya adalah praktik umum ekowisata (PUE) di Kebun Raya Cibodas selama 16 hari saat semester tiga. Ia belajar mengidentifikasi sumber daya ekowisata, menganalisis vegetasi, hingga melakukan pengamatan burung dan herpetofauna. Pengalaman ini berlanjut di semester empat dengan praktik pengelolaan ekowisata di Batang, Jawa Tengah.
Semester tujuh menjadi titik penting dalam perjalanannya ketika ia menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di Lombok selama empat bulan. Di sana, ia fokus pada dua aspek utama dalam pekerjaannya yang berhubungan dengan pengelolaan keamanan dan pengelolaan masyarakat di kawasan non-pendakian Resort Aikmel, Taman Nasional Gunung Rinjani. Daviza ikut serta dalam patroli kawasan, pemetaan wilayah, serta memahami konflik masyarakat dengan pemerintah terkait klaim tanah adat. Ia juga sempat berperan sebagai tour guide di Savana Propok dan membantu penyelenggaraan acara peringatan 17 Agustus.
Proyek akhirnya berjudul "Program Interpretasi Tumbuhan dalam Tradisi Tenun di Masyarakat Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara." Penelitiannya berfokus pada pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan alami dalam tradisi tenun masyarakat setempat. Ia mengidentifikasi 11 jenis tumbuhan, termasuk kapas sebagai bahan benang dan tanaman pewarna seperti kunyit dan daun jati. Selain itu, ia juga menggali sejarah, tradisi, dan kepercayaan masyarakat setempat terkait praktik tenun.
Setelah lulus, Daviza menjadi asisten dosen di program studi Ekowisata, mengampu mata kuliah Sistem Informasi Geografis (SIG), Pemberdayaan Masyarakat dalam Ekowisata, Metode Interpretasi, serta Metode Survei dan Analisis Data. Keputusan ini bukan sekadar mengisi waktu luang, tetapi sebagai langkah strategis untuk mendapatkan pengalaman kerja yang dibutuhkan dalam bidang pemetaan, yang menjadi salah satu syarat dalam pekerjaannya di masa depan. Impiannya adalah bekerja di Kementerian Kehutanan, yang selaras dengan pengalaman dan minatnya selama kuliah.
Selain pencapaian akademis, perannya sebagai Ketua Angkatan Ekowisata 57 juga membentuk karakter kepemimpinannya. Ia mengorganisir keuangan angkatan, menjadi penghubung antara mahasiswa, alumni, dan dosen, serta menyelenggarakan forum diskusi dan sharing session dengan alumni. Meski menganggap jabatan itu hanya sebuah tugas, ia berusaha menjaga kebersamaan angkatannya dan membantu menyelesaikan berbagai masalah yang muncul.
Dari berbagai pengalaman yang ia jalani, Daviza menyadari bahwa pendidikan lebih dari sekadar meraih gelar. Perjalanan akademiknya membentuknya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mandiri, dan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik. Ia percaya bahwa kuliah seharusnya menjadi wadah pengembangan diri, bukan sekadar rutinitas antara kampus dan rumah. Baginya, relasi yang terjalin selama kuliah, terutama dengan alumni, dapat membuka peluang lebih luas di masa depan.
"Kembangkan diri seluas mungkin, jadilah pribadi yang lebih dewasa, dan jangan takut keluar dari zona nyaman," adalah prinsip yang selalu ia pegang dalam menjalani perjalanan hidupnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda