DEPOK, JurnalPost.com — Sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengembangkan program stimulasi kognitif bagi lanjut usia (lansia) dengan memadukan terapi musik dan aktivitas seni. Inovasi tersebut diterapkan kepada 26 penghuni Panti Werdha Muslim Rumah Oma di Kecamatan Cilodong, Kota Depok, melalui 12 sesi kegiatan.
Program ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam menghadirkan aktivitas yang menyenangkan sekaligus mendukung kesehatan kognitif dan emosional lansia, terutama di tengah meningkatnya jumlah penduduk berusia lanjut di Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip tim mahasiswa, jumlah lansia di Indonesia mencapai sekitar 36,5 juta jiwa pada 2025. Proporsi penduduk lansia juga disebut meningkat dari 9,93 persen pada 2020 menjadi 11,93 persen dalam lima tahun terakhir.
Peningkatan populasi lansia tersebut turut menjadi perhatian karena berkaitan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan, termasuk upaya menjaga daya ingat dan fungsi kognitif.
Sementara itu, proyeksi Alzheimer's Indonesia yang dirujuk tim memperkirakan jumlah penyandang demensia di Indonesia dapat mencapai sekitar 2 juta orang pada 2030.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa UI menghadirkan pendekatan stimulasi kognitif melalui kegiatan yang dekat dengan keseharian lansia.
Padukan Musik dan Seni dalam Program Pengabdian Masyarakat
Program ini merupakan bagian dari kegiatan Kepedulian Masyarakat yang memperoleh pendanaan dari Direktorat Pengabdian dan Inovasi Sosial (DPIS) Universitas Indonesia.
Tim pelaksana terdiri atas lima mahasiswa, yakni Amirah sebagai ketua, serta Nabak, Kayla, Taulifa, dan Fajar sebagai anggota.

Pelaksanaan kegiatan turut didampingi dosen pembimbing Faizah Abdullah, S.St., S.Ft., M.Biomed.
Ketua tim, Amirah, menjelaskan bahwa pemilihan terapi musik dan seni didasarkan pada kebutuhan menghadirkan metode stimulasi yang tidak hanya bermanfaat, tetapi juga menarik bagi lansia.
“Kami melihat gangguan kognitif seperti mudah lupa dan demensia jadi tantangan besar yang belum banyak ditangani dengan pendekatan yang menyenangkan bagi lansia. Musik dan seni kami pilih karena keduanya terbukti secara ilmiah mampu menstimulasi memori, atensi, sekaligus regulasi emosi,” ujar Amirah.
Melalui pendekatan tersebut, tim berharap kegiatan stimulasi kognitif dapat dilakukan secara lebih santai dan menjadi aktivitas yang dinantikan penghuni panti.
Lakukan Pemeriksaan Kognitif Sebelum Intervensi
Sebelum program dijalankan, tim mahasiswa terlebih dahulu menyusun rencana kegiatan bersama dosen pembimbing.
Tahap persiapan meliputi penyusunan jadwal 12 sesi intervensi, sosialisasi kepada peserta, serta proses persetujuan partisipasi atau informed consent.
Tim juga melakukan pemeriksaan awal untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif peserta.
Penilaian dilakukan menggunakan dua instrumen, yakni Mini-Mental State Examination (MMSE) dan Montreal Cognitive Assessment (MoCA).
Kedua instrumen tersebut umum digunakan untuk membantu menilai kemampuan kognitif, termasuk aspek orientasi, perhatian, daya ingat, dan fungsi berpikir lainnya.
Hasil pemeriksaan awal kemudian dijadikan data dasar untuk memantau perubahan kondisi peserta selama program berlangsung.
Kegiatan dijadwalkan dua kali dalam sepekan, dengan durasi sekitar dua jam untuk setiap pertemuan.
Waktu tersebut dibagi menjadi satu jam aktivitas terapi musik dan satu jam kegiatan seni.
Selain pelaksanaan intervensi, tim juga menjadwalkan evaluasi berkala setiap dua pekan atau setelah empat sesi kegiatan untuk membandingkan hasil penilaian kognitif peserta.
Bernyanyi Lagu Nostalgia hingga Melukis Pot Bunga
Dalam sesi terapi musik, para lansia diajak mengikuti berbagai aktivitas yang melibatkan ingatan, konsentrasi, dan koordinasi gerak.
Kegiatannya meliputi bernyanyi bersama menggunakan lagu-lagu nostalgia, mengikuti irama melalui tepukan tangan dan hentakan kaki, hingga memainkan alat musik sederhana.
Pemilihan lagu-lagu yang akrab di telinga peserta diharapkan dapat membantu membangkitkan kenangan sekaligus menciptakan suasana interaksi yang menyenangkan.
Sementara itu, kegiatan seni dirancang untuk memberikan kesempatan kepada lansia mengekspresikan kreativitas melalui penggunaan warna dan berbagai media.
Para peserta diajak mewarnai tas kain bermotif batik, melukis pot bunga, serta menanam bibit cabai.
Aktivitas lainnya mencakup menghias gantungan kunci dan melukis kipas bambu.
Selain memberikan variasi kegiatan, aktivitas tersebut juga melibatkan koordinasi tangan, perhatian, dan kemampuan mengikuti instruksi.
Perpaduan kegiatan musik dan seni diharapkan dapat memberikan stimulasi yang lebih beragam bagi para penghuni panti.
Meski demikian, keberhasilan program dalam meningkatkan atau mempertahankan fungsi kognitif tetap perlu dilihat melalui hasil evaluasi sebelum dan setelah intervensi.
Pengurus Panti Sebut Lansia Semakin Antusias
Pelaksanaan program mendapat tanggapan positif dari pengurus Panti Werdha Muslim Rumah Oma.
Ketua Perawat Panti Werdha Muslim Rumah Oma, Leni Prianti, mengungkapkan bahwa kegiatan mahasiswa memberikan suasana baru bagi para penghuni panti.
Menurutnya, para lansia menunjukkan antusiasme selama mengikuti aktivitas yang diselenggarakan.
“Alhamdulillah, selama kegiatan ini berlangsung, dampak yang dirasakan oleh oma dan opa sangat signifikan. Apa yang kalian lakukan membawa aura positif dan membuat para lansia antusias. Kehadiran kalian juga selalu ditunggu-tunggu. Sejauh ini, kesan mereka selama kegiatan sangat positif dan kegiatan ini sangat membantu,” ujar Leni.
Tanggapan serupa disampaikan salah seorang penghuni panti yang merasakan manfaat dari adanya jadwal kegiatan rutin.
Ia mengaku aktivitas tersebut membuat kesehariannya lebih terisi sekaligus membantunya mengingat jadwal.
“Kegiatan ini membuat saya jadi lebih ingat tanggal karena ada jadwal kegiatan yang diikuti. Selain itu, hari-hari juga jadi lebih terisi dengan aktivitas yang menyenangkan,” ungkapnya.
Respons para peserta menjadi salah satu indikator penerimaan terhadap kegiatan yang dikembangkan mahasiswa.
Namun, pengalaman positif peserta belum dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan adanya peningkatan fungsi kognitif secara klinis tanpa didukung hasil pengukuran yang memadai.
Diharapkan Menjadi Kegiatan Rutin di Panti Lansia
Tim mahasiswa UI berharap program stimulasi melalui musik dan seni tidak berhenti setelah seluruh rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat selesai dilaksanakan.
Salah satu rencana keberlanjutan yang disiapkan adalah penyusunan buku pedoman kegiatan.
Panduan tersebut diharapkan dapat digunakan pengurus panti maupun pendamping lansia atau caregiver untuk menyelenggarakan aktivitas serupa secara mandiri.
Dengan demikian, kegiatan seperti bernyanyi, latihan ritme, mewarnai, dan melukis dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas rutin penghuni panti.
Tim juga berharap model kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi panti werdha lainnya untuk mengembangkan program stimulasi kognitif yang sederhana, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kemampuan peserta.
Melalui inovasi tersebut, mahasiswa UI berupaya menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui teknologi yang kompleks.
Pendekatan kreatif yang memanfaatkan musik, warna, dan interaksi sosial juga dapat menjadi bagian dari upaya mendukung kualitas hidup lansia, terutama apabila dilaksanakan secara terarah, berkelanjutan, dan disertai evaluasi yang tepat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda