Melihat Potensi di Balik Limbah Kulit Ari Kacang Tanah
Hoa Bac dihuni lebih dari 5.000 penduduk yang sebagian besar merupakan masyarakat etnis minoritas Co Tu. Aktivitas pertanian menjadi bagian penting kehidupan masyarakat setempat, termasuk budi daya kacang tanah. Dari aktivitas tersebut, kulit ari kacang tanah menjadi salah satu residu yang selama ini belum banyak dimanfaatkan lebih lanjut. Menurut Ramadhani, kulit ari kacang tanah sebenarnya memiliki kandungan berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan. “Saya melihat ada jurang yang cukup lebar antara potensi bioaktif kulit ari kacang tanah dengan cara masyarakat memperlakukannya. Padahal secara ilmiah, kulit ari ini kaya senyawa fenolik, flavonoid, tanin, bahkan resveratrol yang aktivitas antioksidannya justru lebih tinggi dibanding cangkang maupun bijinya sendiri. Sayang sekali kalau hanya berakhir sebagai residu,” ujar Ramadhani. Berangkat dari potensi tersebut, ia mengembangkan riset pemanfaatan limbah dengan pendekatan zero waste dan ekonomi sirkular. Kulit ari kacang tanah difermentasi menggunakan konsorsium Mikroorganisme Lokal (MOL), kemudian diekstraksi untuk memperoleh senyawa yang selanjutnya digunakan dalam formulasi produk perawatan kulit.Fermentasi hingga Formulasi Kosmetik
Dalam proses pengembangan, kulit ari kacang tanah terlebih dahulu dibersihkan dan dihaluskan. Bahan tersebut kemudian difermentasi menggunakan konsorsium MOL yang terdiri atas Bacillus, Lactobacillus, dan Aspergillus. Hasil fermentasi selanjutnya dipisahkan menjadi dua bagian. Pertama, ekstrak kulit ari yang digunakan untuk memperoleh senyawa bioaktif. Kedua, air hasil fermentasi yang dimanfaatkan kembali sebagai pengganti akuades dalam proses formulasi. Pendekatan tersebut diterapkan untuk meminimalkan sisa bahan selama proses produksi. Berdasarkan pengujian dalam penelitian, ekstrak kulit ari kacang tanah menunjukkan kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan yang tinggi. Air fermentasi yang sebelumnya dipandang sebagai produk samping juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang dapat diukur. “Yang paling menarik justru air fermentasinya. Awalnya saya kira itu hanya media pendukung, ternyata dia sendiri punya kapasitas antioksidan yang cukup baik. Ini jadi bukti bahwa konsep zero waste bukan sekadar slogan, tapi benar-benar bisa dibuktikan secara ilmiah,” jelas Ramadhani. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan formulasi lip balm dan cleansing balm yang memadukan ekstrak kulit ari kacang tanah dengan air fermentasi.Formula Favorit Panelis
Sejumlah formulasi diuji untuk melihat karakteristik produk yang dihasilkan. Formulasi yang menggabungkan ekstrak kulit ari kacang tanah dan air fermentasi menunjukkan hasil yang dinilai menjanjikan berdasarkan sejumlah parameter pengujian. Dalam uji hedonik yang melibatkan 25 panelis, formula tersebut menjadi salah satu yang paling disukai dari aspek warna, tekstur, dan aroma. Pengujian juga dilakukan untuk melihat kemampuan produk dalam membantu mempertahankan kelembapan kulit setelah digunakan secara rutin selama dua minggu. Hasil pengembangan tersebut kemudian diwujudkan dalam sejumlah prototipe lip balm dan cleansing balm yang dikemas lengkap dengan informasi mengenai komposisi, manfaat, serta petunjuk penggunaan.Produk Dibawa Langsung ke Hoa Bac, Vietnam
Setelah proses pengembangan selesai, Dr. Dita membawa produk tersebut ke Vietnam untuk diserahkan kepada Hoa Bac Community Group dan diperkenalkan kepada masyarakat setempat. “Saya yang berkesempatan bertemu langsung dengan masyarakat Hoa Bac dan menyerahkan produk hasil riset Ramadhani. Melihat sendiri bagaimana warga di sana menerima lip balm serta cleansing balm ini, saya jadi punya gambaran nyata bahwa apa yang dikerjakan mahasiswa saya di laboratorium Malang benar-benar sampai dan relevan dengan kebutuhan mereka, mengingat iklim tropis Da Nang yang panas dan berangin membuat kulit serta bibir warga di sana mudah kering,” kata Dr. Dita. Menurutnya, proses menuju formulasi akhir juga melalui berbagai tahapan evaluasi. “Yang saya tekankan ke Ramadhani sejak awal adalah, riset itu jarang berjalan semulus di buku teks. Ketika formulasi awal balm-nya sempat menghasilkan droplet-droplet kecil karena keseimbangan fase minyak dan air belum pas, itu bukan kegagalan, itu data. Justru dari situ kita belajar menyesuaikan formula agar lebih stabil sebelum akhirnya layak dibawa dan dibagikan,” ujarnya.Ramadhani: Jarak Bukan Penghalang agar Riset Bermanfaat
Ramadhani sendiri tidak ikut berangkat ke Da Nang. Meski demikian, ia mengaku tetap merasakan makna dari proses pengabdian tersebut karena terlibat sejak tahap awal pengembangan produk.
“Saya memang tidak berangkat langsung ke Da Nang, tapi bagi saya prosesnya tetap terasa dekat — mulai dari fermentasi, ekstraksi, sampai formulasi, semua saya kerjakan sendiri di laboratorium Malang. Jadi ketika Bu Dita mengirim kabar dan dokumentasi produk ini diterima warga Hoa Bac, rasanya seperti ikut hadir di sana juga. Justru itu jadi bukti bahwa jarak bukan penghalang untuk riset kita bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujar Ramadhani.
Ia berharap penelitian tersebut dapat terus dikembangkan hingga menuju tahap yang lebih matang.
“Produk ini masih prototipe laboratorium, jadi masih perlu uji stabilitas jangka panjang dan proses scale-up sebelum benar-benar bisa dikomersialkan. Tapi setidaknya, ini membuktikan bahwa limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak berharga, sebenarnya bisa diubah jadi sesuatu yang bermanfaat bagi kesehatan kulit sekaligus lingkungan,” katanya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda