- Seleksi mana kebutuhan yang akan memiliki pengeluaran secara repetitif, maka itu dijadikan prioritas.
- Catat pemasukan yang didapatkan dalam sebulan.
- Tulis seberapa besar dana yang dibutuhkan dalam setiap kelompok dan kalkulasi total keseluruhan.
- Sisihkan 10% untuk menabung
- Komitmen dan eksekusi perencanaan tersebut.
Mahasiswa Jurnalistik, Sekelompok Orang yang Takut Liat Dompet saat Masa UAS
Seretnya dompet ya Allah….
Setidaknya itu yang saya pikirkan dan dengarkan dari mulut teman-teman kampus saya selama dua tahun terakhir menjadi mahasiswa jurnalistik Universitas Padjadjaran angkatan 2021 setiap masa Ujian Akhir Semester (UAS). Banyaknya UAS yang mengharuskan mahasiswa jurnalistik untuk liputan membuat mobilitas tinggi dan uang terkikis. Tanpa sadar, sebagian besar modal untuk hidup sebulan hilang.
Di masa UAS, fenomena ini menyebabkan munculnya dialog membandingkan uang yang terpakai untuk liputan, ucapan seperti “duit gue habis semua euy, dipake liputan”, “jangan order makanan online dong gue gak ada uang lagi”, atau “liputannya bisa di tempat yang murah aja gak? Gue udah gak ada uang, udah dipakai liputan mata kuliah yang lain”, makan atau masak bersama di kosan teman, puasa jajan, sampai memamerkan nominal rekening pribadi yang bahkan tidak mencukupi biaya admin bank.
Pengeluaran untuk setiap projek dan mahasiswa dapat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan liputan biasanya terdiri dari transportasi, kebutuhan hardware, dan konsumsi. Semua kebutuhan ini bergantung pada tema dan angle liputan, serta jarak antara narasumber dengan tim redaksi.
Dengan ragamnya fenomena ini saya mewawancarai beberapa mahasiswa jurnalistik Universitas Padjadjaran 2021 untuk mengetahui perbedaan pengeluaran liputan dan bagaimana hal tersebut memengaruhi kehidupan mereka.
Fathiya, seorang mahasiswa jurnalistik mengeluarkan rasa frustasinya saat uang menjadi tidak terkendali untuk liputan, “Pengeluaran bisa sampai 300 ribu, itu karena keseringan liputan dan harus ke Bandung dari Jatinangor untuk mewawancarai narasumber.”
Sama seperti dengan Fathiya, Zeta atau akrab dipanggil Jeje menghabiskan 150 ribu rupiah untuk semester tiga dan 200 ribu untuk semester empat. Baik Zeta maupun Fathiya keduanya bergantung pada transportasi umum untuk pergi meliput. Sehingga alokasi modal liputan terbanyak ada di transportasi.
Saya juga mewawancarai dua mahasiswa jurnalistik yang melakukan liputan dengan kendaraan pribadi untuk mengetahui apa dengan memiliki kendaraan pengeluaran akan lebih kecil.
"Kalau capek baru naik transportasi umum, kalau liputan pengeluaran terbesar ada pada akomodasi, makanan, dan pengeluaran menyesuaikan situasi lapangan, biasanya kalau ngerjain projek pengeluaran mampu sampai 900 ribu" jelas Fauzan
Berbeda dari Fauzan, Falah memiliki pengeluaran yang lebih kecil dengan memiliki kendaraan pribadi "Untuk liputan sendiri itu 30-50 ribu, terkadang nebeng dan terkadang bawa kendaraan sendiri, cuma ya itu belum dihitung sama jajan dan makan."
Tidak hanya anak perantauan, saya juga menanyakan hal yang sama pada mahasiswa Jurnalistik yang pulang dan pergi dari rumah ke kampus. Saya penasaran, apakah fenomena ini memang menyeluruh atau hanya terjadi pada para perantau.
"Tentatif sih untuk liputan, tergantung ngeliputnya kemana tapi rata-rata keluar duit 50-100 ribu setiap liputan, kalau dijumlah ada 200 ribu" jelas David, mahasiswa jurnalistik yang tinggal di Bandung.
David juga menambahkan, "Waktu itu aku (liputan) ke Cikole habis 100 ribu buat tiket masuk, ngga ngira bakal mahal banget."
Dengan bervariasinya dan besarnya modal tugas, saya mempertanyakan finansial manajemen para narasumber. Tentu hal-hal seperti ini memiliki dampak pada kehidupan sehari-hari di mana mahasiswa terpaksa hidup mengirit dan kerap kali khawatir akan kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
David dan Falah biasanya menghemat dengan menahan keinginan untuk jajan. Untuk Falah dirinya selalu siap dengan stok makanan seperti nugget dan sayuran agar tetap bertahan hidup dengan uang yang mepet.
Berbeda dari kedua rekan di atas, Jeje lebih bergantung pada orang lain. "Kalau uang hampir habis, caranya ngomong ke orang tua dan jelasin lagi pengeluaran besar-besaran dan butuh dana lebih" ucapnya.
Untuk Fathiya dan Fauzan, keduanya menangani kebutuhan finansial mereka dengan lebih strategis. Mereka memiliki dua rekening berbeda, yang satu disediakan untuk uang aktif dan yang satu tabungan atau dana lebih. Sehingga, uang mereka tidak mudah habis.
Lima narasumber juga kompak tidak pernah merencanakan pengeluaran UAS. Namun, untuk David pengeluaran untuk UAS selalu dituliskan terlebih dahulu untuk mengetahui estimasi modal tapi setelahnya dia juga akan terjun ke mode "menyesuaikan lapangan saja".
“Cuman kayak ngeri aja gitu liat dompet, kek walah nih duit napa tinggal segini lagi. Kayak suka ada pengeluaran gak terduga aja gitu.” cerita David saat diwawancara.
Fenomena penggunaan uang yang impulsif ini kerap kali terjadi karena mahasiswa merasa tidak memiliki waktu yang banyak untuk persiapan dan masih harus mengejar narasumber yang keterjangkauannya tergolong tentatif.
Berbincang dengan Elsa Delamareta, Certified Financial Planner dari Indonesia Financial Advisor Community (IFAC). Fenomena penggunaan uang tanpa perencanaan tidak hanya dilakukan mahasiswa tetapi juga orang dewasa.
"Kejadian kayak gitu bukan hanya dialami mahasiswa ya, tapi semua orang juga seperti itu karena masih banyak yang belum bisa budgeting" jelas Elsa.
Elsa berpendapat banyak orang yang menganggap mengatur uang adalah sesuatu yang sulit, padahal mengorganisir pengeluaran atau budgeting akan meningkatkan kesehatan finansial seseorang dan mudah.
Dengan budgeting, orang-orang juga terhindar dari kekhawatiran uang yang akan habis. Sistem perencanaan uang sebenarnya sistem "paying yourself forward". Dengan sistem ini, orang mudah mengetahui besarnya dana untuk kebutuhannya hingga mampu terpenuhi.
Kebutuhan setiap orang berbeda dan bervariasi, sehingga dibutuhkan daftar pengeluaran prioritas untuk mengetahui mana yang merupakan kebutuhan primer dan sekunder. Jangan sampai kebutuhan sekunder didahulukan dari kebutuhan primer.
Daftar prioritas menjadi salah satu permulaan seseorang untuk melakukan perencanaan pengeluaran. Menurut Elsa terdapat beberapa cara untuk melakukan budgeting:
Tulis tujuan dalam melakukan perencanaan keuangan dan kelompokan pengeluaran dalam priority list
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda