Kampar, JurnalPost.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Berdampak Universitas Riau (UNRI) 2026 di Desa Muara Takus membangun insinerator sederhana sebagai upaya mendukung pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan minim polusi.
Program tersebut dilaksanakan melalui koordinasi bersama Pemerintah Desa Muara Takus serta telah memperoleh persetujuan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Proses sosialisasi hingga pembangunan insinerator berlangsung selama tiga hari, yakni pada Kamis, Sabtu, dan Minggu, 9 serta 11–12 Juli 2026.
Insinerator yang telah selesai dibangun kemudian diserahkan kepada Pemerintah Desa Muara Takus. Alat tersebut ditempatkan di depan Kantor Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar.
Pemilihan lokasi itu bertujuan agar insinerator mudah terlihat, diawasi, dan dimanfaatkan oleh perangkat desa maupun masyarakat setempat dalam mengelola sampah.
Program pembangunan insinerator dilatarbelakangi oleh kebiasaan sebagian masyarakat yang masih membakar sampah secara terbuka. Cara tersebut menyebabkan asap dan residu pembakaran menyebar ke lingkungan sekitar.
Sebelum pembangunan dilakukan, mahasiswa Kukerta UNRI menggelar sosialisasi mengenai dampak pembakaran sampah terbuka dan rancangan penggunaan insinerator pada Kamis, 9 Juli 2026.
Kegiatan sosialisasi dibuka oleh Sekretaris Desa Muara Takus, Andika Hipendri, yang mewakili kepala desa. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi program yang dilaksanakan mahasiswa dan berharap pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami serta diterapkan oleh masyarakat.
“Kami berharap pengetahuan yang diberikan mahasiswa dapat diserap dan diterapkan oleh warga Desa Muara Takus,” ujarnya.
Sosialisasi tersebut dihadiri oleh perangkat desa, ninik mamak atau pucuk adat Kampar di Muara Takus, sejumlah ketua RW, serta perwakilan pemuda desa.
Dalam kegiatan itu, mahasiswa menjelaskan dampak yang dapat ditimbulkan dari pembakaran sampah secara terbuka. Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan rancangan insinerator sebagai salah satu alternatif sederhana untuk mengurangi penyebaran asap dan residu pembakaran.
Insinerator tersebut menggunakan sistem pembakaran tertutup sehingga panas di dalam ruang pembakaran dapat mencapai suhu yang lebih tinggi dan stabil. Alat itu juga dilengkapi sistem sirkulasi udara yang lebih terarah agar api tidak mudah padam selama proses pembakaran.
Mahasiswa turut menjelaskan bahwa tidak semua jenis sampah dapat dimasukkan ke dalam insinerator. Sampah yang dibakar harus dalam kondisi kering dan tidak berupa kaca, keramik, kaleng tebal, maupun bebatuan.
Proses pembangunan dimulai pada Sabtu, 11 Juli 2026, setelah bahan-bahan pembuatan insinerator tiba di depan Kantor Desa Muara Takus. Pengerjaan dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dengan melibatkan mahasiswa Kukerta UNRI dan dibantu oleh tukang bangunan setempat.
Pada hari pertama pembangunan, mahasiswa berhasil menyelesaikan struktur utama dan pemasangan cerobong. Pekerjaan kemudian dilanjutkan pada Minggu, 12 Juli 2026, untuk tahap penyelesaian atau finishing.
Seluruh anggota kelompok Kukerta turut berpartisipasi dalam proses pembangunan, mulai dari menyiapkan bahan, menyusun struktur, memasang cerobong, hingga menyelesaikan bagian akhir insinerator.
Setelah pembangunan selesai, insinerator langsung diuji coba dengan disaksikan oleh Sekretaris Desa Muara Takus dan ketua pemuda setempat. Bahan yang digunakan dalam pengujian berupa ranting kering, kayu, dan sejumlah sampah plastik.
Dari pengujian tersebut, pembakaran menghasilkan abu dan arang dari sampah kering. Insinerator juga menunjukkan hasil awal sesuai dengan rancangan, yakni asap yang lebih sedikit, proses pembakaran yang lebih stabil, dan residu sampah yang lebih minim dibandingkan pembakaran terbuka.
Pembangunan insinerator ini dikaitkan dengan tujuan Sustainable Development Goals atau SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim. Program tersebut menjadi salah satu bentuk upaya mahasiswa dalam mengurangi polusi udara berupa asap dan residu pembakaran sampah yang dapat memengaruhi kualitas lingkungan.
Meskipun masih menggunakan rancangan sederhana, insinerator tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan di Desa Muara Takus.
Mahasiswa Kukerta UNRI juga berharap masyarakat dapat menggunakan dan merawat fasilitas tersebut dengan baik, sekaligus memperhatikan jenis sampah yang aman untuk dimasukkan ke dalam ruang pembakaran.
Penulis: Damar Widodo Kukerta Berdampak UNRI 2026 Desa Muara Takus
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda