JurnalPost.com - Harga Pupuk dan pestisida naik…. petani menjerit, harga bahan bakan bakar minyak melambung tinggi petani pusing atau saat pupuk Subsidi langka di Pasaran petani berhenti berproduksi atau stop mengusahakan lahan pertaniannya bahkan fenomena yang paling ekstrim ,ketika harga jual komoditi pertanian rendah petani membuang hasil panen sayur dan telur ke jalan… seperti itulah kira-kira gambaran umum kondisi sector pertanian di Indonesia saat ini.
Seiring dengan hal diatas banyak media massa baik cetak maupun elektronik mengekspos berita tentang kegagalan panen, produktivitas tanaman pertanian menurun atau harga jual komoditi pertanian anjlok plus dicabutnya beberapa subsidi Strategiis sector pertanian. Ilustrasi diatas seolah memberi pesan bahwasannya ada yang salah dengan sector pertanian kita saat ini. Walaupun tidak bisa dipungkiri sistim pertanian yang dikembangkan mampu memberi kontribusi besar bagi penghapusan kelaparan dan peningkatan standar hidup.
Kembali pada persoalan diatas, petani menjerit ketika harga pestisida naik disebabkan petani sangat tergantung pada pupuk kimia dan pestisida. Seolah –olah jika tidak ada pupuk, tanaman tidak berproduksi optimal atau jika tidak ada pestisida sintetis hama tidak bisa dikendalikan kemudian jika Bahan Bakar Minyak (BBM ) naik, petani mengeluhkan biaya pengolahan tanah menggunakan traktor untuk membajak sawah menjadi tinggi sehingga memberatkan petani.
Kondisi diatas mengindikasikan untuk berproduksi atau meningkatkan produktivitas tanaman perlu pupuk dan pestisida dalam jumlah besar dan perlu mekanisasi pengolahan tanah dan alat panen serta pasca panen canggih yang dalam pengoperasiannya perlu bahan bakar minyak dalam jumlah tidak sedikit. Kondisi ini telah menyebabkan petani berlomba-lomba menggunakan pupuk dan pestisida yang tiap tahun jumlahnya semakin meningkat dalam lahan usaha taninya
Hal ini menindikasikan petani terjebak dalam situasi dimana mereka harus menghasilkan dan meningkatkan produtivitas tanaman dengan memakai input luar tinggi ( Pupuk , Pestisida, Benih Unggul ) sehingga ketika harga Input Luar melambung tingi sudah barang tentu berpengaruh terhadap produktivitas. Artinya sangat tepat diungkapkan sebuah kalimat :” produktivitas tergantung input Luar tinggi “
Kondisi ini memang tidak mengada - ngada bahkan menjadi realita yang tidak perlu lagi dipertanyakan keabsahannya . banyak kasus dilapangan menunjukkan dampak negative pemakain input luar sehingga petani perlu menyikapi pemanfaatan input luar ini secara bijaksana. Adapun dampak tersebut antara lain Pertama. Pemanfaatan pupuk buatan tidak sesuai dengan harapan dimana efisiensinya lebih rendah ,dapat mengganggu kehidupan dan keseimbangan unsure hara tanah, degradasi struktur tanah jika dipakai dalam jumlah berlebihan kemudian pemakaian pupuk NPK kimia secara terus menerus dapat menyebabkan penipisan unsure –unsur mikro seperti unsure seng, besi, Tembaga, Mangan, magnesium, molybdenum dan Boron yang sangat diperlukan oleh tanaman terutama saat proses pembungaan dan pembuahan. Namun petani tetap menghargai pupuk buatan karena efek yang cepat dan penanganannya relative murah dibandingkan pupuk alami seperti kompos, pupuk hijau dengan reaksi lama plus butuh tenaga ekstra membawanya ke lokasi usaha tani
Kedua, Pestisida kimia. Tidak bisa dipungkiri pestisida kimia sangat efektif mengendalikan hama karena target kerjanya adalah membunuh. berbeda halnya dengan pestisida alami, kerjanya mengusir hama bukan membunuh. Walaupun efektif, penggunaan Pestisida Kimia menimbulkan dampak negative luar biasa dimana setiap tahun ada 40.000 orang terpapar pestisida dan separuhnya berakibat fatal (schoubroeck,et al, 1990 ). Dampak lainnya hama menjadi kebal, musnahnya musuh alami dan yang paling fenomenal ,pestisida kimia tidak mudah terurai dan dalam kesempatannya akan terserap dalam rantai makanan dan sangat membahayakan serangga, hewan pemakan serangga, burung pemangsa dan pada akhirnya burung Liar dan manusia
Ketiga, pemanfaatan benih unggul. Sehubungan dengan benih unggul ini petani sangat berharap benih unggul dapat menjadi solusi meningkatkan produtivitas dan pendapatan petani sehingga benih unggul sangat diminati petani apalagi benih unggul terdiri atas varietas yang memiliki respon tinggi terhadap pupuk kimia. Tapi apa lacur benih unggul hingga saat ini belum mampu meningkatkan produksi dan pendapatan petani bahkan petani tidak pernah ganti nasib alias tidak untung. Penyebabnya benih unggul akan berprodukdi baik jika disebar pada lahan dengan kandungan unsure hara tinggi dan air yang mencukupi serta pengendalian hama yang memadai namun jika kondisi ini tidak dapat dipenuhi maka resiko kerugian hasil panen akan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lokal. Seirng dengan itu pemanfaatan benih unggul telah pula ditenggarai menumbulkan” erosi genetic “ , menghilangkan varietas lokal yang didukung pula oleh promosi benih unggul secara besar-besaran,
Keempat, Mekanisasi dengan alat-alat bahan bakar minyak. Tidak bisa dipungkiri mekanisasi dapat memperbaiki hasil panen melalui pengolahan lahan yang baik, penanaman, pemupukan yang lebih tepat waktu dan Pemanenan yang lebih efisen tapi tetap saja mekanisasi ini menimbulkan masalah karena pengoperasiannya memerlukan bahan bakar minyak (BBM ) dalam jumlah besar yang terindikasi carut marut ketika harga BBM naik tentu biaya operasional menjadi naik. Lagi – lagi kondisi ini memberatkan petani.
Bertitik tolak dari uraian diatas bisa kita simpulkan bahwasannya sistim pertanian yang dikembangkan di Indonesia selama adalah sistim pertanian denagn memanfaatkan input luar tinggi. Dengan kata lain untuk meningkatkan produktivitas harus menggunakan pupuk buatan, pestisida kimia dalam jumlah besar, memanfaatkan benih unggul, irigasi dan mekanisasi. Padahal input luar ini dari pengalaman lapangan belum tentu mampu meningkatkan produksi sesuai dengan yang di harapkan
Artinya selama ini petani telah terjebak pada upaya meningkatkan produksi menggunakan input luar tinggi . akibatnya ketika produktivitas terjebak dalam input luar tinggi banyak dampak negatrif yang dirasakan petani, seolah sangat memberatkan seperti memikul beban dipundak. Kaitannya adalah, Produksi tanaman akan terganggu apabila suplay input luar seperti Pupuk buatan, pestisida kimia, benih unggul, irigasi dan mekanisasi tidak tercukupi atau mengalami hambatan dan dampaknya ketika produktivitas terjebak dalam pemanfaatan input luar tinggi adalah: pertama. Petani memiliki pendapatan atau income dari hasil usaha taninya tidak sesuai dengan harapan
Bagaimana tidak jika dahulu harga gabah Kering panen ( GKP ) dhargai 5 ribu rupiah Per kg dengan harga pupuk dan pestisida lebih rendah dari sekarang dan sekarang harga GKG tetap 5 Ribu Rupiah per kg dengan harga pupuk dan pestisida jauh lebih tinggi dari dahulu, bagaimana pendapatan petani akan meningkat? Fenomena yang sulit bukan. Kedua, sistim usaha tani sangat tergantung pada situasi global. Ambil contoh orang yang berperang kita kena getahnya. Kondisi ini jelas sekali terlihat dimana head to Head antara Rusia VS Ukrania secara langsung telah menimbulkan kelangkaan pupuk NPK dengan merk tertentu di Indonesia seperti NPK Mutiara 15: 15 : 15 keluaran Rusia yang nota bene banyak dipakai oleh petani Hortikultura di Indonesia, keberadaaannya mulai langka, kalupun ada harganya selangit. Rentetannya produksi bisa turun.
Ketiga., sistim pertanian dengan Input luar tinggi sangat rentan dengan perubahan kebijakan pemerintah. Ambil contoh ketika pemerintah melalui kementrian pertanian mengurangi jatah pupuk subsidi petani dari 24 juta Ton menjadi 9 juta Ton pada tahun 2020 lalu efeknya langsung terasa, walaupun tidak significant penurunan produksi terjadi dimana-mana.
Terkait dengan hal diatas Masih banyak contoh atau dampak sebagai akibat dari pemakaian input luar tinggi pada sector pertanian. namun ada hal lebih penting lagi yaitu mengkaji ulang sistim pertanian yang selama ini ada, menyesuaikan usaha tani dengan perkembangan zaman dan mengupayakan pengurangan pemanfaatan input luar dengan menggantinya dengan sumber daya lokal terbarukan melalui pemanfaatan pupuk kompos dari kotoran ternak, pemanfaatan pestisida nabati, pengelolaan irigasi tepat guna, menggunakan varietas lokal unggul, memanfaatkan mekanisasi secara bijak, Menerapkan konsep pemupukan berimbang dan lain sebagainya. Akhirnya kita hanya bisa berharap jayalah selalu petani Indonesia. Semoga.
(Ade Candra , S.Pt, Penyuluh Pertanian di Dinas Pertanian Kabupaten pasaman, Sumatera barat )
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda