“Bu, kalau pakai batik seperti mau kondangan.”
Saya tersenyum ketika seorang mahasiswa baru mengatakan kalimat itu saat saya bertanya mengenai batik.
Kalimatnya sederhana, bahkan terdengar lucu. Namun, jika direnungkan, di balik kalimat tersebut tersimpan pertanyaan yang cukup serius mengenai hubungan generasi muda dengan budaya.
Apakah anak muda sekarang tidak menyukai batik?
Belum tentu.
Ketika saya mencoba bertanya lebih jauh kepada beberapa anak muda urban, jawabannya ternyata cukup beragam.
Ada yang mengatakan nyaman menggunakan batik. Apalagi sekarang batik telah banyak mengalami modernisasi dalam bentuk cutting, warna, dan styling, sehingga dapat digunakan sebagai everyday outfit. Baginya, mengenakan batik bukan hanya soal pakaian, tetapi juga cara mengekspresikan diri sekaligus melestarikan budaya.
Namun, ada pula yang mengatakan kurang nyaman menggunakan batik karena kesannya “penuh motif”. Ia tetap menghargai batik sebagai warisan budaya dan kearifan lokal, tetapi secara pribadi lebih memilih batik dengan motif serta desain tertentu yang sesuai dengan selera berpakaiannya.
Menariknya, persoalannya ternyata bukan selalu “suka atau tidak suka batik”.
Persoalannya bisa jadi adalah:
“Batik seperti apa yang terasa sebagai diri saya?”
Ketika Budaya Bertemu dengan Selera Pribadi
Dalam kehidupan sehari-hari, pakaian bukan sekadar benda yang menutupi tubuh.
Pakaian juga menjadi bagian dari cara seseorang menampilkan dirinya kepada orang lain.
Kita memilih warna, model, motif, bahan, dan gaya tertentu karena semuanya berkaitan dengan bagaimana kita ingin merasa dan tampil sebagai diri sendiri.
Karena itu, ketika seorang anak muda mengatakan, “Saya suka batik, tetapi tidak semua batik nyaman saya pakai,” kita tidak harus buru-buru menyimpulkan bahwa ia tidak menghargai budaya.
Justru mungkin di situlah berlangsung proses apropriasi personal terhadap budaya: seseorang mencoba menemukan bentuk budaya yang dapat masuk ke dalam kehidupannya.
Batik tidak lagi hanya dipahami sebagai sesuatu yang “harus dipakai karena Indonesia”.
Batik mulai dinegosiasikan dengan selera, identitas, gaya hidup, pekerjaan, lingkungan sosial, bahkan perkembangan mode.
Bagi sebagian anak muda, batik mungkin berupa kemeja formal.
Bagi yang lain, batik bisa hadir dalam bentuk outer, rok, jaket, dress, aksesori, atau pakaian sehari-hari dengan desain kontemporer.
Bahkan, mungkin suatu saat kita akan melihat batik dalam bentuk yang hari ini belum terpikirkan.
Dan justru di situlah budaya menunjukkan bahwa ia hidup.
Koentjaraningrat: Budaya Bukan Benda Mati
Koentjaraningrat dalam Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan membahas kebudayaan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan sistem nilai, norma, sikap, dan cara hidup manusia.
Kebudayaan tidak berdiri di luar manusia. Ia hadir dalam kehidupan manusia dan membentuk cara manusia berpikir serta bertindak.
Karena itu, jika kita berbicara tentang pelestarian batik, pertanyaannya tidak cukup:
“Apakah anak muda masih memakai batik?”
Kita perlu bertanya lebih jauh:
“Bagaimana batik hadir dalam kehidupan anak muda?”
Sebab, budaya yang hanya disimpan di museum memang dapat tetap dikenang. Namun, budaya yang hidup membutuhkan manusia yang terus menggunakannya, memberinya makna, dan mewariskannya.
UNESCO, ketika menetapkan Indonesian Batik sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2009, tidak menggambarkan batik sekadar sebagai kain.
UNESCO menekankan teknik, simbolisme, pengetahuan, dan praktik budaya yang mengelilinginya. Batik juga disebut berkaitan dengan identitas dan kesinambungan kehidupan masyarakat Indonesia.
Dengan kata lain, yang diwariskan bukan hanya motifnya, tetapi juga maknanya.
Fuad Hassan: Kebudayaan adalah Bagian dari Kehidupan
Pemikiran Fuad Hassan juga membantu kita melihat persoalan ini secara lebih luas.
Dalam Renungan Budaya, Fuad Hassan membahas kebudayaan bukan hanya sebagai wilayah seni dan sastra, tetapi sebagai sesuatu yang berkaitan dengan berbagai bidang kehidupan manusia.
Buku tersebut bahkan memuat pemikiran mengenai “upaya pembudayaan”, hubungan kebudayaan dengan pendidikan, serta perjumpaan kebudayaan dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Hal ini penting untuk memahami generasi muda hari ini.
Mereka hidup dalam situasi budaya yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, globalisasi, fast fashion, streetwear, K-pop, Japanese fashion, Western fashion, dan berbagai bentuk ekspresi visual yang bergerak sangat cepat.
Dalam kondisi seperti ini, budaya Indonesia tidak mungkin hanya diajarkan dengan mengatakan:
“Ini budaya kita. Kamu harus menyukainya.”
Pertanyaan yang lebih produktif adalah:
“Bagaimana budaya kita dapat terus menemukan tempat dalam kehidupan mereka?”
Markus dan Kitayama: Menjadi Diri Sendiri Sekaligus Bagian dari Kelompok
Di sinilah pemikiran psikologi lintas budaya dari Hazel Rose Markus dan Shinobu Kitayama menjadi menarik.
Dalam artikel klasik mereka, Culture and the Self: Implications for Cognition, Emotion, and Motivation (1991), Markus dan Kitayama menjelaskan perbedaan cara manusia mengonstruksikan diri dalam konteks budaya.
Mereka membedakan secara konseptual antara independent self-construal dan interdependent self-construal. Dalam banyak konteks budaya Asia, diri dipahami lebih kuat dalam keterkaitannya dengan orang lain dan hubungan sosial.
Namun, manusia bukan hanya makhluk sosial.
Ia juga ingin memiliki keunikan.
Ia ingin mengatakan:
“Ini saya.”
Karena itu, tidak mengherankan jika generasi muda ingin tetap menjadi bagian dari budaya Indonesia, tetapi sekaligus mengekspresikan individualitasnya.
Di satu sisi:
“Saya orang Indonesia. Saya menghargai batik.”
Di sisi lain:
“Tetapi saya tidak suka semua motif batik.”
Kedua hal tersebut tidak harus bertentangan.
Justru mungkin keduanya sedang bekerja secara bersamaan.
“Saya Suka Batik, tetapi yang Ini Bukan Saya”
Bayangkan seorang anak muda memilih batik berwarna gelap dengan motif minimalis karena sesuai dengan gaya minimalist outfit-nya.
Mahasiswa lain memilih batik berwarna cerah karena merasa lebih ekspresif.
Yang lain memilih batik kontemporer karena tidak ingin terlihat terlalu formal.
Ada yang menyukai batik klasik.
Ada yang merasa motif tradisional terlalu ramai.
Ada pula yang baru mau menggunakan batik jika desainnya dipadukan dengan gaya modern.
Apakah salah?
Belum tentu.
Pilihan tersebut dapat dibaca sebagai proses ketika seseorang mencari titik temu antara identitas budaya dan identitas personal.
Batik tetap hadir.
Tetapi cara memilikinya berbeda.
Dan mungkin inilah salah satu bentuk pewarisan budaya yang perlu kita pahami pada generasi sekarang.
Jangan Sampai Batik Hanya Menjadi “Seragam”
Ada satu hal yang perlu kita waspadai.
Jika batik terlalu sering diperkenalkan kepada generasi muda hanya sebagai pakaian wajib untuk acara tertentu, upacara, hari Jumat, rapat, atau kondangan, sangat mungkin muncul asosiasi tertentu.
Batik menjadi pakaian formal.
Batik menjadi pakaian orang tua.
Batik menjadi pakaian kantor.
Batik menjadi pakaian kondangan.
Bukan karena batiknya tidak menarik, melainkan karena konteks sosial tempat batik diperkenalkan turut membentuk makna psikologisnya.
Padahal, UNESCO mencatat bahwa batik juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan bisnis dan akademik, selain dalam berbagai upacara dan perayaan.
Maka, mungkin persoalannya bukan bagaimana membuat anak muda “dipaksa mencintai batik”.
Persoalannya adalah bagaimana memberikan mereka lebih banyak pengalaman bersama batik.
Dari “Harus Memakai” Menjadi “Ingin Memiliki”
Di sinilah pendidikan memiliki peran penting.
Anak muda tidak cukup hanya diberi pengetahuan bahwa batik adalah warisan budaya.
Mereka perlu mengalami budaya.
Mereka dapat bertemu pembatik.
Mereka dapat mengetahui cerita di balik sebuah motif.
Mereka dapat mencoba membuat pola.
Mereka dapat mengunjungi sentra batik.
Mereka dapat berdiskusi dengan desainer muda.
Mereka dapat membuat konten tentang batik.
Mereka dapat mengembangkan desain kontemporer.
Mereka juga dapat menghubungkan batik dengan teknologi.
UNESCO bahkan mencatat adanya program pendidikan dan pelatihan batik di Pekalongan yang melibatkan siswa sekolah hingga politeknik sebagai praktik pelindungan warisan budaya.
Program tersebut lahir antara lain dari kekhawatiran bahwa minat generasi muda terhadap batik dapat menurun, sekaligus bertujuan meningkatkan pengetahuan, apresiasi, dan keterampilan generasi muda.
Artinya, pendidikan budaya bukan sekadar memberikan informasi.
Ia adalah proses membuat budaya dapat dialami dan diwariskan.
Batik Boleh Berubah, Asalkan Tidak Kehilangan Cerita
Kita mungkin perlu menerima satu kenyataan.
Batik yang dikenakan anak muda 20 tahun mendatang mungkin tidak akan terlihat persis seperti batik yang dikenakan orang tua kita hari ini.
Dan itu tidak otomatis berarti budaya kita hilang.
Budaya memang mengalami perubahan.
UNESCO sendiri menyatakan bahwa batik Indonesia terus berkembang tanpa kehilangan makna tradisionalnya.
Oleh karena itu, modernisasi batik tidak harus dipandang sebagai ancaman.
Cutting yang lebih modern, warna yang lebih beragam, desain yang lebih sederhana, atau penggunaan batik dalam gaya sehari-hari dapat menjadi jalan agar generasi baru merasa:
“Ini masih budaya saya, tetapi saya bisa menggunakannya dengan cara saya.”
Tantangannya adalah memastikan bahwa modernisasi tidak memutus hubungan dengan pengetahuan dan makna yang menjadi akarnya.
Jadi, Apakah Anak Muda Masih Mencintai Batik?
Mungkin pertanyaannya perlu diubah.
Bukan:
“Apakah anak muda masih cinta batik?”
Tetapi:
“Dalam bentuk seperti apa anak muda ingin memiliki batik?”
Karena dari jawaban beberapa anak muda urban yang saya temui, tampak bahwa hubungan mereka dengan batik tidak sesederhana suka atau tidak suka.
Ada yang nyaman.
Ada yang kurang nyaman.
Ada yang menyukai motif tertentu.
Ada yang menyukai desain modern.
Ada yang tetap menghargai batik meskipun tidak sering mengenakannya.
Dan ada pula yang masih menganggapnya sebagai pakaian untuk pergi kondangan atau special occasion.
Semua jawaban tersebut justru memberi kita bahan untuk berdialog.
Sebab, pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan cara lama secara persis.
Kadang-kadang, pelestarian justru berarti memberikan kesempatan kepada generasi baru untuk menemukan cara mereka sendiri dalam mencintai sesuatu yang diwariskan kepada mereka.
Hari ini, 2 Oktober, mungkin kita akan kembali mengenakan batik.
Tidak apa-apa jika motif pilihan kita berbeda.
Tidak apa-apa jika gaya kita berbeda.
Tidak apa-apa jika ada yang memilih batik klasik dan ada yang memilih batik kontemporer.
Yang penting, kita tidak berhenti pada kain yang melekat di tubuh.
Kita mencoba memahami cerita yang melekat di baliknya.
Sebab, pada akhirnya, budaya tidak hidup karena kita memakainya satu hari dalam setahun.
Budaya hidup ketika generasi berikutnya masih merasa bahwa budaya tersebut memiliki tempat dalam kehidupan mereka.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika seorang mahasiswa berkata:
“Bu, kalau pakai batik seperti mau kondangan,”
kita tidak perlu buru-buru membantahnya.
Kita cukup bertanya:
“Kalau begitu, batik seperti apa yang membuat kamu merasa, ‘ini saya banget’?”
Mungkin dari jawaban itulah masa depan batik justru sedang dimulai.
Daftar Pustaka
Hassan, F. (1993). Renungan budaya. Balai Pustaka.
Koentjaraningrat. (2008). Kebudayaan, mentalitas dan pembangunan. Gramedia Pustaka Utama.
Markus, H. R., & Kitayama, S. (1991). Culture and the self: Implications for cognition, emotion, and motivation. Psychological Review, 98(2), 224–253. https://doi.org/10.1037/0033-295X.98.2.224
UNESCO. (2009). Indonesian Batik. Intangible Cultural Heritage.
UNESCO. (2009). Education and training in Indonesian Batik intangible cultural heritage for elementary, junior, senior, vocational school and polytechnic students, in collaboration with the Batik Museum in Pekalongan.
Tentang Penulis
Rahmah Hastuti, S.Psi., M.Psi., Psikolog merupakan mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Atma Jaya, Jakarta, serta dosen tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda