Balikpapan, JurnalPost.com - Penjualan yang naik-turun kerap menjadi tantangan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di sektor kuliner. Saat momen hari raya atau musim liburan, pesanan bisa melonjak tajam. Namun, ketika memasuki bulan biasa, penjualan kembali sepi, stagnan, bahkan sulit berkembang.
Kondisi tersebut juga dialami Jaci Frozen Food, salah satu UMKM makanan beku rumahan di Balikpapan. Usaha ini menjual produk lauk praktis, higienis, dan halal yang sebenarnya memiliki potensi besar, terutama di tengah kebutuhan masyarakat kota industri yang membutuhkan makanan cepat saji namun tetap berkualitas.
Fenomena pasang surut penjualan itu kemudian menjadi objek penelitian yang dilakukan oleh Kinanthi Nur Afifah Anastasya Rusmawan dan Wirawan Endro Dwi Radianto dari Universitas Ciputra Surabaya. Riset tersebut berhasil menembus jurnal ilmiah Sinta 3.
Melalui pendekatan Business Model Canvas (BMC), penelitian itu mengungkap penyebab penjualan Jaci Frozen Food cenderung stagnan sejak akhir 2024 hingga 2025. Penjualan hanya meningkat pada momen-momen tertentu, seperti hari raya atau musim liburan.
Hasil riset menunjukkan, konsumen lokal di Balikpapan lebih nyaman berinteraksi dan berbelanja langsung melalui WhatsApp dan Instagram dibandingkan menggunakan platform e-commerce besar. Kanal tersebut dinilai lebih cepat, personal, dan mudah digunakan.
Namun, potensi tersebut belum dimaksimalkan secara optimal oleh Jaci Frozen Food. Penggunaan media sosial masih tergolong sederhana, konten belum konsisten, informasi promosi belum jelas, serta tampilan foto produk belum digarap secara maksimal.
Akibatnya, strategi pemasaran digital yang dijalankan belum mampu mendorong penjualan secara stabil. Omzet harian cenderung stagnan ketika tidak ada momentum musiman.
"Banyak pelaku UMKM yang terjebak tren ikut-ikutan bikin medsos tanpa paham pondasi bisnisnya. Lewat riset ini, kami ingin menunjukkan bahwa pemasaran digital harus diintegrasikan secara matang dengan kesiapan internal dan pelayanan yang cepat, bukan sekadar punya akun media sosial," kata Kinanthi selaku peneliti.
Dari riset tersebut, ada tiga strategi yang dapat diterapkan pelaku UMKM kuliner agar penjualan tidak hanya bergantung pada momentum musiman.
Pertama, mengelola WhatsApp dan Instagram secara lebih serius. Karena konsumen lokal lebih menyukai komunikasi langsung, pelaku UMKM perlu memastikan etalase Instagram berisi foto produk yang bersih, menarik, serta informasi penjualan yang jelas.
Kedua, meningkatkan kecepatan respons kepada pelanggan. Dalam ekosistem digital, konsumen cenderung tidak ingin menunggu lama. Pelayanan yang ramah, personal, dan cepat di WhatsApp dapat menjadi faktor penting untuk mendorong pembelian berulang.
Ketiga, menyiapkan promo khusus pada bulan-bulan sepi. Diskon atau program promosi tidak harus hanya dilakukan saat hari raya. Strategi promosi kreatif pada periode penjualan rendah dapat membantu menjaga grafik penjualan tetap stabil sepanjang tahun.
Penelitian ini menegaskan bahwa WhatsApp dan Instagram dapat menjadi kanal pemasaran yang efektif bagi UMKM. Namun, keduanya harus dikelola secara konsisten, responsif, dan terintegrasi dengan kesiapan bisnis secara menyeluruh.
Bagi pelaku UMKM, temuan ini bisa menjadi pengingat bahwa media sosial bukan sekadar tempat memajang produk. Lebih dari itu, media sosial dan layanan pesan langsung dapat menjadi pintu utama untuk membangun kepercayaan, memperluas pasar, dan menjaga keberlanjutan penjualan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda