Oleh: Sofie Zhafira Mahasiswi Hubungan Internasional - Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
JurnalPost.com - Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki aneka keberagaman seperti keberagaman budaya, suku, adat, dan juga agama. Islam adalah salah satu agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Indonesia, sehingga negara ini menjadi salah satu negara dengan umat Muslim terbanyak di dunia, dengan demikian tidak menutup kemungkinan bahwa Islam menjadi salah satu faktor dari terbentuknya sebuah kebijakan luar negeri Indonesia. Namun, Pemimpin suatu negara yang terus berganti akan menghasilkan kebijakan luar negeri yang berbeda-beda, begitu juga negara Indonesia.
Era Presiden Soekarno Pada awal kemerdekaan Indonesia, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatannya yang kemudian diikuti oleh negara-negara Arab lain dan organisasi regional yang mendukung kemerdekaan Indonesia karena adanya persamaan identitas muslim. Mesir adalah salah satu negara yang terletak di kawasan Timur Tengah yang identik dengan agama Islam, salah satu negaranya yaitu Palestina juga telah mendukung Indonesia untuk merdeka sejak lama, selain itu Indonesia juga dikenal memiliki hubungan yang cukup baik dengan negara-negara di kawasan tersebut. Selain melakukan diplomasi dengan negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah, Indonesia juga melakukan diplomasi dengan negara lain, salah satunya yaitu negara Pakistan, Indonesia juga memberikan dukungannya kepada negara tersebut atas dasar persamaan identitas Islam. Pada masa orde lama ini, Indonesia telah aktif dalam membangun hubungan dengan berbagai negara di dunia yang dilakukan demi mencapai kepentingan nasional saat itu yaitu untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari negara lain. Dengan demikian, dalam era kepemimpinannya yang lebih outward looking, Presiden Soekarno mungkin telah menjadikan Islam sebagai salah satu alat diplomasi Indonesia demi mencapai kepentingan nasionalnya dengan bantuan berbagai aktor yang terlibat.
Era Presiden Soeharto Berbeda dengan Presiden Soekarno yang melihat bahwa ancaman negara berasal dari lingkungan internasional, Presiden Soeharto melihat bahwa pada era kepemimpinannya ancaman bagi negara Indonesia ada dari lingkungan internal atau domestik. Dalam era kepemimpinan Presiden Soeharto, negara Indonesia terlihat lebih pasif dalam partisipasinya di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dibandingkan dengan forum internasional lainnya seperti GNB dan ASEAN. Pada masa Orde Baru ini para rezim juga seringkali mengacuhkan aspirasi umat Islam di Indonesia dalam beberapa kasus untuk menghindari adanya pandangan dari negara-negara Barat bahwa Indonesia memberikan ruang kepada kelompok Islam radikal. Dengan demikian faktor Islam pada era Presiden Soeharto tidak begitu berpengaruh dalam perumusan dan kebijakan luar negeri Indonesia.
Era Presiden Habibie Presiden Habibie resmi dilantik menjadi Presiden RI setelah Presiden Soeharto secara resmi melepaskan jabatannya sebagai Presiden RI di tahun 1998. Pada era kepemimpinannya, Presiden Habibie lebih banyak melakukan hubungan dengan lembaga keuangan internasional dan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dibandingkan dengan negara-negara yang identik dengan Islam di kawasan Timur Tengah, hal ini dilakukan demi mencapai kepentingan nasional Indonesia saat itu untuk memulihkan ekonomi domestik dengan dorongan dan bantuan dunia internasional dalam bentuk kerjasama dan lain-lain. Walaupun pada era kepemimpinannya memiliki banyak dukungan dari berbagai kelompok Islam, namun bisa disimpulkan bahwa faktor Islam tidak terlalu berpengaruh dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan luar negeri Indonesia saat itu.
Era Presiden Abdurrahman Wahid Presiden Abdurrahman Wahid resmi terpilih menjadi presiden dengan dukungan dari berbagai partai politik Islam seperti PPP, PKB dan lain-lain. Presiden Wahid sendiri merupakan sosok yang dikenal sebagai tokoh dari Nahdlatul Ulama yang merupakan salah satu organisasi Islam di Indonesia. Walaupun demikian, pada era kepemimpinannya, kebijakan luar negeri yang dilaksanakan oleh Indonesia tidaklah cenderung memihak kepada negara-negara Islam, hal ini karena para pemimpin harus melaksanakan kebijakan luar negeri atas prinsip bebas aktif untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Presiden Abdurrahman Wahid sempat memiliki rencana untuk membuka hubungan perdagangan dengan Israel, namun rencana itu gagal dilaksanakan karena menimbang adanya berbagai kecaman dan kritikan dari umat Muslim di Indonesia. Dengan demikian, faktor Islam dalam mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia pada era Presiden Wahid bersifat terbatas.
Era Presiden Megawati Presiden Megawati adalah Presiden perempuan pertama di Indonesia, yang pada era kepemimpinannya sangat mengutamakan kepentingan ekonomi dan politik Indonesia, Presiden Megawati juga berfokus untuk meningkatkan citra Indonesia di lingkungan internasional dengan cara melakukan berbagai upaya diplomasi dengan negara lain. Sejak awal era kepemimpinannya faktor Islam memang tidak memiliki posisi yang utama dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan luar negeri, hal ini juga terlihat dimana Presiden Megawati sangat jarang melakukan kunjungan ke negara-negara Arab di Timur Tengah pada saat itu. Namun setelah terjadinya peristiwa 9/11, Presiden Megawati telah memberikan ruang yang luas bagi faktor Islam di dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan luar negeri saat itu, khususnya untuk mengkonstruksi citra Islam moderat di Indonesia.
Era Presiden SBY Para era kepemimpinan Presiden SBY, keaktifan Indonesia dalam dunia internasional mulai meningkat. Pada saat itu terlihat bahwa faktor Islam memiliki pengaruh dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan luar negeri dimana Presiden SBY aktif dalam melakukan kegiatan diplomasi terhadap negara-negara Islam di dunia, aktif berperan dalam OKI, dan juga aktif dalam mempromosikan nilai-nilai Islam moderat dan demokrasi yang dilakukan dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah melakukan kerjasama dengan organisasi masyarakat Islam seperti Muhammadiyah dan NU.
Era Presiden Jokowi Pada era kepemimpinannya di tahun 2014-2019, Indonesia telah aktif melakukan berbagai upaya diplomasi dengan negara-negara Islam, pada tahun 2016 Indonesia telah tampil sebagai mediator dalam konflik Arab Saudi dan Iran, aktif dalam penyelesaian krisis kemanusiaan Muslim Rohingya di Myanmar, berperan sebagai fasilitator perdamaian terhadap Afghanistan, serta aktif dalam OKI, KAA, dan PBB. Selain itu dalam era ini, Indonesia juga tetap konsisten untuk terus memberikan bantuan kepada Palestina baik secara teknis maupun non-teknis, dengan demikian faktor Islam ikut berpengaruh dengan batas-batas tertentu dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan luar negeri Indonesia pada saat itu.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda