Jakarta, JurnalPost.com – Indonesia dan China terus menjajaki peluang kerja sama di bidang pertanian melalui kunjungan Kementerian Transmigrasi (Kementrans) RI bersama Kedutaan Besar China untuk Indonesia ke kawasan pengembangan transmigrasi Salor, Provinsi Papua Selatan.
Dalam keterangan resminya, Kementrans menyebut kedua negara berencana berkolaborasi membangun pusat riset padi dan sekolah vokasi pertanian di Salor. Program ini ditujukan untuk mendukung swasembada pangan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat di Papua Selatan.
Menteri Transmigrasi RI, M Iftitah Sulaiman, bersama Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, mengunjungi kawasan transmigrasi Salor pada Selasa (2/6). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penjajakan kerja sama strategis antara Indonesia dan China di sejumlah sektor.
Selain pusat riset padi dan pendidikan vokasi, kedua pihak juga membahas peluang pengembangan industri pendukung pertanian. Salah satunya potensi pembangunan fasilitas produksi alat dan mesin pertanian di Merauke.
Rencana tersebut muncul seiring adanya masukan dari pemerintah setempat terkait kebutuhan fasilitas perbaikan alat-alat pertanian. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung produktivitas pertanian masyarakat dan memperkuat kawasan pangan di Papua Selatan.
Kawasan transmigrasi Salor memiliki luas sekitar 40.000 hektare dan dikenal sebagai salah satu sentra produksi pangan di Papua Selatan. Dengan dukungan teknologi, infrastruktur, serta kerja sama internasional, kawasan ini dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Salor menjadi lokasi pertama dalam agenda kunjungan bersama Kementrans dan Kedubes China ke empat kawasan transmigrasi. Setelah Papua Selatan, rombongan dijadwalkan mengunjungi Raja Ampat di Papua Barat Daya, Halmahera Utara di Maluku Utara, dan Manggarai Barat di Nusa Tenggara Timur.
Kementrans menyebut penjajakan kerja sama dengan China tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi juga mencakup pengentasan kemiskinan, pendidikan vokasi, perdagangan, investasi, serta pengembangan pariwisata.
Agenda tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama kedua pihak setelah sebelumnya Kementrans mengirim 36 peserta ke China. Peserta tersebut terdiri atas pegawai Kementrans hingga akademisi untuk mempelajari pengalaman China dalam pengembangan kawasan transmigrasi dan pengentasan kemiskinan. (Xinhua).
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda