Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. Hacking dari Sudut Pandang Psikologi

Hacking dari Sudut Pandang Psikologi

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
25 April 2021, 01.59 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Hacking dari Sudut Pandang Psikologi

JURNALPOST - Di masa kini, penggunaan teknologi, media sosial, dan media daring semakin berkembang pesat. Dengan kemajuan komputer dan telekomunikasi, banyak masyarakat individu dan bisnis-bisnis yang bergantung pada media daring untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Perkembangan teknologi memang memberikan dampak yang baik bagi masyarakat seperti mudahnya mengerjakan tugas dan efisiensi dalam berkomunikasi. Namun, perkembangan ini juga membawa banyak dampak buruk terhadap masyarakat, salah satunya adalah bertambahnya aktivitas kriminal siber atau cyber crime yang disebabkan oleh penyalahgunaan teknologi dan anonimitas dunia maya yang membuat orang berani untuk melakukan kejahatan itu. Salah satu cyber crime yang berkembang saat ini adalah aktivitas hacking.

Hacking atau peretasan adalah kegiatan yang mengandalkan ketergantungan komputer, jaringan, dan internet. Orang-orang yang terlibat dalam aktivitas hacking disebut dengan hacker atau peretas. Biasanya, mereka berawal dari programmer yang luar biasa dalam bidang ilmu komputer. Hacking atau peretasan didefinisikan sebagai upaya untuk mendapatkan penggunaan atau akses yang tidak sah ke dalam sistem komputer. Hal ini dianggap sebagai suatu kriminalitas karena informasi yang didapatkan dari sistem komputer itu bisa berupa informasi pribadi seseorang yang tidak berhak diakses oleh orang lain. Informasi pribadi ini juga dapat dijual secara ilegal sebagai bentuk pemerasan yang dikenal sebagai blackmailing.

IKLAN

Untuk mengatasi aktivitas kriminal ini, salah satu hal yang harus dilakukan pertama kali adalah memahami perilaku hacking dan hubungannya dengan teori-teori psikologi. Dengan peninjauan dari sudut pandang psikologi, kita dapat mengetahui penyebab dilakukannya hacking dan mengapa hacking berkembang pesat meskipun ilegal. Nah, salah satu pendekatan yang dapat dianalisa untuk memahami hacking dari sudut pandang psikologi adalah dengan teori pembelajaran sosial yang dicetuskan oleh salah satu tokoh terkenal psikologi, Albert Bandura.

Seseorang berbaring di lantai dengan kaki bertumpu pada kursi putar tua, menggambarkan rasa enggan memulai pekerjaan.
Baca Juga

Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri

Dalam bidang psikologi dan kriminologi, teori pembelajaran sosial dianggap memiliki kemungkinan terbaik untuk memberikan pemahaman tentang hacking. Teori pembelajaran sosial dalam psikologi dikembangkan oleh Albert Bandura dalam pendekatannya tentang pemodelan dan imitasi. Bandura mengatakan bahwa perilaku dapat dipelajari dari mengamati perilaku orang lain. Bandura percaya bahwa orang mampu membayangkan diri mereka dalam situasi yang sama yang diperlihatkan padanya, dan menghasilkan hasil yang serupa. Setelah perilaku dipelajari, perilaku dapat diperkuat ataupun dihukum tergantung dari konsekuensi yang dialami. Selain itu, Bandura juga fokus pada beberapa konsep dari teori pengkondisian operan yaitu penguatan, hukuman, dan motivasi.Inti dari teori pembelajaran sosial, yang pertama, adalah individu akan memperhatikan dan meniru tingkah laku orang-orang yang ada disekitarnya. Kedua, orang-orang di sekitar individu akan menanggapi perilaku yang ditirunya dengan penguatan atau hukuman. Jika seorang individu meniru perilaku model dan mendapatkan konsekuensi yang menguntungkan, individu tersebut kemungkinan akan terus melakukan perilaku tersebut. Sebaliknya, jika perilaku individu tersebut diberi hukuman, kemungkinan ia akan belajar bahwa perilakunya ini tidak baik dan tidak mengulanginya lagi.

IKLAN

Nah, teori pembelajaran sosial dan penguatan tampaknya tepat untuk meneliti perilaku hacking daripada teori tradisional lainnya. Dapat dilihat dari perilaku hacker yang cenderung berasosiasi dengan individu lain yang juga terlibat dalam perilaku hacking. Asosiasi ini dapat berbentuk elektronik murni, seperti dalam bentuk obrolan online, atau bergabung dengan klub peretas. Beberapa klub peretas yang ada di Amerika Serikat adalah Cult of the Dead Cow (CDC) dan Legion of Doom. Para hacker bahkan mengadakan konvensi-konvensi seperti “Defcon” yang diadakan di Las Vegas. Disini konvensi-konvensi ini mereka berbagi ide, teknik, dan informasi intelijen untuk menguatkan kemampuan mereka dalam hacking. Klub peretas, konvensi-konvensi, dan individu yang memberi respons positif terhadap peretas disebut sebagai “model” dalam teori Bandura, yaitu individu atau kelompok yang diobservasi, yang menguatkan perilaku sehingga di imitasi.

Para peretas terus melakukan kegiatan ini karena mereka berasosiasi dengan kelompok yang menampakkan respons yang positif terhadap kegiatan tersebut, sehingga menguatkan perilaku. Penguatan kegiatan hacking juga terus berlanjut karena para peretas mendapatkan berbagai penguatan dari kegiatannya seperti peningkatan pengetahuan, prestise dalam komunitas peretasan, dan merasa puas jika berhasil melakukan peretasan. Sering kali, seorang hacker melihat peretasan ini sebagai suatu game sehingga mendapat kepuasan jika berhasil melakukannya dengan baik.Selain itu, konsekuensi negatif yang seharusnya didapatkan oleh seorang hacker, seperti penangkapan, belum dijalani dengan baik oleh penegak hukum. Hukuman yang diberikan kepada para peretas masih kurang tegas sehingga tidak bisa melemahkan perilaku seperti yang dijelaskan dalam teori pembelajaran sosial. Remaja di bawah umur yang melakukan peretasan biasanya hanya diberikan alternative measures dimana mereka tidak sampai diproses di pengadilan dan hanya dituntut untuk bertanggung jawab atas perlakuannya itu. Sedangkan orang dewasa hanya diberikan conditional discharge atau pembebasan bersyarat dimana mereka dibebaskan dan pelanggarannya hanya dicatat dalam catatan kriminal mereka. Tidak ada tindakan lebih lanjut yang diambil kecuali mereka melakukan pelanggaran lebih lanjut dalam waktu yang diputuskan oleh pengadilan (biasanya dalam waktu tiga tahun kedepan).

Kesimpulannya, kegiatan peretasan menjadi topik yang relatif baru di kalangan masyarakat sehingga belum banyak teori psikologi yang menjelaskan secara spesifik mengenai perilaku peretasan. Salah satu teori yang paling mungkin digunakan untuk menjelaskan aktivitas ini adalah teori pembelajaran sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura, yang berfokus pada aspek peniruan dan penguatan tingkah laku. Para hacker terus melakukan kegiatan ini karena berasosiasi dengan kelompok yang memandang kegiatan ini dengan respons positif dan sering kali mendapatkan penguatan untuk terus melakukan perilaku seperti meningkatnya pengetahuan, prestise, dan kepuasan tersendiri.

Mifta Nur Khasanah
Baca Juga

Barangkali Kita Hanya Takut Tidak Lagi Disukai

Penulis: Jaza Nabila Taufik/Mahasiswa Psikologi Universitas Syiah Kuala

Daftar Pustaka Rogers, Marcus K. 2001. A Social Learning Theory and Moral Disengagement Analysis of Criminal Computer Behavior: An Exploratory Study. Department of Psychology University of Manitoba Winnipeg, Manitoba. Rogers, Marc. 2001. Psychological Theories of Crime and “Hacking”. Department of Psychology, University of Manitoba.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/hacking-dari-sudut-pandang-psikologi/19953/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.55 WITA

  • #hacker
  • #hacking
  • #psikologi

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Pilihan Editor

  1. 1 Biaya yang Tak Masuk Inflasi
  2. 2

    Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

  3. 3

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  4. 4

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  5. 5

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.