JURNALPOST - Di masa kini, penggunaan teknologi, media sosial, dan media daring semakin berkembang pesat. Dengan kemajuan komputer dan telekomunikasi, banyak masyarakat individu dan bisnis-bisnis yang bergantung pada media daring untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Perkembangan teknologi memang memberikan dampak yang baik bagi masyarakat seperti mudahnya mengerjakan tugas dan efisiensi dalam berkomunikasi. Namun, perkembangan ini juga membawa banyak dampak buruk terhadap masyarakat, salah satunya adalah bertambahnya aktivitas kriminal siber atau cyber crime yang disebabkan oleh penyalahgunaan teknologi dan anonimitas dunia maya yang membuat orang berani untuk melakukan kejahatan itu. Salah satu cyber crime yang berkembang saat ini adalah aktivitas hacking.
Hacking atau peretasan adalah kegiatan yang mengandalkan ketergantungan komputer, jaringan, dan internet. Orang-orang yang terlibat dalam aktivitas hacking disebut dengan hacker atau peretas. Biasanya, mereka berawal dari programmer yang luar biasa dalam bidang ilmu komputer. Hacking atau peretasan didefinisikan sebagai upaya untuk mendapatkan penggunaan atau akses yang tidak sah ke dalam sistem komputer. Hal ini dianggap sebagai suatu kriminalitas karena informasi yang didapatkan dari sistem komputer itu bisa berupa informasi pribadi seseorang yang tidak berhak diakses oleh orang lain. Informasi pribadi ini juga dapat dijual secara ilegal sebagai bentuk pemerasan yang dikenal sebagai blackmailing.
Untuk mengatasi aktivitas kriminal ini, salah satu hal yang harus dilakukan pertama kali adalah memahami perilaku hacking dan hubungannya dengan teori-teori psikologi. Dengan peninjauan dari sudut pandang psikologi, kita dapat mengetahui penyebab dilakukannya hacking dan mengapa hacking berkembang pesat meskipun ilegal. Nah, salah satu pendekatan yang dapat dianalisa untuk memahami hacking dari sudut pandang psikologi adalah dengan teori pembelajaran sosial yang dicetuskan oleh salah satu tokoh terkenal psikologi, Albert Bandura.
Dalam bidang psikologi dan kriminologi, teori pembelajaran sosial dianggap memiliki kemungkinan terbaik untuk memberikan pemahaman tentang hacking. Teori pembelajaran sosial dalam psikologi dikembangkan oleh Albert Bandura dalam pendekatannya tentang pemodelan dan imitasi. Bandura mengatakan bahwa perilaku dapat dipelajari dari mengamati perilaku orang lain. Bandura percaya bahwa orang mampu membayangkan diri mereka dalam situasi yang sama yang diperlihatkan padanya, dan menghasilkan hasil yang serupa. Setelah perilaku dipelajari, perilaku dapat diperkuat ataupun dihukum tergantung dari konsekuensi yang dialami. Selain itu, Bandura juga fokus pada beberapa konsep dari teori pengkondisian operan yaitu penguatan, hukuman, dan motivasi.Inti dari teori pembelajaran sosial, yang pertama, adalah individu akan memperhatikan dan meniru tingkah laku orang-orang yang ada disekitarnya. Kedua, orang-orang di sekitar individu akan menanggapi perilaku yang ditirunya dengan penguatan atau hukuman. Jika seorang individu meniru perilaku model dan mendapatkan konsekuensi yang menguntungkan, individu tersebut kemungkinan akan terus melakukan perilaku tersebut. Sebaliknya, jika perilaku individu tersebut diberi hukuman, kemungkinan ia akan belajar bahwa perilakunya ini tidak baik dan tidak mengulanginya lagi.
Nah, teori pembelajaran sosial dan penguatan tampaknya tepat untuk meneliti perilaku hacking daripada teori tradisional lainnya. Dapat dilihat dari perilaku hacker yang cenderung berasosiasi dengan individu lain yang juga terlibat dalam perilaku hacking. Asosiasi ini dapat berbentuk elektronik murni, seperti dalam bentuk obrolan online, atau bergabung dengan klub peretas. Beberapa klub peretas yang ada di Amerika Serikat adalah Cult of the Dead Cow (CDC) dan Legion of Doom. Para hacker bahkan mengadakan konvensi-konvensi seperti “Defcon” yang diadakan di Las Vegas. Disini konvensi-konvensi ini mereka berbagi ide, teknik, dan informasi intelijen untuk menguatkan kemampuan mereka dalam hacking. Klub peretas, konvensi-konvensi, dan individu yang memberi respons positif terhadap peretas disebut sebagai “model” dalam teori Bandura, yaitu individu atau kelompok yang diobservasi, yang menguatkan perilaku sehingga di imitasi.
Para peretas terus melakukan kegiatan ini karena mereka berasosiasi dengan kelompok yang menampakkan respons yang positif terhadap kegiatan tersebut, sehingga menguatkan perilaku. Penguatan kegiatan hacking juga terus berlanjut karena para peretas mendapatkan berbagai penguatan dari kegiatannya seperti peningkatan pengetahuan, prestise dalam komunitas peretasan, dan merasa puas jika berhasil melakukan peretasan. Sering kali, seorang hacker melihat peretasan ini sebagai suatu game sehingga mendapat kepuasan jika berhasil melakukannya dengan baik.Selain itu, konsekuensi negatif yang seharusnya didapatkan oleh seorang hacker, seperti penangkapan, belum dijalani dengan baik oleh penegak hukum. Hukuman yang diberikan kepada para peretas masih kurang tegas sehingga tidak bisa melemahkan perilaku seperti yang dijelaskan dalam teori pembelajaran sosial. Remaja di bawah umur yang melakukan peretasan biasanya hanya diberikan alternative measures dimana mereka tidak sampai diproses di pengadilan dan hanya dituntut untuk bertanggung jawab atas perlakuannya itu. Sedangkan orang dewasa hanya diberikan conditional discharge atau pembebasan bersyarat dimana mereka dibebaskan dan pelanggarannya hanya dicatat dalam catatan kriminal mereka. Tidak ada tindakan lebih lanjut yang diambil kecuali mereka melakukan pelanggaran lebih lanjut dalam waktu yang diputuskan oleh pengadilan (biasanya dalam waktu tiga tahun kedepan).
Kesimpulannya, kegiatan peretasan menjadi topik yang relatif baru di kalangan masyarakat sehingga belum banyak teori psikologi yang menjelaskan secara spesifik mengenai perilaku peretasan. Salah satu teori yang paling mungkin digunakan untuk menjelaskan aktivitas ini adalah teori pembelajaran sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura, yang berfokus pada aspek peniruan dan penguatan tingkah laku. Para hacker terus melakukan kegiatan ini karena berasosiasi dengan kelompok yang memandang kegiatan ini dengan respons positif dan sering kali mendapatkan penguatan untuk terus melakukan perilaku seperti meningkatnya pengetahuan, prestise, dan kepuasan tersendiri.
Penulis: Jaza Nabila Taufik/Mahasiswa Psikologi Universitas Syiah Kuala
Daftar Pustaka Rogers, Marcus K. 2001. A Social Learning Theory and Moral Disengagement Analysis of Criminal Computer Behavior: An Exploratory Study. Department of Psychology University of Manitoba Winnipeg, Manitoba. Rogers, Marc. 2001. Psychological Theories of Crime and “Hacking”. Department of Psychology, University of Manitoba.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda