JURNALPOST.COM - Jelang pelaksanaan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar yang salah satu agendanya yaitu pemilihan ketua umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, beredar isu yang menyebut bahwa setiap satu suara Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar dalam pemilihan ketua umum DPP Partai Golkar pada Munaslub mendatang dihargai senilai USD10.000.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel), Syahrul Yasin Limpo, yang juga akan maju dalam bursa pemilihan ketua umum DPP Partai Golkar, dengan tegas mengatakan, jika hal itu terjadi Partai Golkar bisa hancur.
"Itu yang tidak boleh terjadi, bisa hancur Golkar kalau seperti itu. kalau Golkar hancur, maka ada kekuatan negara yang tersumbat," tegas Syahrul.
Hal ini karena Partai Golkar dikatakannya adalah sebuah partai besar yang infrastrukturnya berada sampai di tingkat desa dan siap bekerja, sehingga sangat disayangkan kalau sampai distigmakan harus dengan aksi bayar-membayar.
"Sayang banget kalau partai ini distigmakan harus bayar, dan Syahrul pasti tidak bisa kalau harus bayar," ujarnya.
Partai Golkar disebutnya sebagai partai besar yang ikut menentukan keputusan-keputusan penting di negeri ini, sehingga banyak pihak-pihak yang berusaha merebut Partai Golkar dengan berbagai cara, termasuk cara-cara yang tidak sesuai dengan etika dan menyimpang dari ideologi partai.
"Menentukan harga sembako, minyak, gula, berapa standar pembayaran transportasi, dan kebijakan penting laiinya itu tidak ditentukan oleh partai kah? Oleh karena itu partai penting dan harus dipimpin oleh orang-orang yang punya pikiran untuk negara, untuk rakyat, apalagi kalau dia partai besar yang punya infrastruktur yang kuat, pemenang, bahkan dia harus bisa menghadirkan kebijakan partai yang berpihak pada rakyat, bagaimana mengarahkan kebijakan negara untuk berada di kawasan timur agar Papua, Sulawesi bisa terbangun. Itu penting karena masa depan Indonesia ada di timur. Kita punya minyak, emasn nikel dan sumberdaya alam lainnya," paparnya.
Terkait peluangnya dalam pemilihan ketua umum Partai Golkar pada Munaslub mendatang, walaupun sebagai underdog, tetapi ia mengaku tetap optimis bisa menyaingi calon-calon ketua umum yang lain.
"Syahrul underdog lah. Syahrul berada di posisi yang paling di bawah dari semua calon. Tetapi orang Sulsel harus optimistis. Karena itu, walaupun barangkali dari bentuk penggalangan dan manajemen Munas saya paling rendah, tapi tidak apa-apa. Yang rendah biasanya jadi juara kan?," ujarnya.
Syahrul juga mengaku tidak menjanjikan apa-apa kepada DPD Partai Golkar dan segenap kader partai Golkar agar mau memberikan dukungan dan memilihnya sebagai ketua umum DPP Partai Golkar.
"Saya tidak menjanjikan apa-apa, tapi kalau kau punya idealisme, kau mau menyusun konsep bagaimana Golkar ke depannya, datang ke sini kita bicara sama-sama," ungkapnya.
Terkait syarat dukungan dari DPD yang jumlahnya minimal harus mencapai 30 persen dari jumlah total pemilik suara pada Munaslub yang berjumlah 560 DPD, Syahrul dengan santai mengatakan, silahkan tunggu tanggal mainnya.
"Orang bilang kalau Syahrul bisa dapat 50 suara DPD II, itu sudah hebat, karena suara-suara DPD yang lain sudah diambil semua mi dengan calon lain. Sekarang ini sudah ada yang klaim dukungannya 1000 lebih mi, padahal total jumlah suara cuma 560 ji. Berapa mi dukungannya Syahrul? Tunggu tanggal mainnya, kita buktikan," ucapnya.
Untuk rencana konsolidasi akbar yang dilaksanakannya pada tanggal 25 - 26 Februari mendatang, Syahrul mengaku pengurus DPD partai Golkar yang menyatakan siap hadir terus berkembang.
"Berkembang terus yang mau hadir, terakhir saya dapat konfirmasi lahi dari Aceh, Kalbar, dan beberapa daerah lain. Yang saya undang ke sini cuma yang punya idealisme untuk negara. Saya undang dia datang, dan yang saya undang adalah orang yang tidak dibayar-bayar," tutupnya. (fo)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda