Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Program MOVEPLAY Hadirkan Inovasi Gamifikasi untuk Kurangi Perilaku Sedentari Santri

  2. Dua Tahun Prabowo Gibran Memperkuat Swasembada Pangan Berkelanjutan dan Pertanian

  3. Di Antara Nilai Budaya dan Kesehatan Mental: Mengapa Tidak Semua Luka Berani Diceritakan?

  4. AI vs Ilustrator: Perubahan Kompetensi yang Dibutuhkan Tenaga Kerja Kreatif di Era Digital

  5. Bisnis Laris atau Ibu Kelelahan: Akankah Work-Life Balance dan Risiko Burnout Menentukan Keberlanjutan Usaha Mompreneur?

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Gillnet: Jaring Sederhana, Penopang Hidup Nelayan Indonesia

Gillnet: Jaring Sederhana, Penopang Hidup Nelayan Indonesia

N
Penulis: Nurani Khoerunnisa
23 Oktober 2026, 11.51 WITA • Editor: Annisa
5 menit baca
Sunrise Gillnet Fishing Duo
Nelayan tradisional menarik gillnet atau jaring insang untuk menangkap ikan di perairan laut. Alat tangkap ini menjadi salah satu penopang mata pencaharian nelayan Indonesia. (Ilustrasi AI/JurnalPost.com)

JurnalPost.com - Di tengah beragamnya teknologi penangkapan ikan, gillnet atau jaring insang tetap menjadi salah satu alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan Indonesia. Konstruksinya sederhana, pengoperasiannya relatif mudah, dan penggunaannya dapat disesuaikan dengan kondisi perairan serta jenis ikan yang menjadi sasaran. Bagi nelayan skala kecil, gillnet bukan sekadar perlengkapan melaut, melainkan bagian penting dari strategi memperoleh hasil tangkapan dan menopang kehidupan keluarga.

Secara teknis, gillnet merupakan alat tangkap berbentuk persegi panjang yang terdiri atas badan jaring, tali ris atas, tali ris bawah, pelampung, dan pemberat. Berdasarkan cara pengoperasiannya, alat tangkap ini dibedakan menjadi jaring insang tetap (fixed gillnet) dan jaring insang hanyut (drift gillnet). Jaring insang tetap dipasang pada posisi tertentu di perairan, sedangkan jaring insang hanyut dibiarkan bergerak mengikuti arus atau pergerakan perairan sesuai metode pengoperasiannya.

IKLAN

Nama gillnet berasal dari kata gill yang berarti insang dan net yang berarti jaring. Penamaan tersebut berkaitan dengan prinsip penangkapan ikan, yakni menjerat ikan pada bagian kepala atau tubuh, terutama di sekitar insang. Ketika ikan melewati mata jaring dengan ukuran yang sesuai, ikan dapat tersangkut dan sulit melepaskan diri. Mekanisme ini membuat gillnet dapat digunakan untuk menangkap berbagai jenis ikan, termasuk ikan pelagis yang hidup di kolom perairan.

Trading Floor Market Plunge
Baca Juga

Karma BEI atau Bukan? Ketika IHSG Anjlok dan Krisis Transparansi Pasar Modal

Beberapa jenis ikan yang kerap menjadi sasaran gillnet antara lain ikan layur, kembung, dan layang. Namun, keberhasilan penangkapan tidak hanya ditentukan oleh jenis alat tangkap. Ukuran mata jaring, lokasi pemasangan, kondisi cuaca, arus, serta musim penangkapan turut memengaruhi jumlah dan jenis ikan yang diperoleh. Karena itu, pengetahuan nelayan mengenai karakteristik perairan dan perilaku ikan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan operasi penangkapan.

Selain memiliki variasi dalam metode pengoperasian, gillnet juga mempunyai perbedaan berdasarkan jumlah lapisan jaring. Jaring insang satu lapis memiliki konstruksi yang relatif sederhana. Sementara itu, jaring insang tiga lapis dikenal sebagai trammel net, yang terdiri atas dua lapisan luar bermata jaring lebih besar dan satu lapisan dalam bermata jaring lebih kecil. Susunan tersebut memungkinkan ikan tertangkap melalui mekanisme berbeda, termasuk ketika jaring membentuk kantong setelah ikan menembus lapisan-lapisannya.

Gambaran penggunaan gillnet dapat ditemukan di Pangandaran, Jawa Barat, yang memiliki aktivitas perikanan tangkap dengan karakteristik lokal tersendiri. Nelayan setempat mengenal jenis alat tangkap seperti jaring ciker. Pengetahuan mengenai musim ikan juga menjadi bagian penting dalam kegiatan melaut. Salah satu contohnya adalah penangkapan ikan layur yang dikenal melimpah pada periode tertentu, termasuk sekitar September berdasarkan pengalaman sebagian nelayan setempat.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kegiatan perikanan tangkap tidak hanya bergantung pada alat dan teknologi, tetapi juga pada pengetahuan lokal yang berkembang melalui pengalaman. Nelayan mempelajari waktu yang tepat untuk melaut, menentukan lokasi pemasangan jaring, dan menyesuaikan strategi berdasarkan perubahan hasil tangkapan.

Laughter at Her Expense
Baca Juga

Bercanda tentang Suku: Ketika Humor Memperkuat Prasangka

Dalam bahasa lokal, bagian tali ris atas dan tali ris bawah pada gillnet dikenal dengan sebutan “eris”. Istilah ini memperlihatkan hubungan erat antara teknologi penangkapan ikan, identitas, dan kebiasaan masyarakat pesisir.

Namun, popularitas gillnet perlu diimbangi dengan perhatian terhadap keberlanjutan sumber daya ikan. Penggunaan mata jaring yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko tertangkapnya ikan berukuran kecil atau jenis ikan bukan sasaran. Jaring yang hilang atau ditinggalkan di laut juga berpotensi terus menangkap organisme laut.

Oleh sebab itu, nelayan perlu menggunakan ukuran mata jaring yang sesuai, mematuhi ketentuan perikanan, serta mengelola dan merawat alat tangkap agar tidak menjadi sumber pencemaran laut.

IKLAN

Persoalan tersebut berkaitan langsung dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14: Life Below Water atau Ekosistem Lautan. Tujuan ini mendorong konservasi dan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Bank Indonesia Officials in Boardroom
Baca Juga

BI-Rate Bertahan, Mengapa Keran Likuiditas Justru Dibuka?

Salah satu targetnya, yaitu Target 14.4, menekankan pengaturan penangkapan ikan berbasis ilmu pengetahuan, pencegahan penangkapan berlebih, serta pemberantasan praktik penangkapan ikan ilegal dan merusak. Sementara itu, Target 14.b menekankan pentingnya akses nelayan skala kecil terhadap sumber daya laut dan pasar.

Dengan demikian, keberlanjutan perikanan perlu berjalan beriringan dengan perlindungan mata pencaharian nelayan (United Nations, SDG 14).

Penerapan SDG 14 dalam kegiatan perikanan tidak cukup berhenti pada kampanye menjaga laut. Pemerintah, penyuluh perikanan, peneliti, dan kelompok nelayan perlu memperkuat pengelolaan perikanan berbasis ekosistem.

Informasi mengenai musim ikan, perubahan hasil tangkapan, ukuran ikan, dan kondisi lingkungan perlu dicatat serta dipadukan dengan data ilmiah. Nelayan juga perlu memperoleh pendampingan dan akses pasar yang memadai agar praktik penangkapan berkelanjutan tidak menjadi beban ekonomi bagi mereka.

Pada akhirnya, gillnet layak disebut sebagai salah satu alat tangkap andalan nelayan Indonesia karena konstruksinya sederhana, penggunaannya fleksibel, dan jenis ikan yang dapat ditangkap cukup beragam. Namun, keberhasilan perikanan tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya ikan yang dibawa pulang. Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, kelestarian ekosistem, dan keberlanjutan mata pencaharian.

Gillnet dapat terus menjadi penopang kehidupan nelayan apabila digunakan secara bertanggung jawab. Sejalan dengan SDG 14, menjaga laut bukan berarti menghentikan kegiatan penangkapan ikan, melainkan memastikan sumber daya laut tetap tersedia bagi generasi mendatang.

Nelayan yang sejahtera dan laut yang lestari harus menjadi dua tujuan yang berjalan bersama.

Tentang Penulis : Nurani Khoerunnisa merupakan dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran. Ia memiliki perhatian terhadap bidang perikanan, khususnya teknologi penangkapan ikan, pemanfaatan sumber daya laut, serta pentingnya praktik perikanan berkelanjutan untuk mendukung kesejahteraan nelayan dan kelestarian ekosistem laut.


ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/gillnet-jaring-sederhana-penopang-hidup-nelayan-indonesia/98315/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 26 Oktober 2026, 23.49 WITA

  • #alat tangkap ikan
  • #ekosistem laut
  • #gillnet
  • #jaring insang
  • #nelayan indonesia
  • #perikanan berkelanjutan
  • #sdg 14

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Perempuan Berkuasa, Mengapa yang Dibahas Gaya Bicaranya?

Satu Undang-Undang, Dua Pintu Pelaporan? Menguji SK Ketua KKI dalam Semangat Omnibus Law Kesehatan

Relativisme di Era Modern: Di Tengah Banjir Informasi, Masihkah Kita Bisa Menemukan Kebenaran?

98 Tahun Sumpah Pemuda dan Potret Bela Negara Para Pemuda

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

AI vs Ilustrator: Perubahan Kompetensi yang Dibutuhkan Tenaga Kerja Kreatif di Era Digital

Kolaborasi Sekolah dan Fakultas Kedokteran: Membuka Wawasan tentang Dunia Mikroba

Ronald Dewa Rilis 'Salah Mencinta', Kisah Cinta Tulus yang Berakhir Luka

Tak Lagi Repot Cari Uang Kembalian, Pedagang di Bojonegoro Mulai Terbiasa Gunakan QRIS BRI

Pilihan Editor

  1. 1 BI-Rate Bertahan, Mengapa Keran Likuiditas Justru Dibuka?
  2. 2

    Kabut Asap dan Rasa Aman Anak

  3. 3

    Ketika Perempuan Berkuasa, Mengapa yang Dibahas Gaya Bicaranya?

  4. 4

    Mahasiswa Untag Surabaya Soroti KDRT dan Buruknya Komunikasi sebagai Persoalan dalam Perceraian

  5. 5

    Jika Bisa Mengulang Hidup, Akankah Kita Memilih Jalan yang Sama?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.