Penulis: Muhammad Alfan Wildani, S.E., M.M. Mahasiswa Program Doktor Ekonomi Syariah, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
JurnalPost.com - Tahun 2026 merupakah tahun yang penuh tantangan bagi Indonesia, hal tersebut tentunya mengacu pada ketidakpastian geopolitik dunia beserta turunannya. Awal tahun dibuka dengan adanya konflik antara Amerika-Israel dengan Iran, yang pada akhirnya membuat adanya kebijakan Iran untuk menutup selat Hormuz yang berkontribusi pada jalur distribusi 20% minyak global. Hal tersebut meningkatkan harga minyak dunia dari interval 65-70 USD/Barrel menjadi diatas 100 USD/Barrel. Hal tersebut tentunya sangat memukul negara-negara di dunia yang mana masih net importir minyak tak terkecuali Indonesia. Indonesia yang dalam realisasi lifting minyak tahun 2025 sebesar 605.300 Barrel Per Day dengan konsumsi hariah di angka 1.600.000 Barreel Per Day membuat indonesia menjadi net importir minyak sebesar kurang lebih 1 juta barrel per hari. Kondisi tersebut diperparan dengan pelemahan rupiah terhadap dollar, yang mana sampai pertengahan mei 2026 ini sudah menyentuh 17.500 rupiah per US Dollar.
Kondisi yang menantang dan terjadi secara bersamaan tersebut menguji ruang fiskal dan moneter Indonesia. Konflik geopolitik, perang dagang dan kebijakan suku bunga tinggi The Federal Reserve mengakibatkan arus dollar kembali ke Amerika Serikat, ditengah kondisi ketidakpastian dunia. Kenaikan USD dan minyak beserta turunannya, ditambah dengan hambatan rantai pasok dunia menjadikan sebuah hantaman yang keras bagi perekonomian Indonesia. Gabungan dari faktor-faktor diatas membuat adanya goncangan bukan hanya dari sisi makro, namun juga dalam kehidupan masyarakat. Kenaikan tersebut membuat secara langsung mempengaruhi harga kebutuhan pokok, biaya logistik dan transportasi yang mana pada muaranya pada daya beli masyarakat. Kenaikan minyak dan turunannya ditambah alat pembayaran internasionalnya, yakni US Dollar mengakibatkan hampir semua lapisan masyarakat terkena dampaknya karena masih sangat bergantung pada minyak dan turunannya dalam kebutuhan energi dan aktifitas ekonomi dasar. Harga turunan minyak seperti halnya plastik memukul UMKM di Indonesia, karena penggunaan dan budaya penggunaan plastik yang sangat tinggi.
Fenomena tersebut memperlihatnya, sejauh mana struktur ekonomi modern yang sangat rentan terhadap gejolak eksternal. Dalam kondisi globalisasi, negara satu dengan negara lainnya dari belahan bumi lainnya saling berinteraksi baik secara komunikasi bahkan perdagangan Internasional. Oleh karena itu, kondisi geopolitik dan hambatan supply chain dunia berpengaruh pada harga komoditasnya di seluruh dunia. Sehingga keterhubungan tersbut membuat adanya hubungan yang kompleks antara geopolitik dunia, energi, arus pasar keuangan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Dalam perpektif ekonomi islam, memandang bahawa sebuah fenomena tidak hanya dari sejauh mana pasar merespon kondisi tersebut. Dalam ekonomi islam juga melihat sejauh mana keadilan dan juga ketahanan umat dalam menghadapi gejolak ekonomi tersebut. Prinsip dalam ekonomi islam yangdibangun dari keseimbangan (tawazun), keadilan (adl), dan kemaslahatan (maslahah). Sehingga dalam sebuah kondisi yang mengakibatkan masyarakat kecil tertekan dan sebagian lainnya mendapatkan keuntungan, maka hal tersebut merupakan sebuah hal yang perlu diamati dan dievaluasi secara etis. Kondisi perekonomian dunia dan khususnya arus uang dan modal yang secara mudah dan cepat dapat dipindahkan tergantung dengan seberapa besar return dan bunga yang akan mereka terima. Salah satuindikator utama yakni suku bunga The Fed, yang dalam kondisi tertentu negara emerging mengalami tekanan ekonomi namun The Fed meningkatkan suku bunga mereka yang pada akhirnya akan membuat arus uang dan modal tersebut kembali ke Amerika meninggalkan negara-negara yang sedah butuh akan dollar dalam perdagangan internasionalnya. Kondisi tersebut akan membuat negara berkembang mengalami tekanan kurs dan juga bunga hutang pinjaman yang berupa dollar mereka terus meningkat. Dalam ekonomi islam, faktor bunga tersebut menimbulkan banyak madhorot dan instabilitas dalam jangka panjang. Sehingga ekonomi islam menawarkan sistem berbasis sektor riil, dengan pembagian risiko dan aktifikas ekonomi yang produktif.
Ekonomi islam menempatkan produksi riil sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi negara. Pembangunan dari sisi pertanian, energi, petrernakan, industri, pertahanan, kelautan, perdagangan rill dll. serta penguatan UMKM akan menjadi modal ketahanan dan kemandirian negara. Dalam konteks indonesia ketahanan pangan dan energi berbasis produksi rill dalam negari menjadi sebuah hal yang krusial dalam menghadapi tekanan geopolitik, permasalahan supply chain dan kurs yang setiap saat dapat terjadi kapanpun. Sehingga Indonesia lebih tangguh dan tidak hanya bergantung pada produk dan investasi asing. Selain itu yang perlu diperbaiki adalah pada sisi distribusi yang harus menghilangkan adanya manipulasi dan penimbunan pada produk hajat hidup masyarakat luas, yang banyak menyebabkan disparitas harga produsen dan konsumen akhir yang sangat jauh.
Peran ekonomi islam khususnya dalam kondisi yang penuh tantangan yakni perhatian khusus pada masyarakat yang memiliki kerentanan dalam ekonomi. Dalam keadaan yang pada akhirnya membuat adanya inflasi, peran negara dibutuhkan sebagai bantalan untuk menjaga stabilitas ekonomi negara melalui berbagai subsidi yang diberikan yang bertujuan menyetarakan dan lam prinsip keadilan bahwa negara juga bertanggung jawab kepada seluruh masyarakat di semua elemen dan tingkatan. Selain itu ini juga menjadi muhasabah untuk terus meningkatkan kemandirian pada semua aspek kehidupan, terutama yang banyak menyangkut hajat hidup masyarakat luas. Dengan penguatan sektor rill, ketahanan pangan dan energi akan bermuara pada kesejahteraan masyarakat dan ketahanan dari goncangan dari eksternal. Yang mana dalam ekonomi islam banyak menawarkan paradigma pembangunan ekonomi yang berbasis pada pembangunan yang produktif, efisien namun didalamnya juga menekankan pada dimensi etis, moral dan pengembangan ekonomi dalam jangka panjang yang bertumpu pada keadilan dan kesetaraan hidup yang jauh dari kata ketimpangan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda