JurnalPost.com - FOMO (Fear of Missing Out) adalah sebuah perasaan takut ketinggalan terhadap momen, kepemilikan terhadap sesuatu, pengalaman, dan hal lain yang dapat menimbulkan perasaan cemas dalam diri seseorang. Perasaan ini biasanya muncul dalam diri seseorang, ketika orang tersebut merasa belum mencapai ataupun memiliki sesuatu yang telah dimiliki orang lain. Perasaan FOMO timbul dalam diri seseorang ketika mengetahui kabar dari orang lain yang up to date, dan kabar up to date tersebut biasanya dapat dilihat melalui media sosial, sehingga ini sangat erat kaitannya dengan penggunaan media sosial, hal ini berarti media sosial memiliki pengaruh dan peran yang signifikan terhadap timbulnya perasaan FOMO. Media sosial sendiri merupakan platform digital yang paling banyak digunakan di kalangan remaja, alasannya karena para remaja lahir ketika teknologi digital berkembang pesat.
Seperti yang kita ketahui, di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Shopee, Tokopedia, Instagram, dan lain sebagainya merupakan media sosial yang sering sekali kita gunakan sebagai remaja Gen Z. Pada awalnya media sosial hanya digunakan sebagai media hiburan, media menemukan informasi dan media berkomunikasi jarak jauh. Namun seiring berkembangnya waktu, media sosial juga digunakan sebagai media belanja online. Menurut kalodata.com, pada Januari 2024 sebesar 81% situs dan web aplikasi yang sering digunakan adalah untuk Shopping, Auctions, or Classifieds.
Media belanja online memiliki beragam cara mengiklankan setiap produknya untuk menarik hati konsumen, terlebih lagi sekarang terdapat fitur Live Shop. Fitur Live Shop merupakan salah satu cara memasarkan produk dengan cara melakukan siaran langsung yang dilakukan oleh seorang sales ataupun influencer dengan metode yang unik sesuai ciri khas masing-masing. Fitur ini biasanya menawarkan diskon ataupun promo besar-besaran terhadap beberapa produk yang dijual dalam Live Shop tersebut. Perkembangan fitur dalam media belanja online tersebut, tentu berpengaruh terhadap perilaku konsumtif pada para pengguna media sosial, terutama para remaja. Remaja yang merasa FOMO cenderung akan melakukan impulsive buying atau membeli tanpa rencana karena dipicu oleh emosi dan perasaan. Hal ini juga didorong oleh keinginan untuk tidak tertinggal dari orang lain, sehingga kebanyakan dari mereka malah membeli barang-barang yang diinginkan bukan yang dibutuhkan.
Selain adanya fitur Live Shop, beberapa penelitian juga menyatakan adanya peran influencer dalam mempengaruhi perilaku konsumtif pada remaja. Kepercayaan audience terhadap seorang influencer berpengaruh besar dalam menarik perhatian pembeli. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ketika kita mengidolakan seseorang, kita pasti cenderung ingin mengikuti gayanya atau bahkan ingin menggunakan apa yang digunakan oleh orang tersebut, apalagi jika orang tersebut sangat populer dan dikenali oleh banyak orang. Hal inilah yang menjadi dorongan besar perilaku konsumtif pada remaja.
Lalu apakah dapat dipukul rata bahwa semua remaja FOMO dan cenderung konsumtif akibat adanya media belanja online? tentu saja tidak. Karena pastinya ada sebagian dari mereka yang tetap menahan diri dan lebih memilih untuk menabung karena beberapa faktor, bisa saja karena kondisi ekonomi keluarga atau karena adanya kesadaraan dalam diri untuk menerapkan hidup hemat di era gempuran ke-FOMOan pada remaja, tergantung perspektif masing- masing. Kita sebagai remaja Gen Z yang bijak, sepatutnya kita menghindari fomo dan perilaku konsumtif, karena hal tersebut dapat berdampak buruk terhadap pembentukan karakter kita Ketika dewasa.
Ditulis Oleh : Mekka Hening Mangestu Asal Instansi : Universitas Airlangga
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda