Dosen Pengampu : Flora Grace Putrianti, S Psi., M.Si.,M.Psi.,Psikolog
Dominika Hanna Amsikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta, Indonesia. Email : [email protected]
ABSTRAK
Seiring perkembangan zaman media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat di era komputer dan internet saat ini, terutama generasi Z. Kehadiran media sosial telah mengubah gaya hidup dan pola perilaku generasi Z, termasuk perilaku konsumsi. Penelitian sebelumnya oleh Sari dan Pratama (2022) menunjukkan bahwa FoMO membantu konsumen membeli produk yang sedang viral di media sosial tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara FOMO dengan Keputusan pembelian Produk Sunscreen Azarine Pada Gen-Z di Tikok saat ini yang menjadi satu fenonemasa sosial.Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif , teknik analisis yang digunakan adalah uji spss menguji validitas dan reliabilitas serta signifikasinya untuk melihat hubungan antara variabel penelitian hasil peneltian adanya hubungan antara fomo dengan keputusan pembelian sebanyak 12.3%.. kesimpulan 1. Ada hubungan antara fear of missing out dengan keputusan pembelian produk sunscreen azarine pada gen- z di tiktok 2. Faktor pendorong keputusan pembelian motivasi dimana adanya rasa takut ketertinggalan sehingga gen-z merasa termotivasi untuk membeli produk sunscreen 3. Berdasarkan hasil penelitian perilaku fomo paling banyak terjadi pada perempuan sebanyak 60% ( 30 orang) di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. KATA KUNCI: keputusan pembelian, Fomo, sunscreen azarine LATAR BELAKANG MASALAH Seiring perkembangan zaman media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat di era komputer dan internet saat ini, terutama generasi Z. Kehadiran media sosial telah mengubah gaya hidup dan pola perilaku generasi Z, termasuk perilaku konsumsi. menurut laporan Statista, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Senin (28/10/2024) Indonesia menempati posisi pertama dari daftar 20 negara dengan pengguna aktif sepuluh kali lipat dari juli 2018 yaitu mencapai 157,6juta per juli 2024. Risma Fitriani dkk (2023) Pemasaran digital sangat penting bagi para pelaku usaha untuk memastikan bahwa produk yang dipasarkannya mampu bersaing dengan produk pesaing. Melalui strategi ini, rasa ingin tahu para konsumen dan calon konsumen untuk mencari informasi mengenai produk yang dipasarkan akan meningkat, dan cara untuk mendapatkan produk tersebut.Pengetahuan tentang pemasaran digital juga dapat menjadi saluran komunikasi pemasaran yang penting untuk menarik pembeli. Tujuan komunikasi pemasaran adalah menyampaikan informasi dan memengaruhi konsumen agar bersedia membeli, menerima, dan memiliki tingkat loyalitas yang tinggi terhadap produk yang dipasarkan. Intan Lathifah Nurul Khoiriah dkk (2023) Indonesia duduk di kawasan tropis terletak di dekat garis khatulistiwa, dimana paparan sinar matahari relatif tinggi yang berdampak pada kulit. Penyebabnya dari sinar UV pada cahaya matahari. Di bawah sinar UV ditemukan sinar UV A dan UV B. Kelebihan sinar Ultra Violet juga tidak baik buat kulit karena mengakibatkan timbulnya masalah penuaan pada kulit dan terbakarnya kulitnya. Jadi sekarang, banyak masyarakat membutuhkan produk untuk menjaga kulit dari sinar matahari, yaitu dengan memakai sunscreen. Dalam hal sunscreen, ketakutan kehilangan kesempatan dapat dilihat pada bagaimana pelanggan merasa perlu mengikuti tren terbaru atau memilih produk yang sedang populer. Wijaya dan Kusuma (2022) menemukan bahwa generasi Z lebih rentan terhadap FoMO dan lebih mudah terpengaruh oleh tren media sosial yang populer dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Sementara itu, Susanti, V. dan Setiawan, P. Y. (2022) menganalisis pengaruh (FoMO) dan pemasaran sosial media terhadap keputusan pembelian produk viral. Penelitian sebelumnya oleh Sari dan Pratama (2022) menunjukkan bahwa FoMO membantu konsumen membeli produk yang sedang viral di media sosial tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Produk viral dimedia sosial yang membuat para Gen-Z Fomo adalah produk sunscreen Azarine. (CEKLIST.ID)Sunscreen Azarine merupakan produk dari salah satu merk Skincare dan body treatment asal Indonesia yang sudah ada sejak tahun 2002. Berada di bawah naungan PT Wahana Kosmetika Indonesia. Terutama bagi wanita, produk kecantikan sekarang menjadi kebutuhan yang harus digunakan setiap hari. Industri kecantikan semakin berkembang dan ada banyak jenis bisnis kecantikan. Penelitian tentang hubungan Fear of Missing Out dengan keputusan pembelian produk sunscreen Azarine pada Gen-Z di TikTok menarik untuk diteliti karena FOMO adalah fenomena psikologis yang semakin umum di kalangan pengguna media sosial, terutama Gen Z, yang sering merasa tertekan untuk mengikuti tren dan pengalaman yang ditampilkan oleh influencer dan teman-teman mereka di Tiktok, industri perawatan kulit, termasuk sunscreen, mengalami pertumbuhan besar di kalangan Gen-Z yang semakin peduli terhadap kesehatan kulit dan perlindungan dari sinar matahari. Penelitian ini juga dapat menyelidiki hubungan antara materialisme dan keputusan pembelian, yaitu ketika orang merasa perlu memiliki barang tertentu untuk merasa diterima dalam kelompok sosial mereka. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui hubungan antara FOMO dengan Keputusan pembelian Produk Sunscreen Azarine Pada Gen-Z di Tikok saat ini yang menjadi satu fenonemasa sosial. Berdasarkan penjelasan latar belakang masalah diatas, dapat disimpulkan bahwa suatu fenomena sosial yang terjadi dikarenakan perkembangan zaman saat ini adalah teknologi yang mana Ketika seseoarang menggunakan media sosial cukup tinggi cenderung akan berdampak pada perilaku pembelian secara implusif karena tidak ingin ketinggalan terhadap sesuatu yang menjadi trend saat ini (FOMO).Sehingga menjadikan variabel penelitian ini menarik untuk bahas. TINJAUAN PUSTAKA A.Keputusan Pembelian 1.Pengertian Keputusan Pembelian Kehidupan manusia tidak lepas dari melakukan jual beli.Sebelum melakukan pembelian, seseorang biasanya akan melakukan keputusan pembelian terlebih dahulu terhadap suatu produk. Keputusan pembelian merupakan kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan oleh penjual. Menurut Slamet et al. (2022), keputusan pembelian didefinisikan sebagai proses menetapkan suatu produk berdasarkan beberapa pilihan produk, di mana akan sulit untuk memilih salah satu produk yang mendorong tindakan pembelian. Menurut Peter dan Olson (2013:163), keputusan pembelian adalah proses integresi yang digunakan untuk mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih satu di antaranya. Philip Kotler dan Kevin Lane Keller (2009): Menurut mereka, keputusan pembelian adalah proses di mana konsumen mengenali kebutuhan, mencari informasi, mengevaluasi berbagai alternatif, membuat keputusan pembelian, dan akhirnya mengevaluasi keputusan tersebut setelah pembelian. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah proses kompleks yang melibatkan beberapa tahap pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan evaluasi pasca pembelian. Proses ini membutuhkan integrasi pengetahuan dan evaluasi berbagai alternatif untuk membuat pilihan yang terbaik di antara beberapa opsi yang tersedia. Semua definisi menekankan pentingnya pemikiran dan evaluasi yang matang sebelum mengambil keputusan pembelian. 2. Indikator Keputusan Pembelian Dimensi dan indikator keputusan pembelian menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Tjiptono (2012:184) menjelaskannya bahwa keputusan konsumen untuk melakukan pembelian suatu produk meliputi lima sub keputusan sebagai berikut: a.Pilihan produk Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan. Misalnya: kebutuhan suatu produk, keberagaman varian produk dan kualitas produk. b.Pilihan merek Pembeli harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek. Misalnya: kepercayaan dan popularitas merek. c. Pilihan penyalur Pembeli harus mengambil keputusan penyalur mana yang akan dikunjungi. Setiap pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, persediaan barang yang lengkap dan lain-lain. Misalnya: kemudahan mendapatkan produk dan ketersediaan produk. d. Waktu pembelian. Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-beda, misalnya : ada yang membeli sebulan sekali, tiga bulan sekali, enam bulan sekali atau satu tahun sekali. e.Jumlah pembelian Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada suatu saat. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para pembeli. Misalnya: kebutuhan akan produk. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah proses kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pilihan produk, merek, penyalur, waktu, hingga jumlah pembelian. Perusahaan perlu memahami dan memenuhi faktor-faktor ini untuk menarik dan mempertahankan konsumen. 2. Faktor -Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Kotler (2005) menyatakan bahwa perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh faktor- faktor berikut : a.Faktor Budaya Faktor Faktor budaya mempunyai pengaruh yang paling luas dan paling dalam. Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling dasar. Sub budaya mencakup kebangsaan, agama, kelompok ras, dan wilayah geografis. Sedangkan kelas sosial adalah pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen, yang tersusun secara hirarkis dan yang para anggotanya menganut nilai, minat, dan perilaku yang serupa. Kelas sosial tidak hanya mencerminkan penghasilan, tetapi juga indikator lain seperti pekerjaan, pendidikan, dan wilayah tempat tinggal. b.Faktor sosial Selain faktor budaya, perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status sosial masyarakat. a) Kelompok Acuan Kelompok acuan seseorang terdiri atas semua kelompok di sekitar individu yang mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap perilaku individu tersebut (Kotler, 2007). Kelompok acuan mempengaruhi pendirian dan konsep pribadi seseorang karena individu biasanya berhasrat untuk berperilaku sama dengan kelompok acuan tersebut (Kotler, 2007) b). Keluarga Keluarga sendiri biasanya menjadi sumber orientasi dalam perilaku. Anak akan cenderung berperilaku sama dengan orang tua saat mereka melihat perilaku orang tua mereka mendatangkan manfaat atau keuntungan (Kotler, 2007). c).Peran dan status dalam masyarakat Peranan adalah kegiatan yang diharapkan untuk dilakukan mengacu pada orang-orang di sekellilingnya. Sedang status adalah pengakuan umum masyarakat sesuai dengan peran yang dijalankan. Setiap individu dan status yang disandangnya akan mempengaruhi perilakunya (Kotler, 2007). c.Faktor pribadi Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep-diri pembeli. a).Usia dan Tahap Siklus Hidup Individu dalam membeli barang atau jasa biasanya disesuaikan dengan perubahan usia mereka. Pola konsumsi yang terbentuk juga berbeda antara individu-individu yang usianya berbeda (Kotler, 2007). b). Pekerjaan Pekerjaan individu tentunya ikut mempengaruhi perilaku pembelian individu.Penghasilan yang mereka peroleh dari pekerjaannya itulah yang menjadi determinan penting dalam perilaku pembelian mereka (Kotler, 2007). c).Gaya Hidup Gaya hidup merupakan pola kehidupanseseorang sebagaimana tercermin dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup akan sangat mempengaruhi pola tindakan dan perilaku individu (Kotler, 2007). d). Kepribadian Kepribadian adalah karakteristik psikologi yang berbeda dari seseorang yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan tetap terhadap lingkungannya (Kotler, 2007). d.Faktor psikologis Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologi utama. Faktor-faktor tersebut terdiri dari motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap. Kebutuhan akan menjadi motif jika ia didorong hingga mencapai tahap intensitas yang memadai. Motif adalah kebutuhan yang memadai untuk mendorong seseorang bertindak. Persepsi adalah proses yang digunakan oleh individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Persepsi dapat sangat beragam antara individu satu dengan yang lain yang mengalami realitas yang sama. a). Motivasi Motivasi adalah kebutuhan yang memadai untuk mendorong seseorang bertindak. Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu tertentu. Beberapa kebutuhan bersifat biogenis; kebutuhan tersebut muncul dari tekanan biologis seperti lapar, haus, tidak nyaman. Sedangkan kebutuhan yang lain bersifat psikogenis; kebutuhan tersebut muncul dari tekanan psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan, atau rasa keanggotaan kelompok (Kotler, 2007). b).Persepsi Disamping motivasi mendasari seseorang untuk melakukan keputusan pembelian maka akan dipengaruhi juga oleh persepsinya terhadap apa yang diinginkan. Konsumen akan menampakkan perilakunya setelah melakukan persepsi terhadap keputusan apa yang akan diambil dalam membeli suatu produk (Kotler, 2007). c) Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedbackbagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama (Schiffman dan Kanuk, 2004). d). Keyakinan dan Sikap Keyakinan adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman (Kotler dan Amstrong, 2006). Sedangkan sikap adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide (Kotler dan Amstrong, 2006). Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian adalah Fomo hal ini sejalan faktor psikologis yaitu motivasi. Dimana konsumen merasa takut akan rasa ketinggalan,cemas dan khawatir jika individu lain memiliki pengalaman yang lebih baik. B. Fear Of Missing Out 1.Pengertian Fear Of Missing Out Fear of missing out adalah istilah yang biasa digunakan kalangan muda untuk menyebut pola perilaku yang selalu merasa khawatir berlebihan dan merasakan ketakutan akan tertinggal tren pergaulan yang terkini (San et al., 2019). Fear of Missing Out (FoMO) juga didefinisikan sebagai perasaan ketakutan atau kekhawatiran akan kehilangan pengalaman yang menyenangkan atau menguntungkan yang mungkin sedang dialami oleh orang lain. Pada dasarnya Fear of Missing Out (ketakutan akan ketertinggalan) atau lebih familiar dengan istilah FoMO telah diperkenalkan pertama kali melalui penelitian yang dilakukan oleh Przybylski et al. (2013) yang menyatakan bahwa FoMO merupakan fenomena dalam dunia psikologi dimana orang – orang memiliki penderitaan dengan gejala seperti terobsesi pada hal – hal khusus yang sedang dan sering terjadi. FOMO adalah fenomena psikologis yang terjadi pada zaman teknologi yang berkembang pesat, di mana seseorang merasa gelisah, takut, dan saat orang lain memiliki pengalaman berharga tetapi tidak terlibat secara langsung (Ana & Maryam, 2024). Individu dengan FoMO yang tinggi lebih cenderung mengalami masalah yang lebih serius daripada orang lain Secara pribadi Orang dengan FoMO tinggi cenderung memiliki kebutuhan yang kuat untuk tetap terhubung, namun tidak menginginkannya ketinggalan informasi atau peristiwa yang mungkin dianggap penting atau menarik (Milyavskaya dkk., 2022). Menurut penelitian Banga (2024), FOMO dapat menyebabkan persepsi negatif terhadap diri sendiri karena merasa ditolak dan tidak terlibat dalam aktivitas sosial. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa fomo adalah perasaan seseorang yang merasa takut akan ketertinggalan dan takut akan kehilangan pengalaman yang berharga dari individu yang lain. Sehingga membuat persepsi negatif dan takut akan merasa ditolak di lingkungan sosialnya. 2. Aspek Fear Of Missing Out Berikut aspek-aspek fear of missing out menurut Przbylski, DeHaan dan Gladwell (2013) : a.Rasa takut Perasaan takut yang dirasakan individu apabila orang lain memiliki pengalaman yang berharga saat individu tersebut tidak terlibat didalamnya. b.Rasa cemas Perasaan cemas yang dirasakan ketika individu tertinggal atau tidak mengetahui apa yang orang lain lakukan. Hal ini lah yang akan mengarahkan seseorang untuk mencari tahu kegiatan atau kejadian apa yang dilakukan oleh orang lain. c. Rasa Khawatir Rasa khawatir tidak diterima oleh lingkungan sosial membuat individu berusaha untuk menampilkan citra diri yang sesuai dengan lingkungan sosialnya yang luas. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Secara keseluruhan, FOMO mencerminkan kebutuhan individu untuk merasa terhubung dan diterima dalam konteks sosial, serta dampak psikologis yang ditimbulkan oleh ketidakpastian tentang pengalaman orang lain 3. Faktor -faktor penyebab Fear Of Missing Out Adapun faktor -faktor yang mempengaruhi FOMO hal ini karena Tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis individu dapat menjadi penyebab individu mengalami fear of missing out. Menurut Murayama, Przbylski dkk penyebab tersebut sebagai berikut: a.Tidak terpenuhinya akan otonomi (autonomy) Kebutuhan otonomi merupakan sebuah penilaian ketika adanya pilihan, dukungan dan kemauan yang berhubungan dengan memulai, memelihara, dan mengakhiri yang berhubungan dengan perilaku. Adanya dukungan terhadap kebutuhan otonomi akan meningkatkan motivasi intrinsik, memandang diri sendiri kompeten dan juga meningkatkan harga diri. b.Tidak terpenuhinya akan kompetensi (competency) Keinginan seseorang untuk merasa efektif dalam berinteraksi dengan lingkungannya.Seseorang dengan kebutuhan kompetensi yang terpenuhi akan merasa bahwa mereka memiliki cukup keterampilan untuk mengerjakan segala sesuatu dan mencapai tujuan dengan mengerakkan kemampuan terbaik mereka. c.Tidak terpenuhinya akan keterikatan (relatedness) Kecenderungan individu untuk merasa terhubung dengan orang lain, yaitu untuk menjadi bagian dalam kelompok, untuk dicintai, dipedulikan dan diperhatikan. Kebutuhan akan keterikatan ini mengacu pada kehangatan dan perhatian yang diterima individu dari hasil interaksi dengan rang lain sehingga menghasilkan rasa memiliki. C.Tabir surya Azarine Merek kecantikan dan kosmetik Indonesia Azarine Cosmetic Azarine dioperasikan oleh PT Wahana Kosmetik Indonesia dan didirikan pada tahun 2002 atas prakarsa Ibu Yunita Sastera Kusuma. PT Wahana Beauty Care Products Indonesia sendiri merupakan pelengkap dari Wahana Gathering yang ikut serta secara private, selain itu Klinik Gawat Darurat Imperial Surabaya (PT Prima Karya Husada Surabaya) yang ikut serta dalam Klinik dan PT Wahana Focal Purabox yang ikut serta dalam Properti. (Azarine, 2021) Suatu zat atau bahan yang dapat memberikan perlindungan kulit dari sinar ultraviolet (UV) dikenal sebagai tabir surya. Tabir surya tersedia dalam berbagai produk yang dapat diaplikasikan pada kulit, seperti losion, krim, salep, gel, dan semprotan. Kosmetik yang mengandung tabir surya memiliki kekuatan SPF (Sun Protection Factor) tertentu. SPF memiliki manfaat bagi kulit dan berfungsi melindunginya dari sinar ultraviolet (UV), yang berkisar antara SPF 30 dan 60. Angka ini mengindikasikan berapa lama produk tersebut dapat melindungi kulit dari sinar ultraviolet (UV) penyebab sengatan matahari. Dapat disimpulkan bahwa tabir surya belum cukup untuk memberikan perlindungan kulit dari sinar UV jika nilai SPF-nya kurang dari 30 (Hapsah Isfardiyana et al., 2014) Tabir surya Azarine memiliki SPF 45 PA++, yang memenuhi standar yang direkomendasikan. (Azarine Cosmetic, 2021). Karena tidak mengandung silikon atau alkohol, tabir surya Azarine cocok digunakan pada semua jenis kulit dan memiliki tekstur yang ringan. Manfaat tabir surya azarine ini sebanding dengan tabir surya terkenal dan terkemuka lainnya. Penting untuk memakai tabir surya sebelum pergi keluar untuk menghindari terlalu banyak sinar matahari. Akan tetapi, masih terdapat banyaknya masyarakat Indonesia yang abai akan pentingnya penggunaan tabir surya (Hapsah Isfardiyana et al., 2014). Berdasarkan hasil penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sunscreen merupakan salah satu produk untuk menjaga Kesehatan kulit dan melindungi kulit dari paparan sinar matahari, sunscreen azarine merupakn salah satu brand yang popular dan banyak diminati saat ini. D. Hipotesis Penelitian Hipotesis pada penelitian adalah untuk melihat adanya hubungan Fear Of missing Out dengan Keputusan Pembelian Pada Gen-z Di Tiktok. METODE A.Variabel Penelitian Variabel Bebas( X) : Fear Of Missing Out (FOMO) Variabel Terikat (Y) : Keputusan Pembelian Produk Sunscreen Azarine B.Lokasi Lokasi penelitian adalah tempat atau objek untuk diadakan suatu penelitian. Fokus penelitian ini berada di Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.Penelitian dilakukan di Fakultas Psikologi UST dikarenakan populasi Gen-Z yang menggunakan media sosial terutama Tiktok banyak sehingga menjadi subjek yang relevan pada penelitian ini. Di Fakultas psikologi peneliti dapat dengan mudah mengakses mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk mendapatkan perspektif yang beragam tentang FOMO dan keputusan pembelian tabir surya Di Tiktok. C. Subjek penelitian Pada setiap penelitian yang dilakukan peneliti harus memutuskan subjek penelitian dan jumlahnya. Penelitian ini menggunakan subjek dari mahasiswa Fakultas Psikologi UST angakatan 2022-2024 yang aktif menggunakan tiktok . D. Waktu pelaksanaan Setelah menentukan lokasi penelitian, subjek penelitian . Peneliti akan menentukan tahapan pelaksanaan yaitu : 1. Persiapan penelitian Menyusun proposal membuat surat ijin penelitian 2. Pengumpulan data Menyebarkan skala secara online kepada mahasiswa Fakultas Psikologi UST 3. Menganalisis Data Setelah penyebaran skala dan jumlah responden terpenuhi sesuai dengan ketentuan, maka selanjutnya yang dilakukan adalah mengolah data menggunakan spss untuk menguji validitas dan reliabiitas kemudian melihat hubungan antara variable . setelah itu peneliti akan melakukan penyusunan laporan akhir. E. Metode Yang Digunakan A. Pendekatan Penelitian Peneliti menggunakan metode kuantitatif untuk melakukan penelitian ini. Dan menggunakan kuisioner dalam penelitian survei ini untuk mengumpulkan pendapat responden. Menurut Widhi dan Puspitaningtyas (2016:14), Penelitian survei diarahkan untuk mengetahui dan mempelajari data dari sample yang diambil dari populasi sehingga ditemukan kejadian – kejadian relatif, ditribusi, serta hubungan – hubungan antar variabel. B. Teknik Pengumpulan Data Kuisioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis pada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2011, hlm. 142). Kuesioner ini cocok digunakan apabila jumlah responden cukup banyak. Dalam penelitian ini, penulis menyebarkan kuisioner kepada responden yang aktif berbelanja produk tabir surya di tiktok. Pengisian kuesioner penelitian ini dilakukan dengan membagikan link ke Group whatsapp ke Angkatan 2022,2023,2024 mahasiswa Psikologi. C. Analisis Data Menggunakan SPSS untuk menguji validitas dan reliabilitas serta signifikasinya untuk melihat hubungan antara variabel penelitian. Tabel 1. Penilaian Aitem Ukur Variabel Keputusan Pembelian
Tabel 2. Penilaian aitem ukur variabel Fear Of Missing Out
Tabel 3 .Blueprint Keputusan Pembelian
Tabel 4 .Blueprint Fear Of Missing Out
Tabel 5 Distribusi Sebaran Aitem Keputusan Pembelian
Tabel 6 Distribusi Sebaran Aitem Fear Of Missing Out
HASIL PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
A. Gambaran Umum Penelitian
Penelitian ini bersifat kuantitatif dimana data yang dihasilkan berbentuk angka. Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat Hubungan Fear of missing out Dengan Keputusan Pembelian Produk Sunscreen Azarine Pada Gen-Z Di Tiktok, data dikumpulkan dengan kuesioner sebanyak 50 responden yang aktif menggunakan tiktok dan melakukan pembelian sunscreen azarine pada mahasiswa/ i Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
1. Karakteristik Responden
Karakteristik responden merupakan ragam latarbelakang yang dimiliki responden itu sendiri. Hasil yang didapat adalah:
a. Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 20 orang (40%) responden Laki- laki dan jumlah responden berjenis Perempuan sebanyak 30 orang (60%). Hal ini menunjukan bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak terlibat dipenelitian ini dibandingkan yang berjenis kelamin laki-laki dan hanya selisih 10 orang atau 5% responden. Namun demikian, dapat dikatakan bahwa komposisi responden laki-laki dan perempuan adalah seimbang.
Tabel 1. Jenis Kelamin Responden
b. Usia
Berdasarkan kelompok usia, terdapat 2 (dua) kelompok usia yang mendominasi adalah responden yang berusia 20 tahun sebanyak (14) 28% dan responden yang berusia 21tahun sebanyak 18 orang (36%) dan respoden yang berusia 22 tahun sebanyak 12 orang (24,%). Komposisi kelompok responden dengan usia 23 tahun tidak cukup banyak yaitu sebanyak 3 orang (6%). kelompok reponden yang berusia 24tahun yaitu hanya diwakili oleh 3 orang sebanyak 6%.
Tabel 2 Usia Responden
c. Semester
Berdasarkan tingkat semester , responden dengan tingkat semester 5 yang paling mendominasi, yaitu sebanyak 48% (24orang) dari total keseluruhan responden. Komposisi kelompok responden dengan tingkat semester 3 juga cukup besar yaitu 32% (16 orang) dari keseluruhan responden. Sementara itu, kelompok responden dengan tingkat semester 1 diwakili oleh 20% (10 orang).
Tabel 3. Semester Responden
B. Analisis Data
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner. Kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Metode yang digunakan untuk menilai validitas kuesioner tersebut adalah korelasi produk moment atau menggunakan bevariate pearson.
a. Tabel 4 Validitas Variabel Keputusan Pembelian (Y)
Pada penelitian ini diketahui bahwa soal memiliki nilai N sebesar 50. Penentuan Rtabel dengan melihat probabilitas yaitu uji dua arah dengan tingkat signifikansi 0,05. Selanjutnya menghitung nilai derajat kebebasan (df) yaitu df=n-2. Maka dapat diketahui besarnya nilai df =50–2= 48. Dengan Rtabel uji validitas pada analisis ini yaitu sebesar 0,279.
Berdasarkan hasil uji validitas pada tabel diatas diketahui bahwa keseluruhan soal pada variabel keputusan pembelian (Y) yang terdiri dari 20 data dinyatakan valid. Hal ini dikarenakan pada variabel tersebut memiliki nilai korelasi Rhitung lebih besar Rtabel (Rhitung>0,279).
b. Tabel 5 Validitas Variabel Fomo (X)
Pada penelitian ini diketahui bahwa soal memiliki nilai N sebesar 50. Penentuan Rtabel dengan melihat probabilitas yaitu uji dua arah dengan tingkat signifikansi 0,05. Selanjutnya menghitung nilai derajat kebebasan (df) yaitu df=n-2. Maka dapat diketahui besarnya nilai df =50–2= 48. Dengan Rtabel uji validitas pada analisis ini yaitu sebesar 0,279.
Berdasarkan hasil uji validitas pada tabel diatas diketahui bahwa keseluruhan soal pada variabel fomo (X) yang terdiri dari 18 data dinyatakan valid. Hal ini dikarenakan pada variabel tersebut memiliki nilai korelasi Rhitung lebih besar Rtabel (Rhitung>0,279)
2. Uji Reliabilitas
Pengujian reliabilitas digunakan untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa suatu instrument data dapat cukup dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrument tersebut sudah baik (Sugiyono, 2019). Koefisien alpha dapat dikatakan reliabel ketika nilai Cronbach Alpha > 0,6. Perhitungan data tersebut akan dilakukan dengan bantuan program IBM SPSS versi 25. Hasil pengujian realibilitas untuk masing-masing variabel dapat dilihat pada tabel berikut:
a. Reliabilitas Keputusan pembelian
Tabel 6 Reliabilitas Y
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa hasil dari analisis uji reliabilitas pada variabel keputusan pembelian (Y) memperoleh nilai yang reliabel dengan hasil Cronbach Alpha yaitu sebesar 0,854. Suatu variabel dapat dikatakan reliabel apabila nilai Cronbach Alpha >0,6, sehingga data hasil tersebut menunjukkan bahwa keseluruhan soal reliable.
b. Reliabilitas Fear Of Missing Out
Tabel 7 Reliabilitas X
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa hasil dari analisis uji reliabilitas pada variabel fomo (X) memperoleh nilai yang reliabel dengan hasil Cronbach Alpha yaitu sebesar 0,913. Suatu variabel dapat dikatakan reliabel apabila nilai Cronbach Alpha >0,6, sehingga data hasil tersebut menunjukkan bahwa keseluruhan soal reliable.
B. Pembahasan
Pembahasan meliputi uji menggunakan program spss versi 20 dengan 50 responden.
Uji Normalitas.
Berdasarkan hasil uji normalitas diketahui nilai signifikansi 0,782 > 0,05, maka dapat disimpulkan data berdistribusi normal.
Analisis Deskriptif
Berdasarkan hasil uji deskriptif diatas , dapat digambarkan distribusi data yang diperoleh oleh peneliti adalah :
1. Variabel Keputusan Pembelian (Y) Dari data tersebut bisa di deskripsikan bahwa nilai minimum 39 sedangkan nilai maksimum 74 nilai rata -rata 58.78 dan standar Deviasi data Keputusan Pembelian 9.323
2. Variabel Fomo (X) Dari data tersebut bisa di deskripsikan bahwa nilai minimum 49 sedangkan nilai maksimum 90 nilai rata -rata 68.24 dan standar Deviasi data Fomo 11.437.
Uji Regresi
Berdasarkan hasil uji yang dilakukan nilai t hitung = 5.153 dengan sigifikansi sebesar 0,000 < 0,05. maka terdapat hubungan antara variabel X( Fomo) pada variabel Y( Keputusan Pembelian.
Besarnya nilai kolerasi atau hubungan (R) = 0.351. dari output tersebut diperoleh koefisien determinansi ( R Square) sebesar = 0,123 yang mengandung pengertia bahwa hubungan variabel bebas ( Fomo) terhadap variabel terikat ( Keputusan pembelian adalah sebesar 12.3 %
C. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan :
1. Ada hubungan antara fear of missing out dengan keputusan pembelian produk sunscreen azarine pada gen- z di tiktok
2. Faktor pendorong keputusan pembelian motivasi dimana adanya rasa takut ketertinggalan sehingga gen-z merasa termotivasi untuk membeli produk sunscreen
3. Berdasarkan hasil penelitian perilaku fomo paling banyak terjadi pada perempuan sebanyak 60% ( 30 orang) di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.
D. Saran
Disarankan:
1. untuk peneliti selanjutnya membahas lebih lanjut faktor- faktor penyebab keputusan pembelian selain karena Fomo pada gen-z di tiktok.
2. faktor dalam keputusan pembelian terhadap suatu produk harus di perhatikan dari segi kebutuhan yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Darmawan, A. S., Cheryl, A., & Safitri, M. A. (2022). Efektivitas Iklan Produk Sunscreen “Azarine” Melalui Akun Tiktok@ Dictionarei Terhadap Minat Pembelian. Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Media Sosial (JKOMDIS), 2(2), 222-227.
Dewa, C. B., & Safitri, L. A. (2021). Pemanfaatan media sosial tiktok sebagai media promosi industri kuliner di yogyakarta pada masa pandemi covid-19 (studi kasus akun tiktok javafoodie). Khasanah Ilmu-Jurnal Pariwisata Dan Budaya, 12(1), 65-71.
Falajunah, C. T., & Hendayani, R. (2024). Pengaruh FOMO (Fear of Missing out) By Tiktok Influencer terhadap Minat Beli Produk Scarlett. Economic5 Reviews Journal, 3(2), 1096-1110.
Fitriani, R., Ikah, I., & Amin, M. R. F. Analisis Pengaruh Iklan di Media Sosial TikTok Terhadap Keputusan Pembelian Produk Kosmetik di Era Digital. Jurnal Teknik Industri: Jurnal Hasil Penelitian dan Karya Ilmiah dalam Bidang Teknik Industri, 9(1), 240-247
Haryati, R. ANALISIS PERILAKU BELANJA ONLINE GENERASI Z STUDI KASUS PADA PENGGUNA TIKTOK DI KOTA BANDUNG. Jurnal Ilmiah Magister Ilmu Administrasi, 18(1).
Indrasari, M. (2019). PEMASARAN DAN KEPUASAN PELANGGAN: pemasaran dan kepuasan pelanggan. unitomo press.
Khoiriah, I. L. N., Mursito, B., & Marwati, F. S. (2023). Keputusan Pembelian Ditinjau Varian Produk, Citra Merek dan Brand Ambassador Terhadap Sunscreen Azarine di Surakarta. Jurnal Administrasi dan Manajemen, 13(2), 177-183.
Putri, A. A., Palilati, A., & Harjoprawiro, L. (2024). PENGARUH KUALITAS PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SUNSCREEN AZARINE MELALUI CELEBRITY ENDORSMENT SEBAGAI VARIABEL INTERVENING. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 16(2), 97-109.
RAHMAWATI, E., & Waluyo, W. (2024). PENGARUH KESADARAN HALAL, CITRA MEREK, ELECTRONIC WORD OF MOUTH (E-WOM) DAN PERSEPSI HARGA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK SERUM SKINCARE YANG SUDAH BERLABEL HALAL DI WILAYAH SOLO RAYA (Doctoral dissertation, UIN Surakarta).
Rizky, A., Mulyadi, D., & Sungkono, S. (2024). PENGARUH FEAR OF MISSING OUT (FOMO) TERHADAP PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN PRODUK VIRAL DI MEDIA SOSIAL PADA GEN-Z (STUDI KASUS DI KABUPATEN KARAWANG). Neraca: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi, 2(9), 211-219.
Shukmalla, D., Savitri, C., & Pertiwi, W. (2023). Pengaruh Content Marketing Dan Influencer Marketing Terhadap Keputusan Pembelian Produk Kosmetik Lokal di Tiktok Shop (Studi Pada Mahasiswa Manajemen Universitas Buana Perjuanagan Karawang). Jurnal Mirai Management, 8(3).
Suhartini, S., & Maharani, D. (2023). Peran Fear Of Missing Out (FoMO) dalam Perilaku Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian. Economics and Digital Business Review, 4(2), 349-356.
Sukmaningtyas, H. N., Maharani, B. D., & Ningrum, N. K. (2023). THE INFLUENCE OF PERCEIVED PRICE AND TRUST ON PURCHASE INTENTION THROUGH PERCEIVED VALUE AS AN INTERVENING VARIABLE IN AZARINE SUNSCREEN PRODUCTS. Dynamic Management Journal, 7(2), 179-188.
Wahida, N., Burhanuddin, B., Haeruddin, M. I. W., Musa, M. I., & Aslam, A. P. (2024). Pengaruh Fear Of Missing Out Dan Brand Trust Terhadap Keputusan Pembelian Produk The Originote:(Studi Pada Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Negeri Makassar). EBISMAN: eBisnis Manajemen, 2(1), 30-43.
Zulkamal, N. D., & Indriani, F. (2024). SOCIAL COMPARISON, MATERIALISME, DAN FOMO SEBAGAI PENGARUH NIAT BELI KONSUMEN YANG DIDUKUNG OLEH CELEBRITY INFLUENCER (Studi pada produk Azarine Hydrasoothe Sunscreen Gel SPF 45 PA+++). Diponegoro Journal of Management, 13(3)
Komentar 0
Komentar untuk artikel ini ditutup.