Oleh : Ghina Mohga Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang
JurnalPost.com - Ardit Erwandha sukses menjalani debut sebagai pemeran utama dalam film drama keluarga berjudul “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang dirilis pada musim Lebaran 2026. Disutradarai oleh Naya Anindita, film ini mengangkat kisah Arga, seorang pemuda 28 tahun yang berjuang mencari pekerjaan setelah tiga tahun menganggur. Di tengah usahanya bangkit, Arga harus menghadapi “teror” pertanyaan dari keluarga saat momen berkumpul. Pengalaman yang terasa sederhana ini justru menjadi kekuatan utama film, karena begitu dekat dengan realitas banyak orang.
Menyentil ‘sandwich generation’
Zaman sekarang banyak orang menanggung beban lebih dari satu, seperti menanggung beban finansial dan perawatan tiga generasi sekaligus: diri sendiri, orang tua (di atas), dan anak anak (di bawah). Arga menjadi representasi nyata kondisi tersebut. Sebagai anak pertama, ia memikul tanggung jawab besar, mulai dari membantu melunasi hutang keluarga hingga membiayai pendidikan adiknya. Masalah ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, apalagi dengan kondisi sulitnya mencari pekerjaan yang membuat film ini semakin mudah dirasakan dan relevan bagi banyak orang.
Chemistry dan Akting Para Aktor
Walaupun menjadi debut sebagai pemeran utama, akting Ardit Erwandha tidak bisa dianggap remeh. Sebelumnya, ia kerap muncul sebagai cameo di beberapa film, namun di film ini ia berhasil menunjukkan kapasitasnya sebagai aktor utama. Sutradara Naya Anindita pun meyakini bahwa Ardit adalah sosok yang tepat untuk menghidupkan karakter Arga. Ardit sendiri mengaku bahwa proses pendalaman karakter terasa lebih mudah karena ceritanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia juga mengaitkan peran tersebut dengan pengalaman pribadinya saat merintis karier sebagai stand-up comedian.
Sementara itu, karakter Tante Yuli yang diperankan oleh Sarah Sechan terasa begitu nyata. Gaya bicaranya yang cerewet justru menjadi ciri khas yang memperkuat karakter tersebut. Penampilan Niniek L. Karim sebagai Nenek menghadirkan kehangatan tersendiri. Ia menjadi sosok penenang yang kokoh di tengah berbagai dinamika keluarga. Tak kalah menyentuh, Lulu Tobing sebagai Bu Rita dan Ariyo Wahab sebagai Pak Yudi berhasil menggambarkan ketulusan orang tua dengan sangat emosional. Selain itu, kehadiran cameo dari Vidi Aldiano bersama Sheila Dara Aisha serta Afgan sebagai Dwiki, sepupu Arga yang telah sukses, turut memberikan warna tambahan yang menarik dalam film ini.
Elemen Teknis yang Mendukung Cerita
Selain cerita dan aktor yang menarik, sisi teknis dari film ini pun patut untuk diapresiasi. setiap detail dipikirkan betul oleh para kru dibalik film “Tunggu Aku Sukses Nanti”. Seperti penataan artistik dalam film ini mulai dari set lokasi yang dipilih yaitu di kawasan Ibu Kota Jakarta dan Stasiun KRL yang mendukung cerita, properti rumah Arga yang dibuat begitu bersahaja dan kostum keluarga Arga dengan nuansa yang lebih simpel dan apa adanya dibandingkan dengan kerabat mereka yang lain, sampai detail kecil seperti riasan Bu Rita yang tanpa perhiasan pun menjadi simbol kuat keterbatasan ekonomi keluarga. Suasana hangat dari film ini juga didukung oleh penataan musik yang sangat baik yaitu pemilihan soundtrack lagu 'Gemilang' dari Perunggu yang bertema perjuangan hidup, harapan dan optimisme di tengah rintangan yang berat yang semakin memperkuat suasana emosional film. Menariknya dalam film ini mengandung beberapa easter egg yang menambah keseruan sekaligus menjadi detail menarik bagi penonton yang jeli.
Tangis, Tawa, dan Luka
Tunggu Aku Sukses Nanti merupakan tontonan yang cocok dinikmati bersama keluarga karena terasa ringan, namun di balik kesederhanaannya tetap menyimpan makna yang cukup dalam untuk direnungkan. Setelah menonton film ini banyak emosi yang dirasakan mulai dari kesal, sedih, terhibur dengan komedi komedi yang ringan semua melebur menjadi satu perasaan yang lengkap. Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” seakan mengingatkan kita untuk tidak memaksakan diri melampaui batas, serta menyadari bahwa setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing dalam mencapai tujuan hidupnya. Satu quote yang saya ingat dari film ini adalah “Jangan takut ketinggalan kereta. Dimana ada kemauan, disitu hidup akan berikan tempat untukmu”.
Untuk siapapun yang sedang berjuang, film ini terasa seperti teman curhat. Untuk yang pernah berada di fase ‘Arga’, film ini dapat menjadi pengingat, sementara dari sisi keluarga, film ini bisa menjadi media untuk lebih berempati dan peduli. Layaknya ada puasa setelahnya ada lebaran, maka setelah perjuangan pasti ada kebahagiaan. Barangkali setelah keluar dari ruang bioskop, kamu akan berkata dalam hati, “Tunggu aku sukses nanti…” sambil membawa pulang harapan baru.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda