Oleh Refra Elthanimbary*
JurnalPost.com – Judul tulisan ini mengambil perkataan seorang filsuf yang quotesnya berseliweran di beranda akun threads saya, Memang beberapa bulan ini saya sering membuka Aplikasi baru milik Meta itu. Bukan karena apa-apa, aplikasi itu penuh dengan tulisan-tulisan sederhana dari banyak akun yang menarik dan tak bosan untuk saya baca.
“Sulit untuk melawan keinginan; tapi mengendalikannya adalah tanda orang berakal sehat.”
Nama filsuf yang punya quote di atas, namanya Demokritos. Blio diperkirakan lahir tahun 370 SM –460 SM di Abdera-Yunani. Demokritos ini bukan orang “ecek-ecek”dalam sejarah filsafat barat yang diagung-agungkan itu, blio ini murid langsung dari Leukippos .
Leukippos ini sendiri adalah tokoh pra-socrates yang dianggap sebagai pendiri Mazhab Atomisme yang dikembangkan oleh muridnya Demokritos. Saya juga apa itu Atomisme, sengaja saya baca beberapa artikel yang menjelaskan lebih detail tentang apa Mazhab ini, serta apa doktrinya.
Sebuah penjelasan yang sederhana serta mudah untuk dipahami pahami ada pada laman www.britannica.com/ yang menjelaskan bahwa Atomisme ini menjelaskan fenomena kompleks dalam bentuk agregat partikel atau unit yang tetap.
Menariknya, dalam pandangan teori ini, material alam semesta tersusun dari partikel-partikel kecil, yang dianggap relatif sederhana dan tidak dapat diubah serta terlalu kecil untuk dapat dilihat. Oleh karena-nya, keragaman bentuk yang terlihat di alam, didasarkan pada perbedaan dalam partikel-partikel serta dalam konfigurasinya;
Aliran filsafat Atomisme ini menarik, munculnya itu untuk mengkritisi Mazhab Filsafat Elea yang meyakini bahwa segala hal adalah satu dan ruang kosong tidaklah ada. Mazhab Elea ini salah satu Mazhab Filsafat pra-Socrates juga, tapi pandangannya tidak sejalan dengan Leukippos, lalu Blio kembangin Atomisme sebagai tanggapan atas Mazhab Elea.
Memangnya apa itu Mazhab Elea? Bagaimana pandangan dan doktrinnya? Kenapa bisa dikritisi oleh Leukippos, gurunya Demokritos? Sederhanya begini, kalau Teori atau Mazhab Atomisme Leukippos itu menerima keabsahan bukti epistimologi dari pengalaman indrawi. Sedang Filsuf-filsuf Mazhab Elea itu kebalikannya. Mereka menolak keabsahan epistimologi dari pengalaman indrawi, sebaliknya mereka lebih suka kejelasan atau harus logis sebagai syarat suatu kebenaran. Jadi menurut Mazhab ini kebenaran harus kontradiktif.
Sederhana-nya, kebenaran akan kejelasan logika argumen harus dimulai dengan suatu asumsi, lalu dari asumsi tersebut diturunkan suatu hasil yang absurd, tidak masuk akal, atau kontradiktif, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa asumsi tadi adalah salah (dan ingkarannya benar).
Kembali ke Quote yang ditulis oleh Demokritos yang jadi judul tulisan ini; “Sulit Melawan Keinginan”. Keinginan saya pada dasar serta dalam keadaan sadar, tidak ingin membahas terlalu panjang sejarah mazhab dan tokoh filsuf diatas. Apatah lagi ingin mengali dalam tentang tokoh-tokoh Yunani itu yang asing bagi saya itu.
Tapi ini-lah bukti dari perasaan yang “Sulit Melawan Keinginan” untuk tahu lebih dalam terhadap segala sesuatu, sekalipun tidak penting bagi sebagaian orang untuk diketahui. Saya agak sepakat, bahwa yang dikatakan Demokritos ada benar juga dalam beberapa kondisi;
Pertama, untuk mengasah kemampuan menganalisa, jika dipikrkan lagi kata “Sulit Melawan Keinginan…,” begitu relate dengan keadaan kita yang tidak jarang “Sulit Melawan Keinginan…” untuk malas, tidur-tiduran, berlama-lama di depan layar gadget untuk hal yang sia-sia.
Kedua, Jika kita bisa “Mengendalikan Keinginan” seperti Quote Demokritos, akan berdampak pada produktifitas diri kita, atau palling tidak muncul sedikit usaha untuk memamulai mengendalikan segala keinginan yang terhadap sesuatu yang melemahkan kita dalam segi apapun.
Ketiga, atau yang terakhir. Jangan ditelah mentah-mentah kata-kata Demokritus di atas, bahwa tanda orang berakal adalah yang mampu mengendalikan dan melawan keinginan. Keinginan itu juga harus tumbuh sebagaimana sifat ini melekat secara alami pada diri kita sebagai manusia, tetapi harus seimbang, sejalan dan sesuai syariat Allah SWT. Kata-kata Demokritos di atas baru bisa digunakan sebagai “dalil” kalau dalam perjalanan, keinginan kita sudah tidak sesuai dengan ketentuan dan tuntunan Allah SWT.
Catatan kaki:
https://id.wikipedia.org/wiki/Demokritos
https://id.wikipedia.org/wiki/Leukippos
https://www.britannica.com/topic/atomism
https://id.wikipedia.org/wiki/Mazhab_Elea
https://id.wikipedia.org/wiki/Mazhab_Elea
https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Pembuktian_melalui_kontradiksi
*Penulis Buku Lakon Abadi (Mitra Karya: 2021), Aktivis Sosial, Kadep Ristek Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah.





