Oleh : Rima Lana Syafi`a, Nur Faridah, Jauharin Insi, Dela Ayu Abelia
JurnalPost.com – DALAM perjalanan hidup, setiap orang pasti akan memasuki masa lanjut usia. Masa ini seringkali dianggap sebagai fase beristirahat setelah melewati berbagai peran dan tanggung jawab di masa muda. Namun sayangnya, perhatian terhadap lansia lebih sering terfokus pada kondisi fisik, sementara kebutuhan jiwa dan batin mereka kurang mendapat perhatian. Padahal, menjaga kesehatan jiwa lansia sama pentingnya dengan menjaga kesehatan tubuh mereka. Lansia bukan hanya berhadapan dengan kondisi fisik yang mulai melemah, tetapi juga mengalami perubahan besar dalam kehidupan sosial dan emosional. Mereka sering kali harus menghadapi perasaan kesepian, kehilangan pasangan, penurunan peran dalam keluarga, hingga rasa tidak lagi dianggap penting. Semua itu berpotensi mempengaruhi kesehatan jiwa mereka. Di sinilah peran terapi psikologi menjadi sangat dibutuhkan. Secara teori, hak lansia atas kesehatan jiwa sudah diatur dalam berbagai kebijakan dan regulasi. Namun, dalam kenyataannya, pemenuhan kebutuhan ini masih sering terabaikan. Padahal, pemenuhan hak atas kesehatan jiwa tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi kewajiban keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan. Terapi psikologi seharusnya tidak hanya dipahami sebagai solusi ketika lansia mengalami masalah kejiwaan, tetapi juga sebagai upaya pencegahan agar lansia.

tetap memiliki kualitas hidup yang baik. Pengalaman kami dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Pohkecik menjadi bukti nyata bahwa terapi psikologi dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan jiwa lansia. Misalnya, melalui Reminiscence Therapy, para lansia diajak mengingat kembali pengalaman hidup mereka yang berharga, sehingga muncul rasa bangga dan bahagia yang mampu mengurangi kecemasan. Melalui Support Group, lansia memiliki ruang untuk saling berbagi cerita, mendapatkan dukungan emosional, dan merasa tidak sendirian. Bahkan terapi sederhana seperti Mindfulness dan latihan relaksasi dapat membantu mereka lebih tenang dan merasa dihargai. Namun, di lapangan kami juga menemukan berbagai tantangan. Masih banyak anggapan keliru bahwa terapi psikologi hanya diperuntukkan bagi orang yang mengalami
gangguan mental berat. Selain itu, keterbatasan jumlah tenaga psikolog di tingkat desa serta minimnya program pendampingan berkelanjutan sering menjadi hambatan utama. Jika tidak ada dukungan nyata dari berbagai pihak, upaya menjaga kesehatan jiwa lansia hanya akan menjadi kegiatan sesaat yang tidak berdampak panjang. Karena itu, penting adanya kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader masyarakat, dan keluarga. Terapi psikologi perlu diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan dasar di desa. Tak kalah penting, keluarga dan masyarakat harus dibekali pemahaman serta keterampilan dasar pendampingan lansia agar mereka mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan jiwa lansia di lingkungan terdekat.
Ketuan KKN R30 : Deva Rio
Dosen pembimbing lapangan : Ricky Alejandro Martin, S. Psi., M.Psi., Psikolog





