JurnalPost.com – Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia selalu menjadi momen penting untuk merenungkan makna sejati dari sebuah perjuangan. Namun, di tengah hingar-bingar perayaan yang seringkali hanya berfokus pada kemeriahan belaka, lingkungan akademika IKIP Widya Darma Surabaya memilih untuk merayakan HUT ke-80 dengan cara yang lebih merangkul dan bermakna. Pada hari Rabu, 13 Agustus 2025, pukul 19.00 WIB, Aula Kegiatan Mahasiswa menjadi saksi bisu berkumpulnya seluruh keluarga besar institusi ini, bukan hanya para dosen dan tenaga kependidikan (tendik), tetapi juga satpam dan office boy. Kehadiran seluruh elemen ini mengubah perayaan ini dari sekadar seremoni formal menjadi sebuah manifestasi nyata dari semangat persatuan dan gotong royong yang menjadi landasan bangsa. Esai ini akan mengupas tuntas bagaimana setiap segmen acara, mulai dari pidato inspiratif pimpinan, lomba-lomba yang meriah, hingga penyerahan surat keputusan, secara harmonis membangun narasi tunggal tentang komitmen seluruh civitas akademika IKIP Widya Darma untuk mengisi kemerdekaan dengan prestasi demi kemajuan bangsa dan negara.

Acara dibuka dengan sebuah ritual yang sederhana namun sarat makna, yaitu menyanyikan lagu nasional yang dipimpin oleh Dr. Edy Suseno. Tindakan ini, meskipun terlihat sepele, sesungguhnya adalah fondasi dari seluruh rangkaian kegiatan malam itu. Lagu nasional bukanlah sekadar alunan musik; ia adalah himne yang merangkum sejarah panjang perjuangan, idealisme, dan harapan seluruh rakyat Indonesia. Melalui bait-baitnya yang penuh semangat, setiap individu yang hadir, tanpa memandang jabatan atau posisi, diingatkan akan harga mahal dari sebuah kemerdekaan dan tanggung jawab yang menyertainya. Ini adalah momen untuk menenggelamkan diri dalam identitas kolektif sebagai bangsa Indonesia, sebelum melangkah lebih jauh ke dalam konteks institusi.

Setelah semangat patriotisme terisi penuh, Rektor, Dr. Nur Sukri, membuka acara secara resmi. Dalam pidatonya yang singkat namun padat makna, beliau menegaskan bahwa perayaan yang sederhana ini seharusnya menjadi pendorong utama bagi seluruh civitas akademika untuk mengisi kemerdekaan dengan prestasi. Kata-kata ini menjadi mantra yang menggarisbawahi tema utama perayaan: bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari sebuah misi abadi untuk terus berkarya. Prestasi yang dimaksud tidak hanya terbatas pada pencapaian akademik seperti publikasi jurnal, penelitian inovatif, atau paten, melainkan juga mencakup dedikasi dalam mengajar, efisiensi dalam pelayanan administrasi, ketangguhan dalam menjaga keamanan kampus, dan bahkan ketulusan dalam memastikan kebersihan lingkungan. Semangat ini adalah jantung dari sebuah perguruan tinggi yang berfungsi sebagai lokomotif peradaban, yang tugas utamanya adalah melahirkan generasi-generasi berprestasi yang akan melanjutkan estafet pembangunan bangsa.

Penting untuk digarisbawahi bahwa perayaan ini diketuai oleh Samsul Arifin, M.Pd., yang menunjukkan bahwa perayaan ini adalah inisiatif dari dan untuk seluruh komunitas. Kepemimpinan ini menegaskan nilai gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, di mana setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab. Hal ini sejalan dengan budaya akademik yang seharusnya inklusif dan kolaboratif, di mana keberhasilan institusi adalah hasil kerja sama dari semua pihak, dari pimpinan tertinggi hingga staf terdepan. Semangat gotong royong inilah yang kemudian tercermin dalam berbagai lomba yang diadakan untuk memeriahkan suasana.

Berbagai lomba tradisional, seperti makan kerupuk, gigit sendok kelereng, merangkak dengan karton, rebut gelas, lempar bola gelas, dan estafet hanger, dipilih bukan tanpa alasan. Lomba-lomba ini tidak hanya menawarkan hiburan yang meriah dan tawa lepas, tetapi juga sarat akan nilai-nilai filosofis yang mendalam. Lomba makan kerupuk, misalnya, mengajarkan tentang kesabaran, kegigihan, dan perjuangan melawan tantangan yang ada di depan mata. Lomba gigit sendok kelereng melatih keseimbangan dan fokus, mengingatkan bahwa dalam mencapai tujuan, ketenangan dan presisi adalah kunci. Merangkak dengan karton mengajarkan tentang adaptasi dan kreativitas dalam menghadapi keterbatasan. Sementara itu, lomba rebut gelas dan lempar bola gelas, yang menuntut kecepatan dan ketepatan, menggambarkan dinamika persaingan yang sehat dalam dunia akademik.

Namun, di antara semua lomba, estafet hanger mungkin menjadi metafora paling kuat untuk kehidupan akademik. Lomba ini menuntut kerja sama tim yang solid, di mana setiap anggota harus menjalankan perannya dengan sempurna untuk memastikan hanger tidak jatuh dan estafet dapat berlanjut. Ini adalah cerminan sempurna dari proses pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi, di mana ilmu pengetahuan dan inovasi tidak pernah lahir dari upaya tunggal, melainkan dari kolaborasi yang berkelanjutan. Setiap dosen, tendik, satpam, dan office boy adalah bagian dari estafet ini, saling mendukung dan menginspirasi untuk memastikan roda institusi terus berputar dan menghasilkan lulusan yang kompeten serta penelitian yang bermanfaat. Selama berlangsungnya kegiatan yang penuh keceriaan ini, para peserta juga disuguhi es buah dan camilan gorengan yang bervariasi. Hidangan sederhana ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dan persatuan dapat ditemukan dalam hal-hal yang paling dasar, dan bahwa kebersamaan adalah bumbu terpenting dalam setiap perayaan. Ini adalah momen untuk sejenak melupakan hierarki formal dan status, melebur dalam kebersamaan sebagai satu keluarga besar IKIP Widya Darma Surabaya yang bersatu dalam semangat kemerdekaan.

Puncak dari seluruh perayaan ini, dan mungkin bagian yang paling signifikan, adalah acara di penghujung malam. Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris, Dyah Nugraheny Priastuti; Kaprodi Ekonomi, Dr. Vina Budiarti Mustika Sari; dan Kaprodi Matematika, Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi, M.Pd., menyerahkan surat keputusan (SK) pengangkatan dosen baru. Momen ini secara langsung mengaitkan perayaan HUT RI dengan misi inti perguruan tinggi, yaitu Tri Darma Perguruan Tinggi. Kehadiran dosen baru ini adalah manifestasi nyata dari komitmen IKIP Widya Darma untuk terus berkembang dan memperkuat fondasinya dalam tiga pilar utama: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Pengangkatan dosen baru ini bukan hanya sekadar penambahan staf, melainkan investasi strategis untuk menjamin kelancaran dan kualitas pelaksanaan Tri Darma di masa depan. Mereka adalah tunas-tunas baru yang diharapkan akan membawa ide-ide segar dan semangat inovatif, meneruskan estafet prestasi yang telah dicanangkan oleh Rektor.

Para dosen baru ini akan menjadi garda terdepan dalam melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi. Dalam pilar pertama, pendidikan dan pengajaran, mereka akan bertanggung jawab untuk mendidik dan membentuk karakter mahasiswa, bukan hanya sebagai individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Mereka akan menjadi teladan dalam integritas, etos kerja, dan semangat belajar seumur hidup. Di pilar kedua, penelitian dan pengembangan, mereka diharapkan akan berkontribusi dalam memajukan ilmu pengetahuan melalui riset-riset yang relevan dan inovatif. Penelitian adalah jantung dari sebuah universitas, dan melalui penelitian, perguruan tinggi dapat memberikan solusi nyata untuk berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat dan negara. Terakhir, dalam pilar ketiga, pengabdian kepada masyarakat, para dosen baru akan terlibat dalam berbagai program yang secara langsung membawa manfaat bagi komunitas di sekitar mereka, mengimplementasikan hasil penelitian, dan mempraktikkan ilmu yang mereka kuasai untuk kemaslahatan bersama. Momen penyerahan SK ini menjadi simbol bahwa perayaan HUT RI di lingkungan akademik adalah perayaan yang berorientasi pada masa depan, pada karya-karya yang belum terlaksana, dan pada janji-janji yang harus ditepati.

Menutup rangkaian acara yang penuh kegembiraan dan kebersamaan, dilakukan pembagian hadiah untuk para pemenang lomba. Hadiah-hadiah tersebut, meskipun sederhana, mengandung makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar nilai materialnya. Hadiah ini bukan hanya tentang pengakuan atas kemenangan, tetapi juga merupakan simbol apresiasi atas semangat juang, kerja sama tim, dan sportivitas yang telah ditunjukkan oleh semua peserta. Pembagian hadiah yang sederhana ini mengajarkan sebuah pelajaran berharga: bahwa yang terpenting bukanlah seberapa besar hadiahnya, melainkan bagaimana kita menghargai setiap usaha dan partisipasi. Hal ini menumbuhkembangkan budaya apresiasi dalam lingkungan kampus, di mana setiap kontribusi, sekecil apa pun, dihargai dan diakui. Apresiasi ini menciptakan atmosfer positif yang memotivasi setiap individu untuk terus berpartisipasi dan berkontribusi, tidak hanya dalam lomba, tetapi juga dalam tugas-tugas sehari-hari mereka, baik sebagai pendidik, staf administrasi, maupun staf pendukung lainnya.

Secara keseluruhan, perayaan HUT RI ke-80 di IKIP Widya Darma Surabaya adalah sebuah paradigma ideal tentang bagaimana sebuah institusi pendidikan tinggi seharusnya memaknai kemerdekaan. Ia bukanlah sekadar perayaan yang berfokus pada masa lalu, melainkan sebuah ritual yang mentransformasi semangat perjuangan menjadi semangat berprestasi. Dari lagu nasional yang membangkitkan rasa patriotisme, pidato Rektor yang menggarisbawahi pentingnya prestasi, lomba-lomba tradisional yang menumbuhkan kebersamaan dan nilai-nilai luhur, pembagian hadiah sederhana yang menumbuhkan budaya apresiasi, hingga penyerahan SK pengangkatan dosen baru yang menegaskan komitmen institusi terhadap Tri Darma, setiap elemen acara saling terhubung untuk membentuk sebuah narasi yang koheren. Narasi ini adalah tentang tanggung jawab kolektif untuk mengisi kemerdekaan dengan cara yang paling fundamental: melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Melalui komitmen yang diperbarui ini, civitas akademika IKIP Widya Darma Surabaya tidak hanya merayakan 80 tahun kemerdekaan, tetapi juga berjanji untuk terus menjadi pilar yang kokoh dalam membangun masa depan bangsa yang lebih gemilang, satu prestasi demi satu, satu inovasi demi satu. Perayaan ini adalah bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan tidak pernah pudar, melainkan terus hidup dan menyala dalam setiap langkah dan karya insan akademis.
Sekedar informasi:
IKIP Widya Darma News: https://drive.google.com/drive/folders/19xOYJBhCysX10LEi6YRIhl-BaJVdjgB1?usp=drive_link
Penulis:
Dr. Edy Suseno, S.Pd.,M.Pd.
Riados Solichin, S.Pd.,M.Pd.
Samsul Arifin, S.Pd.,M.Pd.





