JurnalPost.com – Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat, yang menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari masalah kesehatan mental hingga kesulitan dalam berinteraksi sosial, terutama dengan banyaknya gangguan digital. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk memiliki rutinitas yang mendukung kesehatan, menjaga keseimbangan hidup, serta memperkuat karakter mereka. Salah satu cara yang efektif untuk mencapai hal tersebut adalah dengan membangun kebiasaan bangun pagi. Di SMP Negeri 61 Surabaya, fokus tidak hanya diberikan pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa melalui program unggulan pagi. Program ini meliputi 6S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, Salim), Sholat Dhuha berjamaah, dan mengaji ayat-ayat pendek Al-Qur’an. Kegiatan-kegiatan ini memiliki peran yang signifikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang disiplin, religius, dan penuh kehangatan.
Di SMPN 61 Surabaya, setiap pagi sebelum memasuki kelas, seluruh siswa dan guru secara bersama-sama memulai hari dengan budaya Pembiasaan 6S yang telah menjadi kebiasaan di sekolah. Hal ini bukan hanya tentang menjaga sopan santun, tapi lebih jauh untuk membentuk karakter positif dalam setiap individu di lingkungan sekolah. Melalui kebiasaan ini, siswa diajak untuk senantiasa memberikan senyum yang ramah, menyapa dengan penuh rasa hormat, serta mengucapkan salam dengan tulus. Tak hanya itu, pembiasaan sopan dan santun juga dipraktikkan dalam setiap interaksi, yang memperlihatkan betapa pentingnya etika dalam berhubungan dengan orang lain. Salim sebagai ungkapan rasa hormat kepada guru juga berfungsi sebagai simbol yang mempererat hubungan antara guru dan siswa, menciptakan kedekatan yang lebih dalam di dalam lingkungan sekolah.
.
Semua ini dirancang untuk menciptakan suasana yang penuh kehangatan dan saling menghargai di sekolah.
• Senyum: Menumbuhkan sikap ramah dan positif.
• Salam: Mengajarkan kesantunan dalam berinteraksi.
• Sapa: Membiasakan komunikasi yang baik antarwarga sekolah.
• Sopan & Santun: Menerapkan etika dan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari
• Salim: Tradisi bersalaman dengan guru sebagai bentuk penghormatan.
“Dengan 6S, siswa tidak hanya pintar secara akademis, tapi juga berbudi pekerti luhur,” ujar Dra nelvi siregar.
Sholat Dhuha dan Tadarus: Meningkatkan Spiritualitas

SMP Negeri 61 Surabaya rutin melakukan Sholat Dhuha berjamaah sebagai bagian dari program 6S. Sebelum Dzuhur, sholat Dhuha adalah sunnah. Terlepas dari kenyataan bahwa kegiatan ini dilakukan satu kali seminggu tidak hanya memberikan ketenangan pikiran dan ketentraman, tetapi juga mengajarkan siswa untuk disiplin dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Siswa belajar untuk saling mendukung dan menciptakan ikatan spiritual yang kuat melalui doa berjamaah. Siswa dapat menggunakan sholat Dhuha sebagai cara memulai hari dengan rasa bersyukur dan tenang, yang akan berdampak pada bagaimana mereka bertindak sepanjang hari , baik di sekolah maupun di rumah.
Salah satu kegiatan lainnya yang mendukung pembiasaan pagi di SMP Negeri 61 Surabaya adalah mengaji. Pada setiap pagi, siswa diajak untuk mengaji dengan membacakan surat-surat pendek dari Al-Qur’an.
“Pembiasaan pagi ini adalah cara kami membiasakan siswa dekat dengan agama sejak dini. kegiatan ini juga menumbuhkan kedisiplinan, rasa tanggung jawa dan sangat bermanfaat untuk membentuk karakter siswa,” jelas Bpk Ainun Guru Agama Islam.
Dampak Positif Pembiasaan Pagi
1. Meningkatkan Kedisiplinan – Siswa terbiasa datang tepat waktu agar tidak ketinggalan Sholat Dhuha dan pembiasaan 6S.
2. Memperkuat Karakter Religius – Rutinitas mengaji dan sholat membentuk kepribadian yang berakhlak mulia.
3. Menjalin Hubungan Harmonis – Pembiasaan 6S menciptakan suasana sekolah yang saling menghargai antara siswa, guru, dan staf.
Komitmen Sekolah
Kepala SMPN 61 Surabaya, Ibu Aisijah Hartati, S.Pd.,M.Pd, menegaskan bahwa pembiasaan pagi adalah investasi karakter: “Kami ingin lulusan tak hanya unggul di bidang akademik, tapi juga menjadi insan yang beriman dan beradab.”
Ditulis oleh Kiki Pegy widyarta Mahasiswa dari Universitas 17 Agustus 1945





