JurnalPost.com – Kesadaran terhadap pentingnya hidup ramah lingkungan tidak harus dimulai dari ruang seminar atau institusi besar. Kadang, ia tumbuh secara alami dari sebuah kegiatan sederhana di desa — seperti yang dilakukan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sudimoro. Salah satu kegiatan unggulan dalam program KKN kali ini adalah pelatihan tie dye dan ecoprint dengan pewarna alami, yang melibatkan para ibu rumah tangga sebagai peserta utama. Hasilnya? Di luar dugaan: antusiasme tinggi, suasana hangat, serta karya yang tidak hanya indah, tapi juga bermakna.
Kegiatan ini dirancang dengan prinsip partisipatif dan kontekstual. Para ibu tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut aktif sebagai pelaku utama. Mereka diajak untuk mengenal kembali potensi lingkungan sekitar — daun jati, kulit bawang merah, kunyit, daun jarak, hingga bunga-bunga liar yang selama ini dianggap biasa saja — dan mengubahnya menjadi sumber warna alami yang aman dan indah di atas kain.
Pelatihan dibuka dengan sesi pengenalan konsep pewarna alami, dampak negatif penggunaan pewarna sintetis bagi kesehatan dan lingkungan, serta potensi ekonomi dari produk kreatif berbasis alam. Para ibu tampak tertarik dan terbuka terhadap ide-ide baru. Sebagian dari mereka bahkan mengaku belum pernah mendengar tentang ecoprint sebelumnya. Ini menjadi awal yang baik untuk membuka ruang pembelajaran.
Sesi praktik tie dye berlangsung meriah. Dengan panduan dari tim KKN, ibu-ibu mempelajari cara melipat dan mengikat kain, lalu mencelupkannya dalam larutan pewarna alami. Warna-warna hangat dan lembut dari bahan-bahan lokal mulai membentuk motif yang unik. Tawa dan rasa penasaran terlihat di wajah para peserta saat mereka membuka ikatan kain dan melihat hasilnya yang tak terduga namun menawan.
Setelah tie dye, dilanjutkan dengan teknik ecoprint — metode mencetak bentuk daun secara langsung ke kain. Kegiatan ini mengajak peserta menyusun daun dengan pola, memukulnya perlahan, lalu merebus atau mengukusnya agar warnanya melekat. Proses ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga mengandung nilai edukatif: bagaimana warna dan bentuk bisa diambil dari alam tanpa merusaknya.

Seluruh kegiatan berjalan dengan sangat lancar. Para ibu mengaku senang bisa mengikuti kegiatan ini. Selain menambah pengetahuan, mereka merasa lebih dekat dengan alam, dan tak sedikit yang mengungkapkan keinginan untuk mencoba kembali di rumah. Bahkan, beberapa di antaranya mulai membayangkan untuk memasarkan hasil karyanya secara kecil-kecilan di lingkungan sekitar.
Lebih dari sekadar kegiatan keterampilan, pelatihan ini membawa pesan penting: bahwa pelestarian lingkungan dapat dimulai dari rumah, dari dapur, dari halaman, dari bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar kita. Kegiatan seperti ini juga menjadi ruang pemberdayaan, di mana para ibu tidak hanya belajar, tetapi juga merasa dihargai dan dipercaya sebagai agen perubahan.
Desa Sudimoro patut berbangga. Melalui kegiatan ini, tercermin semangat gotong royong, pembelajaran kontekstual, dan kepedulian terhadap masa depan lingkungan. Tie dye dan ecoprint bukan sekadar teknik pewarnaan, tapi simbol dari proses membangun kesadaran bersama — bahwa hal kecil yang dilakukan hari ini bisa memberi dampak besar untuk hari esok.
Semoga kegiatan ini dapat menjadi contoh baik bagi desa-desa lain. Sebuah bukti bahwa perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, tapi cukup dari secarik kain, selembar daun, dan sekelompok ibu yang mau belajar dan berbagi.
oleh: Rossiana Puspita Dewi,Muhamad Fathir Akbar, Mokhamad Sulton Amirulloh,Divia Rahma Putri,Zulfa Zeina
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya





