Tajinan, Kabupaten Malang, JurnalPost.com – Dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan, kelompok Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Khusus BPN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan sebuah program khusus. Progam ini bertajuk Sosialisasi Pencegahan Perundungan atau Bullying di Kalangan Pelajar. Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hasil-hasil kajian akademik dari kampus diolah dan disalurkan dalam bentuk aksi sosial yang berdampak langsung. Dengan demikian, PMM menjadi penghubung antara teori dan praktik yang menyasar kebutuhan riil masyarakat. Dalam hal ini, lingkungan sekolah dipilih sebagai titik fokus pembentukan budaya positif dan bebas kekerasan.
Acara berlangsung pada Rabu, 6 Agustus 2025 di Aula SMPN 1 Tajinan. Tidak hanya dihadiri oleh siswa-siswi dari SMPN 1 Tajinan, kegiatan ini juga melibatkan peserta dari SMP Muhammadiyah 7 Tajinan, SMP Islam Al-Hikmah, dan SMP Hasyim Asy’ari. Antusiasme lintas sekolah menunjukkan bahwa isu bullying adalah perhatian bersama. Keterlibatan tersebut memperluas jangkauan dampak positif kegiatan ini.
Acara dibuka dengan sambutan dari Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ainul Mutakim, S.Pd. sebagai Kepala Sekolah SMPN 1 Tajinan, serta Lutfan Abdul Malik perwakilan dari PMM Khusus BPN Kecamatan Tajinan. Ketiganya menyampaikan urgensi menangani perundungan sejak dini dalam dunia pendidikan. Mereka juga mengajak seluruh peserta untuk aktif menjadi bagian dari perubahan positif di sekolah. Hal ini memperkuat semangat kolaboratif antar pihak.
Dalam sambutannya, Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd. membagikan pengalaman pribadinya sebagai korban bullying saat sekolah. Ia mendorong siswa untuk tidak membalas dengan kekerasan, melainkan lewat prestasi. “Balas dendam terbaik adalah menunjukkan bahwa kamu bisa lebih hebat dari mereka,” tuturnya penuh semangat. Kisahnya memberi motivasi besar bagi para peserta.
Ainul Mutakim, S.Pd. selaku kepala sekolah juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada tim PMM UMM. Ia menilai kegiatan ini sangat positif untuk membentuk kesadaran siswa terhadap pentingnya saling menghargai. “Kami sangat berterima kasih atas kepedulian mahasiswa UMM terhadap isu bullying di sekolah kami,” ujarnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk menjaga lingkungan belajar yang sehat.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian dua materi utama yang disampaikan secara interaktif. Materi pertama berjudul “BERANI BAIK BUKAN BERANI NGEBULLY” disampaikan oleh Fahmi Lutfia Natarina. Materi kedua bertema “SEKOLAH BUKAN TEMPAT TAKUT” dibawakan oleh Jihan Salsabila. Keduanya mengajak siswa untuk memahami bahwa keberanian sejati terletak pada kebaikan dan rasa empati.
Para siswa tampak aktif dan antusias dalam mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab. Mereka berani berbagi pengalaman pribadi serta menyampaikan pendapat terkait bullying. Salah satu peserta, Amira dari SMPN 1 Tajinan, menyatakan kesannya. “Acaranya sangat inspiratif dan pastinya membawa dampak yang positif untuk kami sebagai pelajar,” ucapnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa PMM UMM berperan sebagai agen perubahan sosial yang nyata. Mereka tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya keamanan emosional di sekolah. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pendekatan edukatif mampu mencegah kekerasan secara efektif. Harapannya, nilai-nilai positif ini dapat terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari pelajar.
Program PMM ini membuktikan bahwa pengabdian tidak harus rumit, tapi harus berdampak. Dengan menjadikan hasil riset sebagai dasar tindakan, mahasiswa mampu membawa perubahan nyata. Kegiatan ini menjadi bukti sinergi antara kampus dan masyarakat dalam membentuk generasi muda yang berkarakter. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat tumbuh bersama tanpa takut dan tanpa kekerasan. (Anzalna Ananda Putri)





