JurnalPost.com – Ketika membahas mengenai ketidaksetaraan gender, banyak perhatian sering kali terfokus kepada perempuan dan peran mereka dalam melawan ketidaksetaraan. Akan tetapi terdapat suatu fenomena yang jarang dibahas yaitu, laki-laki secara tidak langsung terlibat dalam aksi deskriminatif atau patriarkal, atau dalam artian laki-laki tetap berkontribusi pada pelanggengan sistem ketidaksetaraan gender. Dalam artikel ini akan mengupas lebih dalam mengenai maskulinitas komplisit, apa dampaknya, bagaimana maskulinitas komplisit dapat berjalan, serta mengapa hal ini perlu untuk diperhatikan.
Apa Itu Maskulinitas Komplisit?
Maskulinitas komplisit mengacu pada peran dari seorang laki-laki yang secara tidak langsung terlibat dalam proses deskriminasi atau adanya tindakan dominasi terhadap perempuan. akan tetapi mereka dapat tetap menikmati keuntungan yang diberikan oleh sistem patriarkal. Dengan kata lain, laki-laki yang termasuk dalam maskulinitas komplisit secara pasif mendukung ketidaksetaraan gender, akan tetapi mereka tidak menentang sistem sosial yang ada, dan tetap dapat menikmati manfaat dari segi sosial, ekonomi, ataupun politik yang telah diberikan oleh struktur tersebut.
Contoh Maskulinitas Komplisit yang Terjadi di Dalam Kehidupan Sehari-hari
Karakteristik utama dari Maskulinitas Komplisit ialah peranannya yang tak tampak dan secara eksplisit mendukung ketidaksetaraan, akan tetapi mereka memperkuat peran tersebut melalui sikap diam atau ketidakpedulian mereka. Berikut beberapa contoh yang dapat ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari;
Tidak Berpartisipasi Dalam Pembagian Tugas Rumah Tangga
Didalam suatu keluarga seringkali perempuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, meskipun hal tersebut tidak atas dasar permintaan laki-laki sekalipun, akan tetapi mereka tidak berusaha untuk membagi tugas dengan adil. Hal tersebut mengindikasikan adanya proses dominasi dan mendukung ketidaksetaraan gender dalam ruang lingkup domestik. Dimana laki-laki dapat menikmati kenyamanan yang diberikan oleh perempuan, tanpa secara aktif berkontribusi ataupun mempertanyakan pembagian tugas yang tidak setara, dengan mereka yang tidak mengubah sistem pembagian pekerjaan rumah tangga.
Mendapat Keuntungan di Dalam Dunia Pekerjaan
Dalam dunia pekerjaan juga terindikasi adanya dominasi dan ketidaksetaraan laki laki terhadap perempuan. Dalam dunia pekerjaan laki-laki cenderung mendapatkan kesempatan lebih banyak dibanding perempuan, seperti halnya ketika laki-laki mendapatkan peluang promosi atau gaji yang lebih tinggi meskipun perempuan juga melakukan pekerjaan yang serupa. seringkali laki-laki tidak mempertimbangkan atau menentang ketidaksetaraan ini, secara tidak langsung mereka turut berperan dalam mempertahankan sistem yang memberi mereka keuntungan berdasarkan jenis kelamin.
Sikap Toleransi Terhadap Budaya “Bro Culture”
Bro Culture merupakan istilah yang merujuk pada budaya suatu kelompok atau lingkungan sosial yang didominasi oleh nilai-nilai maskulin yang sering kali merujuk pada hal-hal negatif. Dalam budaya ini menegaskan mengenai dominasi laki-laki atas perempuan, Seperti ketika para laki-laki merendahkan perempuan sering kali dianggap hanya sebagai lelucon belaka atau hal yang biasa. Laki-laki yang tidak melawan budaya ini, meskipun tidak aktif terlibat dalam perilaku merendahkan, mereka secara tidak langsung berkontribusi pada lingkungan yang mendukung ketidaksetaraan gender dan eksklusi perempuan.
Dampak Dari Maskulinitas Komplisit Terhadap Kesetaraan Gender
Berbicara mengenai dampak yang ditimbulkan dari Maskulinitas Komplisit terhadap ketidaksetaraan gender, meskipun dalam hal ini laki-laki yang terlibat tidak secara aktif berperan dalam mendeskriminasi perempuan, dampak yang ditimbulkan terhadap kesetaraan gender cukup signifikan, yaitu mereka tetap berkontribusi atas keberlanjutan struktur patriarkal yang ada dan mereka memperkuat sistem yang tidak adil dan merugikan perempuan. Dengan sikap diam tidak melawan, atau bertindak untuk mendukung perempuan dapat memperpanjang pekanggengan ketidaksetaraan gender dalam suatu masyarakat.
Lalu Mengapa Maskulinitas Komplisit Ini Perlu Diperhatikan?
Dalam menciptakan lingkungan yang adil dan setara, maskulinitas komplisit sangat perlu diperhatikan karena perannya yang tak tampak dalam mendukung ketidaksetaraan gender. dengan adanya keterlibatan laki-laki dalam maskulinitas komplisit sering kali mereka tidak menyadari bahwa diam dan ketidakpedulian mereka terhadap struktur sosial yang ada dapat menghambat perubahan sosial yang dibutuhkan untuk mencapai kesetaraan. Dengan demikian penting untuk laki-laki agar mengubah pola pikir mereka dan aktif terlibat dalam memperjuangkan kesetaraan.
Memberi ruang bagi laki-laki untuk berbicara tentang perasaan mereka dan mengekspresikan sisi emosional mereka tanpa takut mendapatkan hukuman atau kritik, serta memberi pemahaman dan didorong untuk lebih peka terhadap ketidaksetaraan yang ada di sekitar mereka merupakan langkah yang sangat penting dalam memperjuangkan kesetaraan.
Beberapa Langkah Untuk Menciptakan Perubahan
Beberapa Langkah yang dapat diambil Untuk Mengurangi dampak negatif dari Maskulinitas Komplisit serta untuk menuju perubahan;
1. Memberikan Pendidikan Mengenai Maskulinitas yang Inklusif
Mendidik laki-laki sejak dini mengenai pentingnya berbicara tentang perasaan dan dapat mengekspresikan emosi mereka tanpa rasa takut akan dihukum atau mendapat penilaian sosial.
2. Mendorong laki-laki untuk turut aktif dalam menyuarakan ketidaksetaraan
Memberi dorongan kepada mereka agar berani untuk bicara mengenai ketidaksetaraan serta menyuarakan perubahan dari berbagai aspek kehidupan, baik itu ditempat kerja, keluarga maupun masyarkat. menjadi sekutu perempuan
3. Memperbaiki Norma Sosial
Memberi edukasi kepada masyarakat agar dapat menerima beragam bentuk maskulinitas yang lebih empatik, terbuka, dan tidak terikat pada dominasi ataupun kekuasaan.
Kesimpulan
Maskulinitas komplisit memainkan peran penting dalam mempertahankan ketidaksetaraan gender, meskipun dilakukan secara pasif. Dengan pemahaman bahwa laki-laki meskipun tidak terlibat secara langsung dalam dominasi atau deskriminasi, mereka yang terlibat dapat dikatakan turut berperan dalam melanggengkan sistem patriarki. laki-laki harus lebih peka akan peran mereka dalam mempertahankan atau melengserkan sistem ketidaksetaraan dan lebih proaktif dalam mendukung kesetaraan gender, untuk mendorong perubahan yang lebih besar menuju masyarakat yang lebih adil dan setara.
Artikel ini dibuat oleh Anang Prasetya, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya





