Yogyakarta, JurnalPost.com — Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) dengan rasa hormat serta bangga menyatakan keberhasilan terkait program “Company Visit” yang melibatkan mahasiswa Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia. Kunjungan ini secara khusus memfokuskan pada eksplorasi dan pembelajaran budaya Jawa di Desa Wisata Mbulak Wilkel, Tambalan, Kecamatan Pleret, Bantul. Program ini tak hanya mempekokoh ikatan kolaborasi internasional, tetapi juga menyoroti peran Mbulak Wilkel sebagai pusat edukasi budaya yang otentik.
Desa Wisata Mbulak Wilkel sendiri yang merupakan desa binaan dari Program MBKM Mandiri FIKOMM UMBY, saat ini tengah intensif mengembangkan potensi wisatanya. Dengan pemandangan sawah yang memukau dan gubuk-gubuk bambu tradisional yang menambah ciri khas dari desa wisata tersebut, desa ini menawarkan daya tarik tersendiri terutama untuk para pengunjung. Program MBKM di Mbulak Wilkel sendiri bertujuan untuk mengembangkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat sekitar dalam mendukung peningkatan potensi desa wisata, termasuk melalui peningkatan literasi digital dan pemanfaatan media sosial seperti Instagram dan Tiktok.
Kunjungan mahasiswa UPSI Malaysia ke Mbulak Wilkel menjadi salah satu kegiatan puncak yang dirancang untuk memberikan kesan langsung dalam kekayaan budaya Jawa. Kegiatan inti yang diikuti meliputi belajar menulis aksara Jawa dan praktik membuat camilan tradisional Manggleng khas Mbulak Wilkel.
Nur Sulistiyo Nugroho ketua MBKM UMBY, menjelaskan alasan strategis di balik pemilihan Mbulak Wilkel sebagai destinasi utama. “Alasan utama kami memilih Mbulak Wilkel adalah karena desa ini merupakan desa binaan UMBY, khususnya tempat kami menjalankan program pengabdian masyarakat dalam rangka MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka). Melalui kunjungan ini, kami ingin sekaligus memperlihatkan secara langsung hasil dari program community service yang telah kami lakukan di sini. Kami merasa penting untuk menunjukkan dampak nyata dari kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat lokal kepada para tamu dari UPSI Malaysia,” ungkap Nur Sulistiyo.

Dr. Didik Haryadi Santoso, M.A., Dekan UMBY, menegaskan bahwa tujuan institusional dari kunjungan ini. “Tujuan dari UPSI ke sini pertama untuk kolaborasi lanjutan program-program antara Fakultas Ilmu Komunikasi dengan Fakultas Leadership Management di UPSI. Kedua, kami ingin menunjukkan bahwa di Indonesia belajar itu tidak selalu di kampus, tapi ada satu pembelajaran di luar kampus yang kami sebut dengan UPSI, belajar dengan masyarakat dan mereka bisa tahu bagaimana kompetensi kita bisa dikerahkan di masyarakat,” jelas Dr. Didik.
Ikhsan Fauzi Adha, M.I.Kom., Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), turut menambahkan detail mengenai pemilihan aktivitas budaya. “Kami menginisiasi paket wisata, dan salah satu paket yang kami tawarkan adalah paket yang mencakup penulisan aksara Jawa. Kami melihat bahwa banyak orang mulai meninggalkan budaya aksara Jawa ini. Seringkali, ada keengganan untuk mempelajarinya, padahal ini adalah budaya asli kita. Kemudian, kami juga melihat Mbulak Wilkel sebagai destinasi wisata yang perlu eksistensi lebih. Destinasi ini memerlukan paket wisata yang menarik bagi wisatawan lokal maupun asing. Sebagai kelompok MBKM Community Service, tugas kami adalah membantu Bulak Wilker dalam menyusun paket-paket wisata yang lebih ramah bagi pengunjung asing dan lokal, termasuk di dalamnya pengalaman belajar aksara Jawa ini,” papar Mas Ikhsan.
Dari sisi peserta, Iqin, merupakan salah satu mahasiswa UPSI, mengungkapkan kesan mendalamnya. “Kalau saya sebenarnya keduanya membuat kesan tapi dari segi yang berbeda. Kalau tadi kami belajar aksara itu lebih mengenal budaya Jawa dan bahasa Jawa, jadi lebih mengenalkan dari segi budayanya. Tapi kalau masak-masak Manggleng ini lebih kepada mendekatkan silaturahim karena duduk bersama-sama, masak bersama-sama seperti kesan yang manis. Jadi kesannya ya berbeda-beda,” tutur Iqin. Rekan sesama mahasiswa UPSI, Zul turut memberikan pengalamannya. “Yang saya tahu mengenai aksara Jawa awalnya saya kira tulisan ini seperti tulisan Thailand, tapi persepsi saya berubah pas tahu ternyata ini bahasa Jawa dan huruf Jawa serta saya pun senang mempelajari aksara Jawa itu karena pas awalnya saya mengira susah tapi kalau sudah teliti ternyata menyenangkan juga. Untuk Manggleng ini, sejujurnya mengingatkan saya kepada kampung halaman saya karena kami ada seperti mirip Manggleng, biasanya prosesnya lebih cepat daripada pembuatan Manggleng ini karena harus dijemur di bawah matahari dulu. Sejauh ini ya semua menarik lah ya,” imbuh Zul.





