
Wonogiri, JurnalPost.com, 31 Juli 2024 – Desa Pasekan, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, yang terletak di jalur penghubung antara Wonogiri dan Gunung Kidul, dikenal sebagai daerah yang rawan bencana tanah longsor. Menyadari pentingnya kesiapsiagaan bencana di desa ini, Naufal Hilmi Habibi, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), merancang program kerja untuk pembuatan dan pemetaan wilayah rawan bencana tanah longsor beserta penentuan titik assembly point.
Pada tanggal 31 Juli 2024, program ini diwujudkan dengan penyerahan dan penjelasan peta rawan bencana tersebut kepada perangkat Desa Pasekan. Peta tersebut mencakup pemetaan wilayah-wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap tanah longsor dan penentuan titik-titik assembly point yang strategis dan aman bagi warga jika terjadi bencana.
Dalam penjelasannya, Naufal menyampaikan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan keselamatan warga Desa Pasekan. Dengan adanya peta ini, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan mengetahui jalur evakuasi serta tempat aman yang telah ditentukan sebagai titik berkumpul sementara. Program ini juga diharapkan dapat membantu pemerintah desa dalam proses perencanaan pembangunan sarana dan prasarana agar menghindari lokasi-lokasi yang berisiko tinggi terkena bencana longsor.

Perangkat desa menyambut baik inisiatif ini dan menilai program tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Pasekan yang sering khawatir akan ancaman longsor, terutama di musim hujan. Kepala Desa Pasekan, Bapak Sutaryo, mengungkapkan apresiasinya kepada Naufal dan tim KKN Undip.
Peta wilayah rawan longsor ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi masyarakat dan pemerintah desa dalam mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat. Selain itu, peta rawan bencana yang dibuat melalui program ini diharapkan dapat menjadi acuan penting dalam proses perencanaan dan pembangunan sarana maupun prasarana di Desa Pasekan. Dengan adanya informasi yang jelas mengenai wilayah-wilayah berisiko tinggi terhadap tanah longsor, pemerintah desa dapat lebih berhati-hati dalam menentukan lokasi pembangunan infrastruktur, seperti jalan, bangunan umum, dan fasilitas lainnya. Peta ini memungkinkan perencanaan yang lebih terarah, sehingga pembangunan dapat dilakukan di lokasi yang lebih aman dan menghindari kerugian akibat bencana di masa mendatang.
Naufal Hilmi Habibi berharap program ini dapat berkontribusi dalam mengurangi risiko bencana di Desa Pasekan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di kalangan masyarakat. Selain itu, peta rawan bencana ini diharapkan dapat membantu pemerintah desa dalam proses perencanaan pembangunan sarana dan prasarana, sehingga dapat menghindari lokasi-lokasi yang berisiko tinggi terkena longsor. Ia juga mendorong perangkat desa untuk terus memperbarui peta tersebut sesuai dengan kondisi terkini, agar selalu relevan dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi warga Desa Pasekan.\




