JurnalPost.com – Mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh melaksanakan Psikoedukasi dengan tema “Dari Luka Menuju Pemulihan: Membangun Resiliensi pada Warga Simpang KKA” di Meunasah Gampong Paloh Lada, Aceh Utara, pada Jumat 28 September 2024.
Beranggotakan 5 mahasiswa, acara psikoedukasi dibuka oleh Misran Adifullah selaku Ketua Panitia, dengan judul “Dari Luka Menuju Pemulihan: Membangun Resiliensi pada Warga Simpang KKA” Ia menyampaikan semoga materi resiliensi yang diberikan dapat bermanfaat dan dapat diaplikasikan dalam keseharian.
“Tengku dan Abu sekalian kami izin menyampaikan beberapa hal, sebelumnya perkenalkan kami mahasiswa dari prodi psikologi Universitas Malikussaleh semester 5 akan menyampaikan materi terkait konflik dan resiliensi. Semoga apa yang kami sampaikan dapat bermanfaat baik kami mahasiswa maupun tengku dan abu dimasyarakat dan dapat diaplikasikan dalam keseharian”, ucapnya.
Nabila Alea Kasta selaku pemateri menyampaikan, bahwa konflik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari terutama dalam interaksi sosial. Konflik sendiri dapat terjadi dikarenakan adanya rasa benci atau dendam yang disebut sebagai konflik destruktif dan karena adanya perbedaan pendapat dalam menghadapi suatu masalah yang disebut sebagai konflik konstruktif. Sehingga resiliensi dibutuhkan baik dari individu ataupun masyarakat.
Dalam memori warga Paloh Lada mungkin masih terbayang jelas bagaimana keruh dan kacaunya suasana tahun 1999 yang puncaknya terjadi pada tragedi simpang KKA, kejadian hebat ini sampai sekarang masih diabadikan dalam sebuah monumen yang terletak di Gampong Paloh Lada, Kec. Dewantara, Kabupaten Aceh Utara sebagai pengingat akan kejadian kelam yang menimpa daerah tersebut.
Berangkat dari hal itu, mahasiswa Psikologi mencoba mengangkat rsiliensi sebagai upaya dalam menghadapai kelam masa lalu. Resiliensi sendiri adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi, mengatasi, dan menjadi kuat untuk menghadapi rintangan maupun hambatan. Dalam konteks masyarakat atau resiliensi komunitas adalah kemampuan masyarakat untuk menghadapi, bertahan, pulih, dari rintangan ataupun situasi darurat yang sifatnya merugikan.
“Resiliensi menjadi penting, dikarenakan dengan adanya reseliensi sebagai individu ataupun kelompok masyakarakat dapat menghadapi masalah, mengatasi kesulitan, bangkit kembali dan melakukan pencapaian. Untuk pengembangan resiliensi, langkah awal adalah menyadari sikap seseorang resilien itu sendiri atau sikap seseorang yang memiliki daya tahan terhadap tekanan. Selanjutnya dengan menyadari besarnya dukungan sosial yang diberikan lingkungan, memiliki kualitas pribadi yang percaya diri, optimis (tidak gampang putus asa), perduli terhadap sesama. Yang terakhir memiliki keterampilan sosial dalam berkomunikasi baik dengan diri sendiri maupun orang lain” ujarnya.
Psikoedukasi Dari Luka Menuju Pemulihan: Membangun Resiliensi pada Warga Simpang KKA
(Misran Adifullah, Nabila Alea Kasta, Satria Ramawijaya, Ridho Ahmad Octaviano, Hidayatul Makwa Nasution).





