Yogyakarta, JurnalPost.com – Kepedulian terhadap isu perundungan (bullying) menjadi perhatian serius mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (FIKOMM UMBY). Sebagai bentuk aksi nyata, mereka menggelar kegiatan Sosialisasi Anti-Bullying bertema “Stop Bullying” di Panti Asuhan/LKSA Nurul Haq Madania, Rabu (9/7).
Kegiatan ini dirancang sebagai ruang edukatif sekaligus empatik, yang bertujuan memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang bahaya bullying dan pentingnya rasa saling menghargai. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan humanis, para mahasiswa menyampaikan materi dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak-anak, seperti permainan interaktif, diskusi ringan, sesi cap tangan ekspresif, hingga cerita bersama.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika seorang anak penghuni panti berbagi pengalaman pribadi kepada Shinta salah satu pemateri di acara tersebut. Dengan suara pelan, ia mengungkapkan rasa insecure karena kondisi kulitnya yang penuh bekas luka akibat penyakit yang dideritanya. Ia sering menjadi bahan ejekan dan merasa tidak percaya diri, namun mengaku bahwa dalam kegiatan ini, ia merasa untuk pertama kalinya diterima dan tidak merasa sendirian.
“Dulu saya malu kalau terkena kamera karena orang suka lihat dan tanya-tanya soal luka saya. Tapi sekarang saya tahu, luka itu bukan salah saya, dan saya tetap berhak punya teman,” ujarnya dalam sesi berbagi cerita.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa bullying bukan hanya soal kekerasan fisik atau kata-kata kasar, melainkan juga soal bagaimana seseorang merasa tidak layak hanya karena perbedaan yang mereka miliki. Sosialisasi ini diharapkan dapat menanamkan nilai empati dan menguatkan pemahaman bahwa setiap anak berhak merasa aman, didengar, dan dihargai.
Menurut Arsy salah satu mahasiswa pemateri dalam kegiatan tersebut menciptakan ruang aman dimulai dari hal-hal kecil. “Anak-anak perlu tahu bahwa mereka boleh bilang ‘tidak’ saat merasa tidak nyaman, dan mereka punya hak untuk bicara serta didengarkan. Bullying bukan hal sepele, dan harus dihentikan sejak dini,” jelasnya.
Pihak pengurus panti pun mengapresiasi kegiatan ini. Mereka menyebut bahwa anak-anak terlihat antusias, aktif terlibat dalam kegiatan, dan merasa lebih berani mengungkapkan perasaan mereka. “Kegiatan ini sangat bermanfaat. Anak-anak jadi tahu bahwa mereka boleh menyampaikan perasaan, dan tahu ke mana harus mencari pertolongan,” ujar salah satu pengurus LKSA Nurul Haq Madania.
Kegiatan ditutup dengan pembagian alat tulis dan bingkisan kecil sebagai kenang-kenangan untuk anak-anak panti. Meski sederhana, kehangatan dan kedekatan yang terjalin antara mahasiswa dan anak-anak terasa sangat kuat. Lebih dari sekadar kegiatan sosial, sosialisasi ini juga menjadi bentuk nyata penerapan ilmu komunikasi yang mereka pelajari. Dalam dunia akademik, mahasiswa sering kali hanya dihadapkan pada teori-teori tentang strategi komunikasi, hubungan masyarakat, dan dinamika psikososial. Namun melalui kegiatan seperti ini, mereka diajak turun langsung ke masyarakat, berinteraksi dengan kelompok rentan, dan belajar menyampaikan pesan secara sensitif dan tepat sasaran.
Anak-anak bukan hanya pendengar pasif. Mereka juga punya cerita, punya emosi, dan berhak mendapat ruang untuk didengar. Ini menjadi pelajaran penting bagi kami sebagai calon komunikator,” ujar mahasiswa lainnya, Raka, yang ikut terlibat dalam penyusunan konsep kegiatan.
Selain berdampak pada anak-anak, kegiatan ini juga memberi pengalaman emosional bagi mahasiswa. Banyak dari mereka mengaku belajar lebih banyak tentang arti keberanian, penerimaan diri, dan empati justru dari anak-anak yang mereka temui di panti. Langkah kecil ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu hadir sebagai agen perubahan dan berkontribusi dalam membentuk lingkungan yang lebih aman, sehat, dan bebas dari perundungan.





