Oleh: Kelompok Mahasiswa KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Septiyani Veronika Anggreheni, Virginia Larasati, Faiz Hafid, Inung Vias Dras Tistian, dan Farhan Ilham Fadillah
JurnalPost.com – Di Desa Mojokarang, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, berdiri satu-satunya home industry sepatu fantovel bernama TrisPantovel, yang menjadi penggerak roda ekonomi masyarakat sekitar. Namun di balik produksi yang berjalan setiap hari, terdapat persoalan serius yang selama ini jarang diperhatikan: limbah sisa produksi.
Selama menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut, kami melihat langsung tumpukan limbah yang berasal dari proses produksi sepatu: potongan upper sepatu berbahan kulit sintetis, kaleng bekas lem, dan potongan busa. Sebagian besar limbah ini hanya dibuang atau dibakar. Padahal, semua itu masih bisa dimanfaatkan kembali jika dikelola dengan pendekatan yang lebih kreatif dan berkelanjutan.
Bersama tim KKN, kami menggagas proyek daur ulang sederhana namun inovatif: mengubah limbah menjadi kursi duduk empuk. Prosesnya pun cukup mudah. Kaleng bekas lem dijadikan sebagai rangka kursi, bagian atasnya diberi potongan busa sebagai bantalan, lalu dilapisi menggunakan sisa bahan upper sepatu berbahan kulit sintetis. Hasilnya, sebuah kursi duduk yang nyaman, kuat, dan tentu saja – sepenuhnya hasil daur ulang.
Proyek ini bukan hanya bertujuan untuk mengurangi sampah, tetapi juga menjadi bentuk edukasi langsung bagi masyarakat bahwa limbah industri rumahan bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari sebuah nilai baru.
“Biasanya limbah seperti ini cuma dibakar. Tapi ternyata bisa dibuat jadi kursi. Malah bagus dan empuk,” kata Bu Erna, warga setempat yang mengikuti pelatihan daur ulang yang kami adakan. Respon positif seperti ini menegaskan bahwa masyarakat sebenarnya siap berinovasi, asalkan diberi ruang dan bimbingan.
Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), limbah dari sector industri kecil seperti ini termasuk dalam kategori limbah non-B3, namun jika dibiarkan menumpuk, tetap berdampak buruk terhadap lingkungan. Maka dari itu, perlu ada gerakan dari tingkat desa untuk mulai menangani limbah-limbah kecil yang selama ini diabaikan.

Kami juga terinspirasi oleh pernyataan Dr. Dian Sari, dosen Teknik Lingkungan Universitas Gadjah Mada, yang mengatakan: “Daur ulang yang baik bukan hanya memikirkan pengurangan limbah, tapi juga menciptakan fungsi dan nilai baru yang tidak kalah dari produk aslinya.” Hal ini sejalan dengan apa yang kami coba lakukan di Mojokarang: menciptakan barang fungsional dari bahan yang semula dianggap sampah.
Besar harapan kami agar proyek ini tidak berhenti hanya saat masa KKN berlangsung. Pemerintah
desa, UMKM lokal, hingga sekolah-sekolah bisa mengadopsi ide sederhana ini sebagai bagian dari edukasi lingkungan. Bahkan, jika dikembangkan lebih lanjut, produk kursi daur ulang ini bisa menjadi produk khas desa dengan branding lokal.
Kami belajar bahwa pengabdian masyarakat bukan melulu soal teori atau laporan akhir, tetapi tentang bagaimana kita bisa menghadirkan solusi nyata dan menginspirasi perubahan, sekecil apa pun itu. Karena dari sebuah kaleng bekas, potongan busa, dan sisa kulit sintetis, kita bisa duduk nyaman di kursi hasil inovasi sendiri – dan merasa bangga.
Tentang Penulis:
Kelompok mahasiswa KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang sedang melaksanakan program di Desa Mojokarang, Kecamatan Dlanggu, Mojokerto. Anggota kelompok: Septiyani Veronika Anggreheni, Virginia Larasati, Faiz Hafid, Inung Vias Dras Tistian, dan Farhan Ilham Fadillah. Fokus pada proyek daur ulang limbah sepatu fantovel dari home industri TrisPantovel sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.





