Surabaya, JurnalPost.com — Program *Surabaya Mengajar 7* bukan hanya menjadi ajang pengabdian masyarakat bagi para mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang latihan intensif dalam memahami dan mengaplikasikan dinamika komunikasi secara nyata. Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang turut serta dalam program ini mengungkapkan bahwa tantangan komunikasi yang dihadapi di lapangan jauh lebih kompleks daripada yang dibahas di dalam kelas.
Program yang diinisiasi oleh komunitas *Surabaya Mengajar* ini menempatkan para relawan, termasuk mahasiswa dari berbagai jurusan, di sekolah-sekolah marginal di pelosok Surabaya. Mereka mengajar, mendampingi, dan melakukan pendekatan sosial kepada anak-anak serta masyarakat sekitar.
Di sini saya didampingi oleh guru pamong yang bernama Dede Elisa M.Pd dan Guru Mata Pelajaran bahasa inggris Miss lidya dan Miss inda. Selain itu dari pihak kampus, Saya Dibimbing oleh Mohammad Insan Ramadhan, S.I.Kom.,M.Med.Kom.
Dari sudut pandang ilmu komunikasi, proses adaptasi komunikasi yang terjadi di lapangan merupakan bentuk nyata dari teori komunikasi lintas budaya dan komunikasi interpersonal.
“Ketika kami berinteraksi dengan siswa SD, pendekatan yang kami gunakan lebih sederhana dan ekspresif. Tapi saat berbicara dengan guru atau orang tua, kami harus mengatur bahasa agar tetap sopan, ringkas, dan mudah dipahami,” ujar Artha. “Ini melatih kemampuan *code-switching* atau perubahan gaya komunikasi berdasarkan audiens, yang sering kami bahas dalam teori komunikasi.”
Tantangan lain yang dialami para mahasiswa adalah perbedaan latar belakang sosial dan budaya. Banyak dari mereka yang belum pernah berinteraksi secara intens dengan masyarakat kelas bawah di wilayah Surabaya. Di sinilah pentingnya komunikasi empatik, yaitu kemampuan untuk memahami dan merespons pesan orang lain dengan kepekaan emosional yang tinggi.
“Anak-anak di sini kadang tidak langsung terbuka. Kami belajar untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara,” ungkap Daniel, mahasiswa lainnya. “Kami juga belajar bahwa komunikasi bukan hanya soal kata, tapi bahasa tubuh, intonasi, dan kesabaran dalam membangun kepercayaan.”
Selain itu, dinamika komunikasi kelompok juga menjadi bagian penting dari pengalaman ini. Setiap relawan harus mampu bekerja sama dalam tim, menyatukan berbagai ide, serta menyampaikan gagasan dengan efektif dalam forum-forum kecil, baik untuk perencanaan kegiatan maupun evaluasi program harian. Program ini, bagi mahasiswa komunikasi, menjadi laboratorium sosial yang mempertemukan teori dengan praktik. Hal-hal seperti noise (gangguan komunikasi), konteks situasional, serta pentingnya feedback atau umpan balik, semuanya terjadi secara langsung di lapangan.
Melalui Program Surabaya Mengajar 7, mahasiswa tidak hanya mengajar, tapi juga belajar tentang masyarakat, tentang peran mereka sebagai komunikator sosial, dan tentang pentingnya beradaptasi dalam dinamika komunikasi yang terus berubah. “Kalau selama ini kami mempelajari komunikasi dari buku, di sini kami belajar dari kehidupan,” tutup Artha.
Program ini membuktikan bahwa pengabdian masyarakat juga dapat menjadi ruang pembelajaran yang kaya, khususnya dalam melatih adaptasi terhadap dinamika komunikasi di dunia nyata.





