
Wonogiri, JurnalPost.com (31/7)- Air cucian beras merupakan limbah yang berasal dari proses pembersihan beras yang akan dimasak. Air cucian beras biasanya langsung dibuang begitu saja karena dianggap tidak memiliki kegunaan lagi. Padahal air cucian beras memiliki berbagai manfaat yang salah satunya yaitu dapat diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik cair. Hal ini dikarenakan air cucian beras mengandung karbohidrat, nitrogen, fosfor, kalium, magnesium, sulfur, besi, dan vitamin B1 yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman.
Mahasiswa KKN TIM II UNDIP Tahun 2023/2024 memanfaatkan potensi air cucian beras ini dengan mengadakan kegiatan demonstrasi dan penyuluhan pembuatan pupuk organik cair (POC) dari air cucian beras kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) di Dusun Ngambiawar, Desa Banyakprodo, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri pada Rabu, 31 Juli 2024. Pelatihan ini sangat cocok ditujukan kepada KWT karena kegiatan utama mereka adalah bercocok tanam sehingga dengan adanya pelatihan ini dapat menambah wawasan kepada ibu-ibu KWT mengenai pupuk organik cair.

Bahan-bahan utama dalam pembuatan pupuk organik cair dari air cucian beras yaitu air cucian beras, gula atau molase, dan EM4 (Effective Microorganisms). Air cucian beras yang diolah menjadi pupuk organik cair akan melalui proses fermentasi, yaitu proses perubahan kimiawi dari senyawa kompleks menjadi lebih sederhana dengan bantuan enzim yang dihasilkan oleh mikroba. Oleh karena itu, air cucian beras yang difermentasi menjadi pupuk organik cair akan lebih berkualitas dibandingkan air cucian beras biasa karena bakteri di dalam air cucian beras akan lebih mampu bertahan hidup karena diberi makan berupa gula atau karbohidrat. Dengan demikian, proses fermentasinya akan menghasilkan senyawa yang lebih sederhana sehingga lebih mudah diserap oleh tanaman.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan cara membuat pupuk organik cair menggunakan bahan utama air cucian beras, gula atau molase, dan EM4. Langkah-langkah pembuatannya cukup mudah. Air cucian beras sebanyak 1 liter dicampur dengan 1 tutup botol molase dan 4 tutup botol EM4, lalu diaduk hingga merata. Setelah itu, campuran tersebut dimasukkan ke dalam botol plastik, ditutup, dan disimpan di tempat yang aman serta tidak terkena sinar matahari langsung selama 7-14 hari. Setelah proses fermentasi selesai, pupuk organik cair siap digunakan dengan perbandingan antara pupuk dengan air yaitu 1 : 25.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan masyarakat terutama ibu-ibu KWT di Dusun Ngambiawar dapat memanfaatkan limbah yang dihasilkan rumah tangga yang salah satunya adalah air cucian beras. Pemanfaatan air cucian beras menjadi pupuk organik cair tidak hanya mengurangi limbah rumah tangga, namun juga menambah pengetahuan atau ilmu kepada masyarakat tentang cara pengolahan limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat.
(Pengirim : Jasmine Metanoia / Mahasiswa KKN UNDIP Tim II Tahun 2023/2024)




