JurnalPost.com – Di balik rerimbunan dedaunan yang menari lembut tertiup angin di Dusun Pangjeleran, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara, berdiri tegak sebuah situs yang tak sekadar pepohonan tua. Ia adalah saksi bisu dari sebuah peristiwa cinta, siasat, dan perang. Hari Minggu, 27 Juli 2025, kami berkesempatan berbincang dengan Abah Apun, juru kunci Situs Pohon Handjuang yang telah mengabdikan hidupnya menjaga warisan leluhur ini. Dengan penuh khidmat, ia berkisah—dan dari sana, cerita epik itu mengalir.
Dari Cinta Raja Hingga Simbol Ramalan
Cerita bermula dari kunjungan Prabu Geusan Ulun ke Kerajaan Cirebon. Sang Raja Sumedang Larang tak disangka menawan hati Ratu Harisbaya, seorang ratu yang memiliki pesona dan wibawa tinggi. Ada dua versi yang berkembang di tengah masyarakat: Apakah Ratu Harisbaya diculik? Ataukah dia memang rela ikut pulang bersama Prabu Geusan Ulun? Yang pasti, kepergian sang ratu mengguncang Cirebon. Tentara pun dikirim untuk mencarinya.
Ratu Harisbaya sempat menyamar sebagai pedagang ikan asin di Kutamaya. Namun, demi menjaga keselamatannya, ia pun kembali ke Cirebon. Dari kejadian itulah muncul nama ‘Cipambuangan’—tempat sang ratu membuang ikan asinnya ke selokan, sebuah nama yang hidup hingga kini.
Pohon sebagai Penentu Nasib
Peristiwa itu kemudian menyeret dua kerajaan dalam tensi panas. Eyang Jaya Perkosa, seorang panglima agung sekaligus tokoh sakti dari Sumedang, maju ke medan laga. Tapi sebelum ia berangkat, ia menancapkan sebuah pohon Handjuang di sudut alun-alun Kutamaya.
Pesannya begitu mendalam:
“Mun seug ieu tangkal handjuang subur, tjitjiren kula unggul. Tapi mun seug ieu tangkal handjuang laju, tjitjiren kula kasoran di palaga n.” (Jika pohon Handjuang ini tumbuh subur, itu pertanda saya menang. Tapi jika layu, maka saya kalah)
Sebuah ramalan yang bukan diukir dalam kitab, tapi dalam tanah dan dedaunan.
Namun sejarah terkadang menyimpan kejutan. Ketika pohon Handjuang yang awalnya hijau diganti dengan pohon Handjuang merah oleh seseorang bernama Eyang Terongpeot, dan pohon itu kemudian daunnya gugur, masyarakat mengira Eyang Jaya Perkosa gugur dalam perang. Akibatnya, terjadi kepanikan dan perpindahan penduduk ke Dayeuh Luhur. Padahal, Eyang Jaya Perkosa selamat.
Peristiwa ini bukan hanya kisah sejarah, tapi cerminan betapa pentingnya simbol dan komunikasi pada masa lampau. Dalam satu pohon, tersimpan harapan, ramalan, bahkan arah sebuah kerajaan.
Makna di Balik Nama
Pohon Handjuang tak hanya sekadar tanaman. Dalam bahasa Sunda, ia memuat siloka:
“Handjuang” = “Hayu Urang Berjuang” (Mari Kita Berjuang)
Sebuah pesan yang menembus zaman—bahwa hidup adalah perjuangan, bahwa cinta pun bisa memantik konflik, dan bahwa kebudayaan harus dijaga dengan setia.
Kini, lebih dari 400 tahun setelah pohon itu ditancapkan, jejaknya masih ada. Tunasnya tetap tumbuh, dan semangat perjuangan itu tetap hidup—dijaga oleh Abah Apun, dituturkan ulang kepada anak cucu, dan dihidupkan kembali oleh mereka yang peduli akan akar sejarahnya.
Situs yang Menyimpan Nyawa Sejarah
Situs Pohon Handjuang bukan sekadar objek wisata, bukan pula hanya tinggalan leluhur. Ia adalah sumbu sejarah dan kebudayaan Sumedang Larang, yang mengikat masa lalu dan masa depan dalam satu helai daun yang terus tumbuh.
Di dunia yang terus berubah, pohon itu mengingatkan kita bahwa ada nilai yang tak boleh lekang: cinta, keberanian, dan kesetiaan terhadap tanah air.
Mari kita jaga dan rawat warisan ini—karena pohon sejarah hanya hidup jika kita mau menyiraminya dengan kepedulian





