JurnalPost.com – Sampai saat ini diare masih merupakan salah satu penyebab utama kematian pada balita sebesar 10,3%, di Indonesia jumlah kasus terbanyak berada di provinsi Jawa Barat. Gejala yang umum terjadi pada balita antara lain, frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari 3 kali sehari, konsentrasi feses cair, sakit perut, demam, nafsu makan menurun, beran badan turun, dan lelah. Apabila tidak mendapat penanganan dengan cepat maka komplikasi yang timbul akan lebih parah. Seperti, kerusakan organ, dehidrasi, hipovolemik, dan bahkan kematian. Patogen utama penyebab diare adalah Escherichia coli, Vibrio cholerae, dan Shigella.
Penularan penyakit diare dapat terjadi secara langsung melalui tangan orang penderita diare atau secara tidak langsung melalui air dan bahan pangan yang terkontaminasi. Namun, kasus penularan terbanyak sering terjadi karena faktor kebersihan, air minum dan sanitasi yang kurang baik. Balita adalah kelompok paling rentan terhadap infeksi diare. Terutama bagi keluarga yang tinggal di pemukiman kumuh yang memiliki keterbatasan air bersih, sarana pembuangan limbah yang buruk, dan tidak adanya fasilitas kesehatan. Balita yang sering mengalami diare berpotensi lebih tinggi mengalami kurang gizi dibanding balita yang jarang (1 kali dalam 3 bulan).
Desa Ciampea Udik termasuk salah satu desa di Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 243,15 Ha. Desa ini berada di sebelah barat Kota Bogor, berjarak 24,7 km dengan waktu tempuh 55 menit dengan kendaraan pribadi. Secara keseluruhan terdapat sekitar 618 jumlah balita di Desa Ciampea Udik yang terbagi ke dalam 9 wilayah kerja posyandu (pos pelayanan terpadu). Menurut ketua Pokja posyandu yang juga merangkap sekretaris desa kendala utama permasalahan kesehatan balita yang sering dialami adalah kualitas kader posyandu yang masih rendah. Hal ini dikarenakan masih sedikitnya kegiatan edukasi untuk meningkatkan kualitas kader, terutama terkait pengetahuan resiko penyakit asal pangan. Data bulan Juli 2024 menunjukkan bahwa sebanyak 12,8%-nya dari jumlah balita tersebut terdiagnosis menderita diare oleh tenaga kesehatan. Walau persentase ini tidak begitu tinggi tetapi dapat menjadi acuan untuk meningkatkan kesadaran akan hidup bersih dan sehat.

Jumlah kader posyandu yang ikut dalam kegiatan edukasi bahaya penyakit diare terhadap kesehatan balita berjumlah 36 orang, dengan rentang usia antara 24 – 57 tahun. Untuk mengetahui tingkat pemahaman kader maka soal pre test dan pos test diberikan dengan masing-masing sebanyak 15 soal, merujuk pada pengetahuan kader terhadap seputar permasalahan diare pada balita. Nilai pre test rata-rata yang diperoleh sebesar 69,7, dengan nilai tertinggi 100 dan terendah 27. Dari nilai tersebut pemahaman awal kader tergolong cukup baik. Namun demikian, hasil jawaban menunjukkan bahwa kader masih perlu memahami lebih mendalam terkait bahaya penyakit diare pada balita. Khususnya, mengenai permasalah kesehatan lingkungan dan sanitasi personal, karakteristik patogen penyebab diare pada balita, serta penggunaan air untuk minum dan keperluan rumah tangga.
Setelah itu kegiatan edukasi tentang materi inti dilakukan selama 45 menit menggunakan peralatan laptop, infokus dan layer, serta dilanjutkan diskusi dan tanya jawab 30 menit (Gambar 1). Selama kegiatan diskusi kader dapat menanyakan segala hal yang kurang paham tentang materi yang diberikan dan juga dapat mengajukan suatu kasus terkait kasus diare pada balita. Edukasi merupakan salah satu komponen penting yang mesti diperhatikan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) suatu institusi. Pengetahuan baru yang diperoleh akan mempengaruhi sikap dan kebiasaan menjadi lebih baik sehingga meningkatkan kinerja.
Di akhir sesi kegiatan dilakukan penilaian dengan memberikan post test untuk mengetahui tingkat pemahaman kader tentang bahaya penyakit diare pada balita. Nilai yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai rerata untuk pos test diperoleh sebesar 74,9 dengan nilai terendah 40 dan nilai tertinggi 93. Nilai yang diperoleh tersebut tergolong baik, walau tidak tinggi namun ada peningkatan dibandingkan nilai pre test. Oleh karena itu, kedepannya untuk meningkatkan pemahaman kader disarankan dilakukan kegiatan serupa. Salah satu langkah penanggulangan kejadian diare balita adalah melalui penguatan posyandu, yaitu dengan meningkatkan kapasitas kader. Sebagai penutup kegiatan edukasi ini dilakukan photo bersama seluruh civitas dan masyarakat yang terlibat (Gambar 2).
Reza Fadhilla, S.TP, M.Si
Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta
Program Studi Ilmu Gizi





