Oleh: David Romansyah, Dina Alfianna Wulan Sari
JurnalPost.com – Pada Rabu, 18 September 2024, bertempat di Balai Desa Karangayu, sebuah sosialisasi digelar untuk memperkenalkan pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan, khususnya sekam padi dan batok kelapa, sebagai sumber energi ramah lingkungan. Acara ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta, termasuk masyarakat desa, pelaku UMKM, dan perwakilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta sejumlah pejabat desa yang turut memberikan dukungan atas inisiatif ini.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) dari Universitas Alma Ata sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat desa dalam bidang energi alternatif. Fokus utama dari sosialisasi ini adalah pengenalan teknologi sederhana yang dapat memanfaatkan limbah sekam padi dan batok kelapa menjadi briket, yang bisa digunakan sebagai alternatif pengganti bahan bakar konvensional. Program ini diharapkan tidak hanya dapat mengurangi tumpukan limbah yang kerap menjadi masalah lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru bagi warga desa.
Pemanfaatan limbah untuk briket dianggap sebagai solusi praktis dan inovatif untuk membantu masyarakat desa menjadi lebih mandiri dalam hal energi. Limbah seperti sekam padi dan batok kelapa biasanya dibuang begitu saja dan hanya sedikit yang dimanfaatkan. Namun, melalui teknologi yang diperkenalkan ini, limbah tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu momen paling menarik dalam acara tersebut adalah demonstrasi langsung pembuatan briket. Dalam sesi ini, tim KKN Universitas Alma Ata menunjukkan proses mulai dari pencampuran bahan mentah seperti sekam padi dan batok kelapa, hingga tahapan pencetakan briket. Teknologi yang digunakan terbilang cukup sederhana dan tidak memerlukan alat-alat yang rumit atau mahal, sehingga cocok diterapkan di pedesaan. Para peserta dengan antusias mengikuti setiap tahapan yang diperagakan dan menunjukkan minat tinggi untuk mengadopsi metode ini dalam kehidupan sehari-hari.
Selain demonstrasi pembuatan briket, acara ini juga ditandai dengan penyerahan mockup desain kemasan briket yang akan dikelola oleh BUMDes. Desain kemasan ini dirancang dengan mempertimbangkan aspek estetika dan fungsionalitas, dengan harapan dapat meningkatkan daya tarik produk briket yang dihasilkan oleh desa ini di pasar lokal maupun nasional. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan industri briket berbasis desa yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi lokal serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tidak hanya berfokus pada teknologi dan inovasi, acara ini juga menjadi momentum penting untuk mendorong legalitas usaha bagi pelaku UMKM di Desa Karangayu. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan penyerahan Nomor Induk Berusaha (NIB) kepada 12 UMKM yang telah memenuhi persyaratan legalitas. NIB ini diharapkan dapat memberikan akses lebih mudah bagi para pelaku UMKM untuk mengikuti berbagai program yang disediakan pemerintah, seperti pembiayaan usaha dan pelatihan pengembangan kapasitas. Selain itu, legalitas ini juga memperkuat posisi mereka dalam ekosistem bisnis yang berorientasi pada lingkungan, mengingat produk-produk yang dihasilkan berbasis pada pemanfaatan limbah.
Sosialisasi ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, tetapi juga diharapkan menjadi titik awal bagi desa untuk bergerak menuju kemandirian energi. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, seperti limbah pertanian dan perkebunan, desa dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil serta berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan. Selain itu, melalui pengelolaan BUMDes yang lebih profesional dan terarah, diharapkan desa dapat menjadi pelopor dalam produksi energi alternatif yang ramah lingkungan.
Acara ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif, di mana peserta diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman, ide, dan masukan mengenai pengembangan lebih lanjut dari proyek ini. Banyak peserta yang menyampaikan harapan bahwa program pemanfaatan limbah ini dapat terus berjalan dan diimplementasikan secara berkelanjutan, tidak hanya dalam skala kecil, tetapi juga mencakup pengembangan usaha yang lebih luas.
Melalui sosialisasi ini, desa Karangayu diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam mengembangkan potensi lokal yang berbasis lingkungan, serta menciptakan peluang ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.
Tim KKN-T Universitas Alma Ata – Kelompok 37





