JurnalPost.com – Pemilu yang baru saja dilaksanakan membawa Indonesia memasuki babak baru dalam perjalanan politiknya. Suasana pasca-pemilu tidak hanya diwarnai oleh janji-janji presiden terpilih, tetapi juga oleh suara anak muda yang semakin nyaring. Peran anak muda mulai terlihat melalui ruang-ruang diskusi politik, aksi protes, hingga media sosial. Salah satu contoh yang baru saja terjadi pada 14 September 2024 adalah keterlibatan pelajar SMA Santa Ursula BSD dalam Aksi Kamisan ke-840, di mana mereka ikut andil menyuarakan isu hak asasi manusia terkait Tragedi Semanggi I. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah keterlibatan ini benar-benar lahir dari kepedulian, atau hanya sekadar mengikuti tren yang sedang populer?
Anak muda saat ini hidup di era informasi yang serba cepat berkat media sosial. Aplikasi seperti Instagram, Twitter, dan TikTok menjadi alat utama bagi mereka untuk mengenal isu-isu seperti keadilan sosial dan hak asasi manusia. Dalam hitungan detik, mereka bisa mengetahui berbagai tragedi sejarah atau kebijakan kontroversial yang terjadi jauh sebelum mereka lahir, seperti Tragedi Semanggi.
Mudahnya akses informasi ini memang mendorong mereka untuk bersikap dan mengambil bagian. Namun, tak bisa dipungkiri, media sosial juga menciptakan: fenomena “slacktivism” atau aktivisme pasif. Anak muda sering kali merasa cukup dengan menyukai, membagikan, atau mengomentari unggahan tanpa terlibat lebih jauh, sehingga muncul kesan bahwa keterlibatan mereka hanya simbolis.
Namun, Aksi Kamisan yang ke-840 itu memberikan contoh lain. Ketika pelajar seperti mereka berani mengambil langkah nyata dengan berorasi di depan publik, ini menunjukkan bahwa ada anak muda yang benar-benar peduli dan memahami isu yang mereka suarakan. Kehadiran mereka membuktikan bahwa keterlibatan politik tidak hanya berhenti di media sosial.
Pada 24 November 2024, kami melakukan wawancara secara daring dengan Kay, salah satu pelajar yang turut serta dalam aksi tersebut, memberikan wawasan baru tentang motivasi anak muda. Berikut pertanyaan dan jawaban yang Kay berikan:
Apakah Anda mengunjungi aksi protes karena keinginan sendiri atau tidak?
“Ada keinginan sendiri dan ada kesempatan dari sekolah. Jadi, keduanya mengakomodasi satu sama lain. Sejak awal masuk SMA, saya sudah familiar dengan “Aksi Kamisan” dan memiliki tekad untuk turun menyampaikan aspirasi. Keinginan ini akhirnya bisa diwujudkan ketika sekolah mengadakan seminar HAM dan salah satu prosesnya adalah mengikuti Aksi Kamisan,” ungkap Kay.
Apa yang memotivasimu untuk melakukan orasi di depan banyak orang?
Kay menjelaskan, “Saya termotivasi oleh tanggung jawab sebagai generasi muda. Lewat media sosial dan penuturan saksi sejarah lainnya, saya kerap melihat dan mendengar ketidakadilan di Indonesia, terutama terhadap mereka yang usianya tidak jauh dari saya. Orasi adalah langkah awal untuk berkontribusi secara politik. Selain itu, sebagai ketua panitia HAM di sekolah, saya merasa perlu menjadi perwakilan teman-teman yang lain.”
Apakah peran media sosial dan lingkunganmu memiliki keterkaitan dengan motivasimu?
“Saya tidak memiliki koneksi langsung dengan korban pelanggaran HAM, tetapi sekolah terus mendorong kami untuk peduli melalui materi dan literasi dari guru. Sebagai generasi muda, saya juga terekspos pada berbagai permasalahan sosial lewat media sosial. Hal ini mendorong saya untuk melakukan sesuatu, seperti berorasi di Aksi Kamisan, dengan harapan bisa memperjuangkan hak asasi manusia. Jadi, motivasi saya merupakan akumulasi dari peran media sosial dan lingkungan sekolah,” tambahnya.
Keterlibatan anak muda seperti Kay di Aksi Kamisan menunjukkan bahwa politik bukan lagi milik kaum elit. Ketika pelajar seperti mereka berani mengambil langkah nyata dengan berorasi di depan publik, ini menunjukkan bahwa ada anak muda yang benar-benar peduli dan memahami isu yang mereka suarakan. Kehadiran mereka dalam aksi ini membuktikan bahwa keterlibatan politik tidak hanya berhenti di media sosial. Aksi Kamisan yang membahas Tragedi Semanggi I menjadi relevan dalam konteks pasca-pemilu. Dengan presiden baru terpilih, tuntutan terhadap penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu kembali mencuat. Anak muda kini berperan sebagai pengingat akan pentingnya penyelesaian kasus pelanggaran HAM di tengah janji-janji pembangunan dan modernisasi pemerintah baru.
Setiap selesainya pemilu, isu politik cenderung menjadi lebih menarik perhatian publik, termasuk anak muda. Banyak dari mereka tiba-tiba menunjukkan ketertarikan pada isu-isu besar yang dibahas di media sosial. Namun, apakah semua ini berasal dari rasa kepedulian? Realitanya, ada dua sisi. Sebagian anak muda memang hanya ikut tren untuk terlihat “update” di mata teman-temannya. Namun, sisi positifnya adalah, tren ini bisa menjadi pintu masuk bagi mereka untuk benar-benar memahami isu yang ada. Bahkan jika awalnya hanya sekadar ikut-ikutan, mereka bisa berkembang menjadi individu yang lebih sadar dan aktif secara politik.
Namun, ada tantangan besar untuk memastikan antusiasme ini tidak hanya menjadi tren sementara. Langkah-langkah seperti partisipasi dalam pemilu, mendukung kebijakan yang adil, atau mendirikan komunitas advokasi isu tertentu adalah cara agar energi politik anak muda menciptakan dampak nyata. Dengan dukungan dari media, institusi pendidikan, dan masyarakat, anak muda dapat terus diberikan ruang diskusi yang sehat dan akses informasi yang terpercaya. Di tangan generasi muda yang peduli, politik dapat menjadi alat untuk menciptakan masa depan yang lebih adil dan inklusif.
Jadi, apakah anak muda peduli politik? Jawabannya jelas: ya, dan mereka baru saja memulai perjalanan menuju perubahan besar.
Penulis: Brigitta Viany Wibowo, Clea Zen, Gabriela Suva Maduma H.




