• Homepage
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
  • Topics
    • Berita
    • Internasional
    • Bisnis
    • Kolom Opini
    • Citizen
    • Education
    • Essay
    • Featured
    • Hukum
    • Artikel
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Projects
    • Riset
    • Sains
JurnalPost
  • Topics
    • Berita
    • Internasional
    • Bisnis
    • Kolom Opini
    • Citizen
    • Education
    • Essay
    • Featured
    • Hukum
    • Artikel
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Projects
    • Riset
    • Sains
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Beranda Citizen

ANEKDOT PMII, MANGKUK KOSONG DI ARENA KONGRES

PenulisRedaksi
7 Agustus 2024
in Citizen
A A
0

Oleh Denmas Amirul Haq

“Organization is a belief or state of mind held by most people that they have a feeling of togetherness as a unit” Lothrop Stoddard, 1883

Dalam upaya mewudujkan organisasi yang sehat (berkeadilan), hendaknya para kader-elite PMII meng-ingat bahwa cita-cita besar PMII tidak hanya memperjuangkan emansipasi dan partisipasi di bidang adil dan makmur (ekonomi). Ihwal, pembacaan sila keempat (civil society) dan sila kelima (keadilan). Adalah butir-butir pancasila yang tidak dapat dipisahkan. Hasil rumusan panitia sembilan dalam pembukaan UUD 1945, sengaja dihubungkan dengan kata sambung (“serta”), kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah-kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (baca butir-butir pancasila). Pokok tersebut merupakan ideologi PMII secara normatif. meskipun pembiasan selalu kita pertontontonkan di berbagai aktivitas organisasi. Lebih lebih pada momentum kongres PMII XXI yang secara kebetulan begitu dekat dengan agenda besar negara termasuk Pilkada serentak 2024.

Penghayatan pancasila ialah pembacaan ulang AD/ART PMII BAB IV PASAL IV (tujuan PMII). “ Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, Cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, serta Komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Sebagai upaya mewujudkan cita-cita luhur tersebut semestinya para kader PMII juga harus menghayati isi dari kualitas kader PMII (1)Bertaqwa kepada Allah SWT, (2). Berbudi luhur, (3) Berilmu, (4) Cakap, (5) Bertanggung jawab mengamalkan ilmunya, dan (6) Komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Al-Ikhtisar, berangkat dari enam hal tersebutlah kemudian kita mengenal citra ulul albab.

Pembacaan PMII Hari Ini
Kita sering mendapati diri ada di tengah belantara pertanyaan, gugatan, ketidak puasan sekaligus kebingungan mengenai kaderisasi. Semuanya campur aduk tak tertata, antara pertanyaan mendasar dengan pertanyaan teknis (1), apa tujuan kaderisasi kita? (2) untuk apa kaderisasi kita? terlontar bersamaan dengan pertanyaan: (3), bagaimana metodenya? (4), Apa isi materinya? (5), Apa sajakah buku-buku referensinya? (6), Bagaimana distribusi kader nanti? (7), Siapa instruktur dan pematerinya?.

Semua itu pertanyaan faktual, dan relevan untuk diajukan. Bahwa menata pertanyaan sesuai dengan proporsinya masing-masing. Lalu mengurutkan, memahami kembali dan mengakumulasikan jawaban-jawaban sebagaimana telah diberikan.

Ketika kita (PMI) berada di tengah situasi otoritarianisme Orde Baru, PMII sepuas-puasnya mereguk khazanah intelektual dan mengambil inspirasi gerakan serta menjadi katalisator baru. Ternyata pilihan tersebut ampuh sebagai jalan mengetahui bahwa orang-orang PMII beserta organisasinya, adalah bagian dari masyarakat pinggiran bangsa ini yang secara sistematis memang dipelihara untuk tetap di pinggir. Lebih dari itu, pilihan tersebut juga ampuh untuk membangkitkan radikalisme berfikir kita, sehingga berharap kader PMII berani tampil mengisi garis depan perjuangan melawan negara sampai akhir dekade 1990.

Saat itu, tujuan PMI dan tujuan kaderisasi seolah-olah telah terumuskan dalam bentuk final, konkrit dan mewujud secara material: membela rakyat tertindas. Di tengah situasi zaman itu, struktur permukaan dari kenyataan yang dihadapi mahasiswa memang mudah menciptakan situasi psikologis yang sarat dengan heroisme.

Sementara zaman berubah dengan cepat, kampanye demokrasi dan slogan reformasi melahirkan desentralisasi; ruang kompetisipun terbuka sangat lebar, Gerakan ekstra parlementer tidak lagi menjadi domain utama gerakan mahasiswa. Kita bertemu dengan organisasi ‘kanan’ yang secara tiba-tiba mendominasi ruang opini gerakan mahasiswa. Bersamaan dengan itu kita menemukan bahwa ‘rival’ lama kita ternyata masih tetap bertahan dan masih eksis. kita merasa kehilangan sifat ‘kanan’ kita: kurang Islami, kurang menghargai simbol dan seterusnya.

Situasi tersebut persis terjadi saat inspirasi gerakan dan kosakata Marxian belum disadari sepenuhnya sebagai sumber energi-eksternal pada masanya, yakni situasi nasional dekade 1990. Dengan kalimat lain, kita masih cenderung ‘kiri’ dalam kosakata dan sedikit kiri dalam pikiran, namun kita ingin ‘kanan’ juga. Ambang antara ‘kiri’ dan ‘kanan’ inilah yang harus kita atasi.

Maka kita harus mengingat kembali tujuan dasar kaderisasi PMII, atau untuk apakah kaderisasi PMII dilakukan? Melihat kembali dan merekonstruksi tujuan ini penting, mengingat telah demikian banyak input intelektual dan pengalaman gerakan yang dipunyai PMII. Sehingga tujuan kaderisasi kita sering tak terbaca dan teringat, tergantikan dengan bahasa-bahasa lain. Intensitas pergaulan dan kompetisi kita dengan organisasi kiri dan organisasi “kanan” kerap menimbulkan sikap kecil hati di satu sisi dan terlalu merasa besar diri di sisi yang lain. Bahkan kadang-kadang muncul sikap reaksioner (baca PMII Jombang).

Mangkuk Kosong Di Arena Kongres PMII
Hendak kemana organisasi ini berlabuh ? menjadi pertanyaan reflektif sebesit sulit dibenak para pelaku dan pengamat gerakan PMII yang kebanyakan ditengah gemuruh rutinitas pesta pergantian pemimpin baru (kongres) yang mengidap problem rabun jauh.

Dewasa kini, kita sadar bahwa urusan permusyawaratan tertinggi PMII hanyalah sebatas ritual perebutan kekuasaan organisasi belaka dengan obsesi akut kemenangan yang hanya sebatas mempecundangi lawan dalam kontestasi pemilihan umum. Mirisnya, dilupakan juga tujuan teologis organisasi.

Berbicara soal tujuan organisasi idelnya bila diletakkan dalam bingkai kemenangan bersama, secarah lentera cahaya kesadaran yang akan menerangi penglihatan. Meskipun jika berbicara fakta Antropoogis-Sosiologis gelaran tersebut hanyalah praktik pemilihan ketua umum yang dijalani berdasarkan ongkos finansial dan sosial yang begitu mahal. mirisnya malah menghantarkan kepada kemengan semu dengan diskon perpecahan yang didadasi nilai primodialisme dengan bumbu ciamik fanatisme.

Meskipun bersama kita menyadari siapapun pemenangnya ialah mereka yang kedepan mampu melahirkan capaian tertentu, walaupun harus dibayar mahal dengan dinamika priodik (banyaknya kerusuhan diarena).

Bila benar tujuan PMII adalah cita-cita luhur berbangsa dan bernagara ; mencapai perikehidupan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, pastinya kita dapat mengukurnya satu persatu. Bahwa kongres semata hanya perayaan yang seharusnya melahirkan ide dan gagasan transformasi organisasi, sebaliknya aktualisai itu malah mengarah pada aneka bentuk polarisasi dan kesenjangan antar kader yang dibuat dengan tidak organik, sebabnya menjadi sebuah keniscayaan apabila mangkuk kosong di arena kongres PMII merupakan representasi krisis kepemimpinan yang ditukar dibawah meja makan.

Biografi Penulis
Denmas Amirul Haq, lahir di Tulang bawang pada 15 Juli 2000. Seorang Santri yang aktif di dunia aktivis gerakan kemahasiswaan, kepemudaan. Terlahir sebagai penulis dengan fokus isu sosial, kegamaan, essay, opini, pernah menulis buku Epistimologi Ahlusunnah Wal Jama’ah dan buku keduannya berjudul Revolusi Kepagian . Ia juga sedang menempuh program Pascasarjana di Unisma Malang.

Bagikan136MengirimTweet85BagikanPrint PDF

Baca Juga

Gelar Pelatihan Motviasi Berprestasi dan Penggunaan AI dalam Karya Ilmiah, Guru Besar FSRD ITB: Jangan Sampai Kita Kehilangan Pikiran Sendiri Karena AI

Gelar Pelatihan Motviasi Berprestasi dan Penggunaan AI dalam Karya Ilmiah, Guru Besar FSRD ITB: Jangan Sampai Kita Kehilangan Pikiran Sendiri Karena AI

PenulisRedaksi
6 Agustus 2025
0

JurnalPost.com - Kelompok Keilmuan Literasi Budaya Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (KKLBV FSRD ITB) mengadakan dua...

Magang di PT. Bimasakti Mult Sinergi Meningkatkan Pemahaman tentang Industri Fintech dan Pembayaran Digital

Magang di PT. Bimasakti Mult Sinergi Meningkatkan Pemahaman tentang Industri Fintech dan Pembayaran Digital

PenulisRedaksi
5 Juli 2025
0

JurnalPost.com - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) merupakan salah satu perguruan tinggi yang berada di Yogyakarta, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa memiliki program...

Program Bimbingan Konseling di SMP: Solusi Atasi Kenakalan Remaja?

Program Bimbingan Konseling di SMP: Solusi Atasi Kenakalan Remaja?

PenulisRedaksi
28 Juni 2025
0

Penulis: Faisal Rafi Agustian Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya JurnalPost.com - Kenakalan remaja di kalangan siswa SMP menjadi masalah yang...

Down Syndrome

Lebih Dekat dengan teman Down Syndrome di BK3S Potads Surabaya

PenulisRedaksi
12 Juni 2025
0

Surabaya, JurnalPost.com – Salah satu Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengikuti Program Magang MBKM Proyek Kemanusiaan Di...

SMPN 41 Surabaya Gandeng Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Dalam Program Creative Writing

SMPN 41 Surabaya Gandeng Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Dalam Program Creative Writing

PenulisRedaksi
10 Juni 2025
0

Surabaya, JurnalPost.com - Perkembangan teknologi yang begitu cepat mendorong perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara seseorang mengekspresikan diri. Di...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Homepage
WhatsApp us: +6285298877111

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Topics
    • Berita
    • Internasional
    • Bisnis
    • Kolom Opini
    • Citizen
    • Education
    • Essay
    • Featured
    • Hukum
    • Artikel
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Projects
    • Riset
    • Sains

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.