JuranalPost.com – Dalam rangka meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pemantauan dan pengelolaan sumber daya air, tim dosen dari Program Studi Teknik Pertambangan, Universitas Nusa Cendana (Undana), bekerja sama dengan USAID IUWASH Tangguh, melaksanakan kegiatan Pelatihan Penggunaan Alat Ombrometer untuk Mengukur Curah Hujan dan Flowmeter untuk Mengukur Debit Airdi Desa Baumata, Kabupaten Kupang, pada tanggal 12 September 2024.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya kebutuhan akan data hidrologi yang akurat dan berkelanjutan, khususnya di wilayah semi-kering seperti Nusa Tenggara Timur, yang rentan terhadap variabilitas iklim dan keterbatasan sumber daya air. Ketersediaan data curah hujan dan debit air yang terukur secara sistematis merupakan komponen penting dalam mendukung pengelolaan air berbasis bukti ilmiah, yang pada gilirannya dapat membantu perencanaan irigasi, penyediaan air bersih, serta mitigasi risiko bencana hidrometeorologi.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi dengan lembaga mitra internasional, pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk (1) meningkatkan keterampilan teknis masyarakat dalam penggunaan instrumen pengukuran seperti ombrometer untuk curah hujan dan flowmeter untuk debit air, (2) membangun kesadaran akan pentingnya pencatatan data hidrologi yang terstandar, serta (3) memperkuat kapasitas adaptasi masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.
Desa Baumata dipilih sebagai lokasi kegiatan karena wilayah ini memiliki potensi sumber air yang signifikan, namun menghadapi tantangan dalam hal pemanfaatan dan pengelolaannya secara efisien. Dengan pendekatan partisipatif dan berbasis praktik lapangan, diharapkan kegiatan ini dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kemandirian masyarakat dalam memantau dan mengelola sumber daya air di lingkungannya.
Pelatihan ini diikuti oleh berbagai kelompok masyarakat lokal, meliputi petani, pemuda, serta perangkat desa, yang memiliki peran penting dalam pengumpulan dan pemanfaatan data hidrologi di wilayahnya.
Melalui kegiatan ini, peserta dibekali dengan pengetahuan dasar tentang prinsip kerja ombrometer dan flowmeter, mulai dari cara pemasangan, teknik pembacaan hasil pengukuran, hingga pencatatan data secara sistematis. Pendekatan yang digunakan bersifat praktis dan partisipatif, sehingga peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga melakukan simulasi langsung di lapangan.
Tujuan utama dari pelatihan ini adalah agar masyarakat mampu melakukan pencatatan curah hujan dan debit air secara mandiri, akurat, dan berkelanjutan. Data yang terkumpul diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, baik untuk perencanaan irigasi, pengelolaan sumber air bersih, maupun mitigasi risiko kekeringan dan banjir.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin nyata dampaknya, terutama di wilayah yang rentan terhadap fluktuasi curah hujan dan ketersediaan air. Dengan adanya pemantauan berbasis data, masyarakat dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan iklim, sekaligus mendukung pengelolaan air yang berkelanjutan dan berbasis pada bukti ilmiah.
Ketua tim Pengabdian, sekaligus pakar Geohidrologi Undana, Noni Banunaek, S.T., M.T., menjelaskan bahwa wilayah karst seperti Baumata sangat bergantung pada curah hujan sebagai sumber utama air tanah. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat mengenai teknik pengukuran air menjadi sangat penting dalam menjaga keberlanjutan mata air.
Selama pelatihan, peserta diperkenalkan pada fungsi dan cara penggunaan ombrometer untuk mengukur curah hujan, serta flowmeter untuk menghitung debit aliran air dari mata air dan saluran irigasi. Peserta juga melakukan praktik langsung di lapangan dan mendapatkan modul panduan sederhana untuk mempermudah penerapan di lapangan secara berkelanjutan.
Kegiatan ini mendapat respon positif dari masyarakat. Salah satu peserta, Bapak Anton, mengungkapkan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat, terutama bagi petani yang selama ini hanya mengandalkan intuisi dalam menentukan musim tanam dan kebutuhan air.
“Sekarang kami bisa ukur sendiri curah hujan dan air dari mata air. Tidak perlu lagi menebak-nebak. Ini sangat membantu dalam merencanakan pola tanam,” ujarnya.
Sebagai bentuk tindak lanjut, tim dosen bersama USAID IUWASH Tangguh menyerahkan satu set ombrometer dan flowmeter kepada kelompok masyarakat sebagai alat bantu monitoring harian. Inisiatif ini diharapkan menjadi langkah awal menuju konservasi air yang lebih baik, terukur, dan berbasis ilmu pengetahuan di kawasan karst Baumata.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga pembangunan internasional, dan masyarakat lokal ini menunjukkan pentingnya sinergi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, terutama di daerah semi-kering seperti Kabupaten Kupang yang sangat bergantung pada keberlanjutan sumber daya air tanah.
Penulis : Rizhard A. Ndolu & Henda V.R. Taopan





