SURABAYA, JurnalPost.com – Meningkatnya kasus obesitas di Indonesia menjadi perhatian serius, tidak hanya bagi sektor kesehatan, tetapi juga industri pangan. Pola konsumsi makanan tinggi gula dan rendah serat dinilai menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap persoalan tersebut, terutama di kalangan usia produktif.
Berangkat dari kondisi itu, tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi pangan bernama SORG+, yakni selai berbahan dasar kombinasi sorgum dan puree buah yang dirancang sebagai alternatif pangan dengan kandungan serat serta karakteristik gizi yang lebih baik.
SORG+ diformulasikan menggunakan 70 persen puree buah dan 7 persen sorgum. Komposisi tersebut dikembangkan untuk menghasilkan produk yang tidak hanya memperhatikan aspek nutrisi, tetapi juga tetap memiliki rasa dan tekstur yang dapat diterima oleh masyarakat.
Pengembangan produk dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengujian laboratorium, pengurusan sertifikasi, validasi ahli, hingga pengujian langsung kepada konsumen.
Sebelum diperkenalkan kepada masyarakat, SORG+ terlebih dahulu menjalani pengujian komposisi gizi di laboratorium. Pengujian tersebut dilakukan untuk mengetahui kandungan kalori, serat, gula, serta parameter lain yang berkaitan dengan karakteristik gizi produk.

Hasil pengujian menjadi bagian penting dalam memastikan formulasi SORG+ memiliki dasar ilmiah sebelum dikembangkan lebih lanjut sebagai salah satu alternatif pangan fungsional.
Selain pengujian kandungan gizi, tim pengembang juga menempuh proses pengurusan sertifikasi halal. Tahapan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan produk memenuhi standar keamanan dan kehalalan pangan yang berlaku di Indonesia.
Sertifikasi halal dinilai penting mengingat produk pangan yang dikembangkan di lingkungan akademik diharapkan tidak hanya berhenti pada tahap penelitian, tetapi juga memiliki peluang untuk digunakan dan diterima oleh masyarakat secara lebih luas.
Dalam proses pengembangannya, SORG+ turut melibatkan pakar gizi untuk memberikan telaah terhadap formulasi dan potensi manfaat produk. Evaluasi dari tenaga ahli dilakukan untuk memastikan komposisi yang digunakan tetap mempertimbangkan prinsip pemenuhan gizi dan pengelolaan pola makan.
Validasi tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat dasar pengembangan SORG+ sebagai inovasi pangan yang lahir dari proses penelitian.
Tim SORG+ juga memperkenalkan produknya melalui kegiatan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan dalam ajang GEREX ITS 2026.
Dalam kegiatan tersebut, pengunjung berkesempatan mengikuti uji organoleptik dengan memberikan penilaian terhadap rasa, aroma, dan tekstur SORG+. Kegiatan tersebut sekaligus dimanfaatkan tim untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya memilih makanan dengan kandungan gula yang terkontrol dan serat yang mencukupi.
Tidak berhenti pada pengujian laboratorium dan kegiatan pameran, tim pengembang juga melakukan riset langsung bersama konsumen penyandang obesitas.
Melalui wawancara serta uji konsumsi, tim memperoleh masukan mengenai pengalaman konsumen setelah mencoba produk. Salah seorang peserta riset, David (21), mengaku harus lebih selektif dalam memilih makanan karena kondisi yang dialaminya.
“Sebagai penderita obesitas, saya jadi harus lebih hati-hati dalam memilih makanan. Produk di pasaran kebanyakan tinggi gula. Namun setelah mencoba SORG+ varian stroberi, saya merasakan efek kenyang yang lebih lama berkat kandungan serat sorgumnya. Ini sangat membantu saya mengendalikan rasa lapar berlebih,” tutur David.
Masukan dari konsumen tersebut menjadi bahan evaluasi bagi tim dalam menyempurnakan produk. Pengalaman pengguna juga memberikan gambaran awal mengenai penerimaan SORG+ sebagai salah satu alternatif pangan dalam mendukung pengaturan pola konsumsi.
Ketua tim pengembang berharap SORG+ dapat menjadi langkah awal dalam memperluas pilihan pangan sehat yang lebih mudah dijangkau masyarakat, termasuk bagi mereka yang sedang berupaya mengelola berat badan.
Pengembangan produk berbasis sorgum tersebut sekaligus menunjukkan potensi hasil riset perguruan tinggi untuk menjawab persoalan kesehatan melalui inovasi pangan.
Ke depan, tim berharap inovasi Selai Sorgum-Puree SORG+ dapat terus dikembangkan melalui penelitian lanjutan, penyempurnaan formulasi, serta pengujian yang lebih luas sehingga berpeluang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Inovasi tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui pengembangan alternatif pangan yang mendukung pola hidup sehat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda