Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Di Antara Takbir dan Sunyi: Merawat Toleransi Tanpa Menghapus Tradisi

Di Antara Takbir dan Sunyi: Merawat Toleransi Tanpa Menghapus Tradisi

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
20 Maret 2026, 10.18 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Di Antara Takbir dan Sunyi: Merawat Toleransi Tanpa Menghapus Tradisi

Oleh: Ervan Hasan Harun

JurnalPost.com - Ketika Idul Fitri berdekatan, bahkan dalam beberapa konteks terasa “berbarengan” dengan Hari Raya Nyepi, publik Indonesia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan klasik: bagaimana menjaga toleransi tanpa harus menegasikan tradisi keagamaan masing-masing?

IKLAN

Pertanyaan ini penting, tetapi sering kali dijawab secara simplistis. Toleransi kerap dimaknai sebagai kewajiban untuk “mengalah total” demi kenyamanan pihak lain. Padahal, toleransi dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia tidak identik dengan penghapusan identitas, melainkan kemampuan untuk saling memahami batas dan ruang masing-masing.

BenihBaik
Baca Juga

MLBB dan BenihBaik Galang Donasi Rp258 Juta untuk Anak Pejuang Kanker di Bulan Ramadan

Idul Fitri adalah momentum ekspresi kebahagiaan kolektif umat Muslim. Ia hadir dengan takbir yang menggema, silaturahmi yang hidup, dan mobilitas sosial yang tinggi. Di sisi lain, Nyepi justru menghadirkan keheningan total: tanpa aktivitas, tanpa suara, bahkan tanpa cahaya. Dua perayaan ini berdiri di kutub yang nyaris berlawanan: yang satu ekspresif, yang lain kontemplatif. Namun justru di situlah keindahan Indonesia diuji.

Toleransi bukan berarti Idul Fitri harus menjadi sunyi agar selaras dengan Nyepi, atau sebaliknya Nyepi harus dilonggarkan agar memberi ruang euforia Lebaran. Jika dipaksakan demikian, yang terjadi bukan toleransi, melainkan reduksi makna ibadah itu sendiri. Tradisi keagamaan lahir dari nilai-nilai spiritual yang tidak bisa dinegosiasikan hanya demi kompromi sosial jangka pendek. Yang lebih tepat adalah membangun kesadaran ruang dan konteks.

Di wilayah seperti Bali, misalnya, di mana Nyepi merupakan praktik kolektif yang mengikat seluruh masyarakat, umat Muslim yang merayakan Idul Fitri dapat menyesuaikan ekspresi perayaannya tanpa kehilangan substansi ibadah. Takbir tetap bisa berkumandang, tetapi dengan cara yang lebih terbatas dan penuh kesadaran situasional. Silaturahmi tetap berjalan, tetapi tidak dalam bentuk yang mengganggu kekhusyukan Nyepi.

IKLAN

Sebaliknya, di daerah dengan mayoritas Muslim, umat Hindu pun tidak kehilangan haknya untuk menjalankan Nyepi secara utuh. Negara dan masyarakat perlu memastikan bahwa praktik keheningan tersebut dihormati, bukan dianggap sebagai gangguan terhadap rutinitas umum. Di sini, toleransi bekerja bukan sebagai larangan, melainkan sebagai pengaturan diri.

Idul Fitri yang Tidak Dimenangkan bagi Mereka yang Berduka
Baca Juga

Idul Fitri yang Tidak Dimenangkan bagi Mereka yang Berduka

Sayangnya, dalam beberapa diskursus publik, muncul kecenderungan untuk mendorong pelarangan simbolik atas nama toleransi. Misalnya, ada yang mengusulkan agar takbir tidak dikumandangkan sama sekali, atau sebaliknya ada yang menuntut agar pembatasan Nyepi dilonggarkan. Kedua pendekatan ini problematik karena berangkat dari asumsi bahwa satu tradisi harus mengalah agar yang lain bisa eksis. Padahal, realitas Indonesia menunjukkan bahwa keberagaman bisa hidup berdampingan tanpa harus saling menghapus.

Kunci utamanya ada pada empati dan literasi budaya. Umat Muslim perlu memahami bahwa Nyepi bukan sekadar “hari libur sunyi”, melainkan ritual sakral dengan makna filosofis mendalam tentang penyucian diri dan harmoni dengan alam. Sebaliknya, umat Hindu juga memahami bahwa Idul Fitri adalah puncak spiritual yang dirayakan dengan ekspresi kolektif yang wajar. Ketika pemahaman ini tumbuh, maka penyesuaian tidak lagi terasa sebagai paksaan, melainkan sebagai bentuk penghormatan.

Peran negara dalam hal ini juga tidak kalah penting. Negara tidak boleh terjebak pada pendekatan seragam yang kaku, melainkan harus adaptif terhadap konteks lokal. Regulasi yang dibuat seharusnya tidak melarang praktik keagamaan, tetapi mengatur agar tidak terjadi benturan yang merugikan salah satu pihak.

Lebih jauh lagi, momentum pertemuan Idul Fitri dan Nyepi sebenarnya bisa menjadi laboratorium sosial bagi Indonesia. Ia mengajarkan bahwa toleransi bukan konsep abstrak, tetapi praktik sehari-hari yang membutuhkan kedewasaan kolektif.

Idul Fitri
Baca Juga

Di Balik Kondusifnya Pasar Bandung Saat Idul Fitri, Ini Strategi Perumda Pasar Juara

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh identitas, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat: kemampuan untuk hidup dalam perbedaan tanpa kehilangan jati diri. Namun modal ini tidak otomatis terjaga. Ia harus terus dirawat melalui dialog, pendidikan, dan yang paling penting adalah keteladanan.

Pada akhirnya, toleransi bukan tentang siapa yang harus diam atau siapa yang boleh bersuara. Ia adalah tentang bagaimana kita memberi ruang tanpa harus kehilangan makna. Idul Fitri tetaplah Idul Fitri dengan gema takbirnya. Nyepi tetaplah Nyepi dengan sunyinya. Dan Indonesia, jika mampu menjaga keseimbangan ini, akan tetap menjadi rumah bersama yang tidak hanya damai, tetapi juga bermartabat dalam keberagaman.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/di-antara-takbir-dan-sunyi-merawat-toleransi-tanpa-menghapus-tradisi/91611/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.59 WITA

  • #Bulan Ramadan
  • #Idul Fitri

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026
  2. 2

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  3. 3

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

  4. 4

    DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

  5. 5

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.