Oleh: Ervan Hasan Harun
JurnalPost.com - Ketika Idul Fitri berdekatan, bahkan dalam beberapa konteks terasa “berbarengan” dengan Hari Raya Nyepi, publik Indonesia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan klasik: bagaimana menjaga toleransi tanpa harus menegasikan tradisi keagamaan masing-masing?
Pertanyaan ini penting, tetapi sering kali dijawab secara simplistis. Toleransi kerap dimaknai sebagai kewajiban untuk “mengalah total” demi kenyamanan pihak lain. Padahal, toleransi dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia tidak identik dengan penghapusan identitas, melainkan kemampuan untuk saling memahami batas dan ruang masing-masing.
Idul Fitri adalah momentum ekspresi kebahagiaan kolektif umat Muslim. Ia hadir dengan takbir yang menggema, silaturahmi yang hidup, dan mobilitas sosial yang tinggi. Di sisi lain, Nyepi justru menghadirkan keheningan total: tanpa aktivitas, tanpa suara, bahkan tanpa cahaya. Dua perayaan ini berdiri di kutub yang nyaris berlawanan: yang satu ekspresif, yang lain kontemplatif. Namun justru di situlah keindahan Indonesia diuji.
Toleransi bukan berarti Idul Fitri harus menjadi sunyi agar selaras dengan Nyepi, atau sebaliknya Nyepi harus dilonggarkan agar memberi ruang euforia Lebaran. Jika dipaksakan demikian, yang terjadi bukan toleransi, melainkan reduksi makna ibadah itu sendiri. Tradisi keagamaan lahir dari nilai-nilai spiritual yang tidak bisa dinegosiasikan hanya demi kompromi sosial jangka pendek. Yang lebih tepat adalah membangun kesadaran ruang dan konteks.
Di wilayah seperti Bali, misalnya, di mana Nyepi merupakan praktik kolektif yang mengikat seluruh masyarakat, umat Muslim yang merayakan Idul Fitri dapat menyesuaikan ekspresi perayaannya tanpa kehilangan substansi ibadah. Takbir tetap bisa berkumandang, tetapi dengan cara yang lebih terbatas dan penuh kesadaran situasional. Silaturahmi tetap berjalan, tetapi tidak dalam bentuk yang mengganggu kekhusyukan Nyepi.
Sebaliknya, di daerah dengan mayoritas Muslim, umat Hindu pun tidak kehilangan haknya untuk menjalankan Nyepi secara utuh. Negara dan masyarakat perlu memastikan bahwa praktik keheningan tersebut dihormati, bukan dianggap sebagai gangguan terhadap rutinitas umum. Di sini, toleransi bekerja bukan sebagai larangan, melainkan sebagai pengaturan diri.
Sayangnya, dalam beberapa diskursus publik, muncul kecenderungan untuk mendorong pelarangan simbolik atas nama toleransi. Misalnya, ada yang mengusulkan agar takbir tidak dikumandangkan sama sekali, atau sebaliknya ada yang menuntut agar pembatasan Nyepi dilonggarkan. Kedua pendekatan ini problematik karena berangkat dari asumsi bahwa satu tradisi harus mengalah agar yang lain bisa eksis. Padahal, realitas Indonesia menunjukkan bahwa keberagaman bisa hidup berdampingan tanpa harus saling menghapus.
Kunci utamanya ada pada empati dan literasi budaya. Umat Muslim perlu memahami bahwa Nyepi bukan sekadar “hari libur sunyi”, melainkan ritual sakral dengan makna filosofis mendalam tentang penyucian diri dan harmoni dengan alam. Sebaliknya, umat Hindu juga memahami bahwa Idul Fitri adalah puncak spiritual yang dirayakan dengan ekspresi kolektif yang wajar. Ketika pemahaman ini tumbuh, maka penyesuaian tidak lagi terasa sebagai paksaan, melainkan sebagai bentuk penghormatan.
Peran negara dalam hal ini juga tidak kalah penting. Negara tidak boleh terjebak pada pendekatan seragam yang kaku, melainkan harus adaptif terhadap konteks lokal. Regulasi yang dibuat seharusnya tidak melarang praktik keagamaan, tetapi mengatur agar tidak terjadi benturan yang merugikan salah satu pihak.
Lebih jauh lagi, momentum pertemuan Idul Fitri dan Nyepi sebenarnya bisa menjadi laboratorium sosial bagi Indonesia. Ia mengajarkan bahwa toleransi bukan konsep abstrak, tetapi praktik sehari-hari yang membutuhkan kedewasaan kolektif.
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh identitas, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat: kemampuan untuk hidup dalam perbedaan tanpa kehilangan jati diri. Namun modal ini tidak otomatis terjaga. Ia harus terus dirawat melalui dialog, pendidikan, dan yang paling penting adalah keteladanan.
Pada akhirnya, toleransi bukan tentang siapa yang harus diam atau siapa yang boleh bersuara. Ia adalah tentang bagaimana kita memberi ruang tanpa harus kehilangan makna. Idul Fitri tetaplah Idul Fitri dengan gema takbirnya. Nyepi tetaplah Nyepi dengan sunyinya. Dan Indonesia, jika mampu menjaga keseimbangan ini, akan tetap menjadi rumah bersama yang tidak hanya damai, tetapi juga bermartabat dalam keberagaman.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda