JurnalPost.com - Bagi sebagian anak, berbicara di depan kelas merupakan pengalaman yang menyenangkan dan dapat meningkatkan rasa percaya diri. Namun, bagi AN (12), salah satu anak yang aktif mengikuti kegiatan di Rumah Pintar Amplas binaan Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia, hal tersebut pernah menjadi tantangan tersendiri. Meskipun AN dikenal sebagai anak yang cerdas dan berprestasi, pengalaman yang kurang menyenangkan di masa lalu membuatnya kerap merasa ragu dan kurang yakin terhadap kemampuannya sendiri, terutama ketika harus menyampaikan sesuatu di hadapan orang lain.
AN menjadi bagian dari proses praktik kerja lapangan yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Sumatera Utara (USU). Artikel ini disusun sebagai bagian dari output mata kuliah Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang dibimbing oleh Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos., selaku Dosen pengampu, serta Ibu Tuti Atika, M.SP., sebagai Dosen Supervisor. Praktikan, Jihan Zhafira (NIM 220902016), melaksanakan kegiatan PKL di salah satu Lembaga Sosial Masyarakat di Kota Medan selama kurang lebih tiga bulan, yaitu pada bulan April hingga Juni 2025.
Pertemuan antara praktikkan dengan klien diawali pada tahap engagement. Tahap engagement diawali dengan pendekatan secara informal kepada anak-anak yang mengikuti kegiatan di Rumah Pintar. Pendekatan ini dilakukan secara rutin oleh penulis bersama rekan-rekan PKL melalui berbagai aktivitas edukatif dan rekreatif. AN, salah satu anak yang dibina di Rumah Pintar, menunjukkan partisipasi aktif dalam setiap kegiatan. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk menciptakan suasana yang nyaman, sehingga anak-anak tidak merasa canggung dalam berinteraksi dengan tim pendamping, sekaligus membangun dasar hubungan yang penuh kepercayaan.
Dalam proses tersebut, penulis mulai mengamati perilaku dan interaksi anak-anak, termasuk AN. Dari hasil pengamatan, AN terlihat memiliki kemampuan akademik yang cukup menonjol. Ia mampu memahami pelajaran dengan cepat dan merangkum informasi secara efektif. Meski demikian, AN tampak pemalu dan kurang percaya diri ketika harus berbicara di depan umum. Hal ini terlihat saat kegiatan story telling, di mana meskipun AN dapat menguasai materi secara tertulis dengan sangat baik, ia tampak ragu-ragu ketika harus menyampaikannya secara lisan.
Berdasarkan hasil observasi dan komunikasi, proses assessment dilakukan melalui pendekatan berbasis kekuatan (strength-based approach). Penulis praktik menerapkan model asesmen ROPES yang berfokus pada potensi dan sumber daya anak. Dalam proses ini ditemukan bahwa AN memiliki ketertarikan yang kuat dalam menulis dan membuat kerajinan tangan. Berdasarkan kekuatan tersebut, dirancanglah dua intervensi utama, yaitu kegiatan journaling dan pembuatan cincin dari manik-manik secara mandiri (DIY). Seperti yang disampaikan Fartoukh dan Chanquoy (2020), kegiatan menulis ekspresif dapat menjadi sarana bagi anak untuk memahami perasaannya dan mengurangi tekanan emosional. Sementara itu, aktivitas kerajinan tangan memberi ruang bagi AN untuk membangun fokus, menumbuhkan rasa percaya diri, serta berbagi keterampilan dengan teman-temannya.
Secara bertahap, perubahan positif mulai tampak. AN menunjukkan peningkatan dengan mengungkapkan perasaannya melalui tulisan diary (journaling). Selain itu, keterampilan yang diperoleh AN dalam membuat cincin, mampu membuat AN percaya diri untuk mengajarkannya kepada teman-teman lainnya. Proses ini menggambarkan bahwa dengan pendekatan yang hangat dan mendukung, potensi anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kasus AN menjadi refleksi bahwa intervensi sosial tidak selalu memerlukan pendekatan yang kompleks. Kadang, kegiatan sederhana yang dilakukan dengan penuh perhatian dapat menjadi jalan pemulihan yang bermakna. Sebagaimana dikemukakan oleh Zastrow (2000), kesejahteraan sosial tidak hanya mencakup aspek material, tetapi juga menyentuh pemenuhan kebutuhan sosial dan emosional individu. Melalui lingkungan yang suportif seperti Rumah Pintar, serta praktik intervensi yang dilandasi empati, anak-anak dapat menemukan kembali kekuatannya dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan berdaya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda