Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Cerita Mahasiswa Psikologi Unair Magang di RSJ Menur, Belajar Tangani Pasien hingga Beri Psikoedukasi

Cerita Mahasiswa Psikologi Unair Magang di RSJ Menur, Belajar Tangani Pasien hingga Beri Psikoedukasi

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
30 Juli 2026, 20.30 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Cerita Mahasiswa
Penulis: Ayunda Putri dan Nabila Amaliyah Surabaya, JurnalPost.com - Dua mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Ayunda Putri dan Nabila Amaliyah, menjalani program magang mandiri di Rumah Sakit Daerah (RSD) Prof. Dr. Moeljono Surabaya. Rumah sakit yang sebelumnya dikenal sebagai Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur itu menjadi tempat keduanya mengenal lebih dekat pelayanan kesehatan mental. Selama empat pekan, mereka terlibat dalam kegiatan di Poli Psikologi, bangsal rawat inap, hingga instalasi rehabilitasi. Program magang tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori psikologi yang dipelajari di kampus dengan kondisi nyata di lingkungan pelayanan kesehatan. Kesehatan mental menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Gangguan kesehatan mental tidak hanya memengaruhi kondisi emosional seseorang, tetapi juga kesehatan fisik, produktivitas, dan hubungan sosial. Data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat sekitar 970 juta orang di dunia hidup dengan gangguan mental pada 2019. Jumlah tersebut setara dengan satu dari delapan penduduk dunia, dengan kecemasan dan depresi sebagai gangguan yang paling umum. Sementara itu, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018, prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mencapai 9,8 persen atau sekitar 20 juta orang. Di tengah meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan mental, RSD Prof. Dr. Moeljono menjalankan layanan kesehatan jiwa dan nonjiwa. Rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur tersebut memberikan pelayanan kuratif, preventif, dan rehabilitatif. Dalam pelayanan kesehatan mental, psikolog klinis berperan dalam melakukan asesmen, memahami kondisi pasien, serta menentukan bentuk intervensi yang sesuai.

Belajar Proses Psikotes di Poli Psikologi

Selama magang, Ayunda dan Nabila menjalani kegiatan di tiga unit utama, yaitu Poli Psikologi, bangsal rawat inap, dan instalasi rehabilitasi. Di Poli Psikologi, keduanya membantu proses administrasi layanan psikotes di bawah supervisi psikolog klinis. Mereka mempersiapkan ruangan, memastikan perlengkapan tes tersedia, serta membantu menjaga kondisi selama sesi psikotes agar tetap tertib dan kondusif. Kegiatan tersebut memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai tahapan asesmen psikologis di lingkungan klinis. Mereka juga belajar bahwa ketelitian menjadi salah satu hal penting dalam pelaksanaan pemeriksaan psikologis.

Observasi Pasien di Bangsal Rawat Inap

Pengalaman berbeda diperoleh saat mahasiswa menjalani kegiatan di bangsal rawat inap. Mereka melakukan observasi dan wawancara terhadap pasien serta mendampingi sejumlah aktivitas harian. Kegiatan yang diikuti antara lain senam pagi dan Terapi Aktivitas Kelompok atau TAK. Mahasiswa bertemu dengan pasien yang memiliki kondisi dan karakteristik berbeda. Ada pasien yang dapat berkomunikasi secara kooperatif, tetapi ada pula yang membutuhkan pendekatan lebih sabar dan hati-hati. Melalui interaksi tersebut, mahasiswa belajar membangun hubungan atau rapport secara bertahap. Mereka juga melihat secara langsung berbagai gejala gangguan psikotik yang sebelumnya hanya dipelajari di ruang kuliah. Gejala tersebut dapat terlihat dari perubahan persepsi, proses berpikir, respons emosional, dan cara pasien berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Pengalaman di bangsal membuat mahasiswa memahami bahwa setiap pasien membutuhkan pendekatan yang berbeda. Sikap empatik, tenang, dan tidak menghakimi menjadi kunci dalam membangun interaksi yang aman.

Dampingi Art Therapy

Selain di bangsal, mahasiswa juga mengikuti kegiatan di instalasi rehabilitasi. Di unit tersebut, mereka mendampingi pelaksanaan art therapy atau terapi seni. Terapi ini memberikan kesempatan kepada pasien untuk menyalurkan pikiran dan perasaan melalui media visual. Instalasi rehabilitasi RSD Prof. Dr. Moeljono juga menyediakan sejumlah kegiatan lain, seperti terapi musik, terapi vokal, dan terapi okupasi. Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari rehabilitasi psikososial untuk membantu pasien mengembangkan kemampuan, mengekspresikan diri, dan menjalani proses pemulihan.

Ajarkan Teknik Pernapasan

Salah satu kontribusi Ayunda dan Nabila selama magang adalah mengadakan kegiatan psikoedukasi bagi pasien di salah satu bangsal. Kegiatan tersebut dirancang dan dilaksanakan di bawah bimbingan serta pengawasan psikolog klinis RSD Prof. Dr. Moeljono. Materi pertama yang diberikan adalah teknik relaksasi pernapasan diafragma atau diaphragmatic breathing. Teknik ini digunakan untuk membantu menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan. Pasien diajak meletakkan tangan pada bagian perut dan dada. Setelah itu, mereka diarahkan menarik dan mengembuskan napas secara perlahan selama beberapa menit. Teknik tersebut dilakukan secara berulang agar pasien dapat merasakan pola pernapasan yang lebih teratur dan rileks.

Ajak Pasien Membuat Pohon Kehidupan

Materi berikutnya adalah kegiatan bertajuk “Pohon Kehidupan” atau tree of life. Dalam kegiatan tersebut, pasien diajak menjawab sejumlah pertanyaan reflektif sederhana. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, hal yang disukai, orang terdekat, hingga cita-cita. Jawaban pasien kemudian dituliskan pada kertas origami berbentuk daun. Kertas tersebut selanjutnya ditempelkan pada media berbentuk pohon. Kegiatan ini dirancang untuk membantu pasien mengenali kembali hal-hal penting dalam kehidupannya. Pasien juga diajak menemukan harapan dan alasan untuk terus menjalani proses pemulihan.

Belajar Pentingnya Keselamatan dan Etika

Magang di rumah sakit jiwa tidak hanya memberikan pengalaman mengenai asesmen dan interaksi dengan pasien. Mahasiswa juga mendapatkan pembekalan mengenai keselamatan. Pada masa orientasi, mereka diperkenalkan dengan prosedur keamanan yang berlaku di lingkungan bangsal. Salah satunya adalah pembatasan barang pribadi yang berpotensi disalahgunakan. Prosedur tersebut diterapkan untuk menjaga keselamatan pasien, tenaga kesehatan, dan mahasiswa. Mahasiswa juga belajar menghadapi situasi yang tidak terduga. Dalam kondisi tertentu, mereka harus mampu mengambil keputusan dengan cepat, tetapi tetap mengikuti arahan tenaga kesehatan yang berwenang. Etika profesi turut menjadi bagian penting dalam kegiatan magang. Mahasiswa diwajibkan menjaga kerahasiaan identitas, riwayat, dan kondisi pasien. Informasi mengenai pasien tidak boleh disebarkan di luar kepentingan pelayanan, pendidikan, dan supervisi.

Tips Magang di Rumah Sakit Jiwa

Berdasarkan pengalaman tersebut, Ayunda dan Nabila membagikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan mahasiswa sebelum menjalani magang di rumah sakit jiwa. Pertama, mahasiswa perlu memperkuat pemahaman mengenai psikopatologi, pemeriksaan status mental, teknik observasi, dan jenis-jenis gangguan jiwa. Bekal teori akan membantu mahasiswa memahami kondisi yang ditemui saat melakukan observasi dan wawancara. Kedua, hubungan dengan pasien harus dibangun secara bertahap. Mahasiswa perlu bersikap hangat, sabar, dan konsisten tanpa membuat pasien merasa sedang diinterogasi. Ketiga, mahasiswa harus menjaga sikap netral dan tidak menghakimi. Cerita pasien perlu didengarkan dengan baik, meskipun terdengar tidak realistis atau berulang. Keempat, keselamatan pasien dan diri sendiri harus menjadi prioritas. Seluruh aturan mengenai barang bawaan dan prosedur darurat perlu dipatuhi. Mahasiswa juga tidak boleh ragu meminta bantuan tenaga medis apabila menghadapi situasi di luar kemampuan mereka. Kelima, seluruh kegiatan harus dilakukan di bawah supervisi psikolog klinis. Mahasiswa belum memiliki kewenangan untuk melakukan asesmen atau intervensi secara mandiri. Keenam, mahasiswa perlu menjaga kondisi emosionalnya. Mendengarkan kisah trauma atau melihat pasien dalam kondisi krisis dapat memberikan beban psikologis tersendiri. Refleksi diri dan diskusi bersama dosen pembimbing atau supervisor dapat membantu mahasiswa mengelola pengalaman tersebut. Ketujuh, hasil observasi perlu dicatat secara objektif dan tepat waktu. Catatan sebaiknya menggunakan bahasa deskriptif tanpa memberikan penilaian yang menghakimi. Kedelapan, kerahasiaan pasien harus dijaga secara ketat. Identitas, diagnosis, maupun riwayat pasien tidak boleh dibagikan kepada pihak yang tidak berkepentingan. Kesembilan, mahasiswa perlu memanfaatkan sesi supervisi untuk bertanya dan mendiskusikan hal-hal yang belum dipahami. Terakhir, mahasiswa harus siap menghadapi dinamika lapangan. Jadwal kegiatan dan kondisi pasien dapat berubah sewaktu-waktu sehingga dibutuhkan sikap fleksibel dan kemampuan beradaptasi.

Jadi Bekal Memasuki Dunia Kerja

Program magang di RSD Prof. Dr. Moeljono menjadi pengalaman penting bagi Ayunda dan Nabila dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Kegiatan tersebut membantu mereka mengembangkan kemampuan observasi, asesmen, psikoedukasi, serta pendampingan pasien. Bagi Universitas Airlangga, kegiatan magang juga memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman dan hubungan kerja sama dengan institusi pelayanan kesehatan. Sementara bagi RSD Prof. Dr. Moeljono, kehadiran mahasiswa magang dapat mendukung kegiatan pelayanan dan edukasi kesehatan mental di bawah pengawasan tenaga profesional. Pengalaman ini menunjukkan bahwa bekerja di bidang kesehatan mental tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan teori. Empati, kesabaran, kemampuan beradaptasi, kepatuhan terhadap prosedur, dan komitmen menjaga etika menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/cerita-mahasiswa-psikologi-unair-magang-di-rsj-menur-belajar-tangani-pasien-hingga-beri-psikoedukasi/96284/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.17 WITA

  • #Universitas Airlangga

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

Pilihan Editor

  1. 1 PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online
  2. 2

    Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

  3. 3

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

  4. 4

    Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

  5. 5

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.