JURNALPOST.COM - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan provinsi Sulsel, memperketat proses ditribusi dan penyaluran hewan ternak dari satu daerah ke daerah lain di Sulsel. Termasuk juga distribusi hewan ternak dari luar Sulsel yang masuk ke wilayah Sulsel.
"Kita perketat proses distribusi ternak. Ternak yang dilindahkan atau didistribusikan harus dilengkapi dengan surat keterangan kesehatan hewan dari instansi terkait. Kalau itu tidak ada tidak akan kita biarkan," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel, Abdul Azis, kemarin.
Menurutnya hal ini dilakukan untuk memprotec atau mencegah adanya penyebaran penyakit antraks pada hewan ternak yang ada di Sulsel. Selain itu juga sebagai langkah antisipasi peredaran daging hewan ternak yang terjangkit penyakit antraks.
"Hal itu (peredaran daging hewan ternak yang terjangkit antraks) tetap kita waspadai bersama teman-teman dinas peternakan dan instansi terkait di daerah, tetapi itu sangat kecil," ujarnya.
Terkait masalah penanganan penyakit antraks yang menyerang hewan ternak di Sulsel, seperti yang terjadi di Pinrang awal bulan lalu, Azis mengatakan, saat ini hal tersebut sudah bisa teratasi.
"Pada prinsipnya itu sudah bisa ditangani, dan sampai saat ini sudah tidak ada lagi laporan kejadian serupa yang terjadi di wilayah Sulsel. Dirjen Peternakan sendiri sudah turun ke lapangan. Kami juga sebelumnya sudah turun untuk melakukan antisipasi dan penanganan," paparnya.
Azis juga membantah jika jumlah ternak sapi di Pinrang yang mati karena terserang oenyakit antraks .encali lebih dari 30 ekor.
"Yang benar-benar terbukti dan teridentifikasi mati karena terserang antraks itu hanya 9 ekor, sisanya itu tidak busa dibuktikan," terangnya.
Azis mengaku, yang menjadi kelemahan pihaknya untuk penanganan masalah ini salah satunya adalah lambatnya laporan dari masyarakat.
"Hanya yang menjadi kelemahan kita kemarin, karena masyarakat lambat melaporkan kejadian itu kepada kita. Sehingga sedikit terlambat penanganannya," ucapnya.
Azis juga mengatakan, kejadian serupa memang sebelumnya sudah pernah terjadi di Sidrap dua bulan sebelum kejadian di Pinrang, tetapi menurutnya hal itu sudah bisa diatasi dan diantisipasi penularannya ke daerah lain.
"Alhamdulillah, kita bersama instansi terkait seperti teman-teman di Balai Veteriner Maros sudah bisa menangani dan melakukan langkah lencegahan penularannya," ujarnya.
Saat ini, pihaknya juga secara rutin melakukan pemantauan dan pemberian vaksin kepada hewan ternak untuk mencegah hewan ternak terjangkit penyakit antraks walaupun jumlah vaksin yang tersedia jumlahnya terbatas.
"Untuk vaksin, kami masih minta tambahan dari pusat karena jumlahnya tidak berimbang. Kita diberikan hanya 1000 vaksin padahal jumlah populasi dan luas wilayah kita cukup besar," tutupnya. (fo)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda