Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Bisnis Laris atau Ibu Kelelahan: Akankah Work-Life Balance dan Risiko Burnout Menentukan Keberlanjutan Usaha Mompreneur?

Bisnis Laris atau Ibu Kelelahan: Akankah Work-Life Balance dan Risiko Burnout Menentukan Keberlanjutan Usaha Mompreneur?

Penulis:
  • Andisya Finabila, S.Agr,,
  • Ihlima Azzahra, S.P,
  • Dr. Yusalina M.Si

Dosen Pengampu: Dr. Yusalina M.Si

Afiliasi: Sains Agribisnis, IPB University

Editor: Tim Editor JurnalPost
26 Oktober 2026, 19.20 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Mother and Child Workspace Moment

Ketika Rumah Menjadi Tempat Kerja Sekaligus Ruang Keluarga

Di balik keberhasilan mompreneur, terdapat perjuangan dalam membagi waktu, energi, dan perhatian antara bisnis dan keluarga. Menjaga keseimbangan kehidupan kerja bukan sekadar persoalan mengatur jadwal, melainkan juga upaya mempertahankan kesehatan diri dan keberlanjutan usaha.

Menjadi seorang ibu sekaligus pengusaha bukanlah hal yang mudah. Bagi mompreneur, rumah bukan hanya tempat untuk berkumpul bersama keluarga, tetapi juga menjadi ruang untuk menjalankan bisnis, melayani pelanggan, mengelola pesanan, menambah pendapatan keluarga, hingga menyusun strategi pengembangan usaha. Di tengah berbagai aktivitas tersebut, tanggung jawab sebagai ibu dan istri tetap harus dijalankan.

IKLAN

Mompreneur adalah istilah yang merujuk pada ibu yang melakukan kegiatan wirausaha sekaligus menjalankan tanggung jawab keluarga. Para ibu tersebut melakukan aktivitas bisnis di sela-sela kesibukan mengasuh anak, mengerjakan tugas rumah tangga, dan mengurus suami (Saningoutra et al., 2016).

Keputusan untuk menjadi mompreneur umumnya didorong oleh keinginan memperoleh penghasilan tambahan, mengembangkan kreativitas, menyalurkan minat, serta memiliki fleksibilitas waktu agar tetap dekat dengan keluarga. Namun, fleksibilitas yang diharapkan tidak selalu berarti beban pekerjaan menjadi lebih ringan.

Menurut Dhaliwal (2022), tantangan terbesar yang dihadapi mompreneur adalah menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga, mengelola waktu, serta memberikan prioritas kepada keluarga (family dependent care) dibandingkan pekerjaan.

Aktivitas seperti mengantar anak ke sekolah, menyiapkan makanan, membersihkan rumah, dan memenuhi kebutuhan keluarga sering kali berlangsung bersamaan dengan tuntutan mengelola bisnis. Kondisi tersebut membuat batas antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur.

Work-Life Balance: Lebih dari Sekadar Membagi Waktu

Keseimbangan kehidupan kerja atau work-life balance menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlangsungan usaha mompreneur. Keseimbangan ini bukan berarti seorang ibu harus membagi waktu secara sama rata antara pekerjaan dan keluarga, melainkan mampu menjalankan berbagai peran secara efektif serta merasa puas dengan kehidupan yang dijalaninya.

Mencapai work-life balance bukan sekadar soal membagi jam di atas kertas, melainkan menyelaraskan waktu, keterlibatan emosional, dan kepuasan batin. Keseimbangan ini hadir ketika seorang ibu mampu menjalankan tanggung jawab bisnis tanpa kehilangan momen hangat bersama keluarga maupun waktu untuk memulihkan energi pribadi.

Setiap mompreneur pun memiliki caranya masing-masing. Ada ibu yang berhasil membangun batas tegas melalui jam kerja yang disiplin, sementara yang lain memilih pola yang lebih fleksibel dengan menjalankan bisnis di sela-sela waktu luang setelah tugas rumah tangga terselesaikan.

Kuncinya bukan pada kesamaan metode, melainkan pada kesadaran untuk tidak mengabaikan kebutuhan keluarga dan kesehatan mental diri sendiri.

Hal ini memperlihatkan bahwa tidak ada satu pola pengelolaan waktu yang berlaku bagi semua mompreneur. Keseimbangan perlu disesuaikan dengan kondisi keluarga, karakteristik usaha, dan kebutuhan masing-masing individu. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa tuntutan bisnis tidak sepenuhnya mengambil alih kehidupan pribadi.

Work Overload dan Risiko Burnout yang Mengintai

Ketika tuntutan bisnis dan keluarga terus bertambah, mompreneur berisiko mengalami kelelahan fisik maupun emosional. Work overload atau beban kerja berlebihan merupakan salah satu faktor eksternal yang memengaruhi work-life balance.

Data Global Entrepreneurship Monitor (GEM) tahun 2025 menunjukkan bahwa alasan keluarga merupakan salah satu alasan utama perempuan menghentikan usahanya, yaitu sebesar 22,9%.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa keberlangsungan usaha perempuan sangat dipengaruhi oleh peran ganda dalam pengasuhan anak dan tanggung jawab rumah tangga. Situasi ini berpotensi membatasi waktu, energi, serta kapasitas mereka dalam mempertahankan eksistensi bisnis di tengah persaingan.

Konflik antara peran rumah tangga dan pekerjaan (work-family conflict) memberikan dampak sistemik yang melampaui persoalan kesehatan mental individu.

Ketimpangan alokasi waktu dan energi tidak hanya menggerus keharmonisan rumah tangga, tetapi juga mengancam keberlangsungan usaha yang dikelola para mompreneur. Banyak pelaku usaha perempuan terpaksa menghentikan operasional bisnisnya akibat ketidakseimbangan manajemen waktu dan tekanan peran ganda yang tidak terakomodasi.

Kondisi ini memunculkan pembahasan mengenai tolok ukur kesuksesan wirausaha. Peningkatan performa bisnis yang berkelanjutan tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan finansial, tetapi juga bergantung pada stabilitas kesehatan mental, ketahanan hubungan keluarga, dan kepuasan hidup pengelolanya.

Dukungan Keluarga dan Delegasi sebagai Kunci

Mompreneur dapat mencapai keseimbangan antara pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga melalui pendelegasian tugas serta penguatan hubungan keluarga sebagai strategi untuk mewujudkan work-life balance.

Dengan adanya delegasi tugas, mompreneur tidak harus menjalankan seluruh tanggung jawab seorang diri. Pendelegasian dapat dilakukan dengan melibatkan anggota keluarga dalam pekerjaan rumah tangga, meminta bantuan pengasuh, atau membagi tanggung jawab operasional bisnis kepada karyawan.

Langkah ini dapat mengurangi beban yang harus ditanggung seorang ibu sehingga ia memiliki lebih banyak waktu untuk menjalankan peran lainnya.

Selain itu, komunikasi dan keterlibatan keluarga juga berperan penting. Dukungan pasangan dalam pengasuhan anak dan pekerjaan domestik dapat membantu mompreneur menghadapi tuntutan sehari-hari.

Dukungan tersebut memberikan bantuan praktis maupun emosional ketika mompreneur menghadapi tekanan.

Di samping dukungan eksternal, kemampuan individu untuk terus belajar (continuous learning), bersikap fleksibel, dan mengenali batas kemampuan diri juga sangat diperlukan.

Mompreneur dapat menetapkan prioritas, menyusun jadwal yang realistis, membedakan kebutuhan mendesak dengan pekerjaan yang dapat ditunda, serta menyediakan waktu istirahat dan me-time.

IKLAN

Menjaga waktu pribadi bukanlah bentuk pengabaian terhadap keluarga atau usaha, melainkan bagian dari upaya merawat kapasitas diri agar tetap mampu menjalankan keduanya.

Namun, mengandalkan strategi pribadi dan internal keluarga saja sering kali belum cukup. Sebagaimana disoroti oleh GEM (2025), pengusaha perempuan menghadapi tingkat stres yang sangat tinggi akibat terbatasnya dukungan sosial dan tekanan berulang dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Ketidakseimbangan antara tuntutan domestik dan tuntutan usaha atau pekerjaan menjadi pemicu utama emotional exhaustion (kelelahan emosional).

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengintegrasikan dukungan kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan pembangunan ketahanan diri (resilience building) ke dalam ekosistem kewirausahaan secara lebih luas.

Pendekatan ini dapat diwujudkan melalui pembentukan lingkungan dukungan emosional melalui jaringan rekan sejawat (peer network) dan bimbingan mentor, penyediaan pelatihan daring, serta pembekalan teknik pengurangan stres dan penetapan batasan (boundary setting) yang efektif agar para pengusaha perempuan mampu menjaga kesehatan mental mereka.

Praktik baik mengenai pentingnya integrasi ini dapat dilihat dari berbagai inisiatif global.

Di Amerika Serikat, organisasi The Startup Ladies menyediakan dukungan melalui berbagai jalur untuk memenuhi kebutuhan pendiri usaha, termasuk menghadirkan seri "Kesehatan Mental untuk Bisnis" yang secara khusus membahas tantangan psikologis, seperti stres, isolasi, dan kelelahan operasional, melalui diskusi terfasilitasi bersama psikolog, psikiater, dan pekerja sosial.

Sementara itu, di Nigeria, platform Digital Women Entrepreneurs Marketplace Enablement (WEMEN) dari Accion membangun sistem dukungan komprehensif yang bertujuan memberdayakan pengusaha perempuan dengan fokus pada peningkatan kepercayaan diri, inovasi, dan kemandirian sebagai pendorong utama pertumbuhan bisnis berkelanjutan.

Keberlanjutan Usaha Dimulai dari Kesejahteraan Pengusaha

Keberlanjutan usaha mompreneur tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengelola keuangan, memasarkan produk, atau mempertahankan pelanggan. Kesejahteraan pengusaha juga menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan bisnis.

Ketika seorang mompreneur mampu mengelola perannya secara lebih seimbang, ia memiliki kesempatan lebih besar untuk menjaga kualitas kehidupan pribadi sekaligus menjalankan usahanya secara konsisten.

Pengelolaan waktu, dukungan sosial, dan kemampuan menyeimbangkan tanggung jawab merupakan bagian penting dari pengalaman mompreneur. Tanpa pembagian waktu dan keseimbangan emosional (emotional balance), seorang mompreneur sangat rentan mengalami burnout.

Pada akhirnya, menjadi mompreneur bukan tentang keharusan untuk selalu mampu menyelesaikan semua pekerjaan atau memenuhi seluruh tuntutan secara sempurna.

Keberhasilan juga tercermin dari kemampuan mengenali batas diri, menerima bantuan, membangun hubungan keluarga yang suportif, dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Sebab, usaha yang berkelanjutan membutuhkan pengusaha yang juga memiliki kesempatan untuk tumbuh, sehat, dan sejahtera.

Dengan demikian, mompreneur dengan orientasi hidup yang seimbang cenderung memiliki psychological well-being yang baik sehingga dapat memenuhi tujuan serta ambisinya untuk terus bekerja setelah menikah dan melahirkan (Mehta & Parikh, 2022).

Referensi

  1. Dhaliwal, A. (2022). The Mompreneurship Phenomenon: An Examination of the Antecedents and Challenges of Mothers in Business. International Journal of Service Science, Management, Engineering, and Technology.

  2. Mehta, P. G., & Parikh, R. (2022). Dealing With the Psychological Well-Being of Mompreneurs in Millennia India: A Psychedelic Perspective.

  3. Saningoutra, G., Yuniawan, A., & Rahardja, E. (2016). Motivasi Mompreneur untuk Terlibat dalam Komunitas Indonesia Mompreneur. Tesis. Semarang: Universitas Diponegoro.

  4. Gultom, E. (2022). Pengaruh Faktor Individu terhadap Perilaku Wirausaha Mompreneur (Studi Kasus pada Komunitas Haibolu Indonesia). Jurnal Bisnis Kompetitif, 1(2), 123–128. https://doi.org/10.35446/bisniskompetitif.v1i2.1064

  5. Wijaya, L., & Layman, C. V. (2018). How Do Mompreneurs Achieve Work-Life Balance? (Evidence From Small Business in Tangerang, Indonesia).

  6. Global Entrepreneurship Monitor. (2021). GEM 2020/2021 Women's Entrepreneurship Report: Thriving Through Crisis. Global Entrepreneurship Research Association.

  7. Naluri. (2023, 31 Agustus). Wanita Lebih Rentan terhadap Burnout Menurut Studi dari Naluri. https://www.naluri.life/id/news/wanita-lebih-rentan-terhadap-burnout-menurut-studi-dari-naluri

  8. Puspa, A. W. (2026, 14 Mei). Ibu Bekerja atau Punya Usaha di Rumah Bisa Burnout, Ini Kata Pakar IPB. Kompas.com. https://www.kompas.com/edu/read/2026/05/14/151019071/ibu-bekerja-atau-punya-usaha-di-rumah-bisa-burnout-ini-kata-pakar-ipb

  9. Sumunar, S. B. (2024, 18 Desember). Fenomena Working Mom Burnout yang Rentan Dialami Ibu Bekerja. Parapuan. https://www.parapuan.co/read/534195249/fenomena-working-mom-burnout-yang-rentan-dialami-ibu-bekerja?page=all


ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/bisnis-laris-atau-ibu-kelelahan-akankah-work-life-balance-dan-risiko-burnout-menentukan-keberlanjutan-usaha-mompreneur/98357/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 26 Oktober 2026, 22.49 WITA

  • #Burnout
  • #Kesehatan Mental
  • #keberlanjutan usaha
  • #keluarga
  • #mompreneur
  • #peran ganda
  • #work life balance

Artikel Terkait

Di Antara Nilai Budaya dan Kesehatan Mental: Mengapa Tidak Semua Luka Berani Diceritakan?

Pekerja Informal di Ketinggian: K3 Jangan Berhenti di Regulasi

Satu Negara, Beragam Pengalaman: Memahami Kesehatan Mental dalam Perspektif Multikultural di Tengah Dinamika Sosial-Politik

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.