JAKARTA, JurnalPost.com - Perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen menjadi bagian dari pembahasan dalam Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026 pada tanggal 27 Agustus 2026. Forum yang menjadi bagian dari perayaan 25th Anniversary Beauty World Indonesia ini mempertemukan dokter, pemilik klinik, business leaders, serta berbagai pelaku industri untuk membicarakan arah perkembangan industri aesthetic.
Industri aesthetic, dermatology, anti-aging, dan regenerative medicine di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap personal appearance, skin health, preventive treatment, dan healthy aging. Di saat yang sama, perkembangan teknologi membuat kebutuhan klinik tidak lagi berhenti pada penyediaan treatment atau perangkat terbaru.
Melalui tema “Scale Your Clinic, Increase Revenue, Learn from Global Experts”, Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026 membahas sejumlah aspek yang berkaitan dengan perkembangan klinik, mulai dari clinical innovation, regenerative aesthetics, patient engagement, hingga business growth di era artificial intelligence.
Bapak Efendi, CEO Beauty World Indonesia, mengatakan perkembangan industri selama 25 tahun terakhir menunjukkan adanya perubahan dari sisi teknologi, treatment, serta kebutuhan dan ekspektasi pasien.
“Tahun ini menjadi momentum yang sangat spesial bagi Beauty World karena kami merayakan 25 tahun perjalanan Beauty World Indonesia. Selama 25 tahun, kami telah menyaksikan bagaimana industri aesthetic berkembang, dari sisi teknologi, treatment, hingga kebutuhan dan ekspektasi pasien yang terus berubah,” ujar Bapak Efendi.
Menurutnya, tantangan bagi klinik ke depan tidak hanya berkaitan dengan teknologi yang digunakan. Integrasi antara teknologi, clinical excellence, patient experience, dan business strategy menjadi bagian dari sistem pertumbuhan klinik yang sustainable.
Salah satu teknologi yang dibahas dalam summit adalah 3D Skin Analysis. Dr. Lau Kian Hong (Edmond), Representative Meicet, membawakan sesi “Clinical Integration of Three-Dimensional Skin Analysis for Patient-Engaged Dermatology and Aesthetic Care”.
Pembahasan tersebut melihat bagaimana visual data dari teknologi 3D Skin Analysis dapat membantu dokter memahami kondisi kulit pasien secara lebih komprehensif. Penggunaan data juga dapat menjadi bagian dari proses konsultasi yang lebih transparan dan melibatkan pasien.
“The future of aesthetic consultation is moving from subjective assessment toward a more data-driven and patient-engaged approach. When patients can clearly see and understand their skin condition through visual data, the consultation becomes more transparent, personalized, and meaningful,” kata Dr. Lau Kian Hong (Edmond).
Dari sisi regenerative aesthetics, Dr. Samuel Stemi, Representative Re:H Curiosis, membahas precision microneedling dan smart skin regeneration melalui sesi “The Future of Regenerative Aesthetic: Precision Microneedling & Smart Skin Regeneration”.
Materi tersebut mencakup perkembangan regenerative aesthetics, personalized treatment, clinical protocol, patient selection, safety, dan clinical consistency.
“Regenerative aesthetics bukan sekadar memperkenalkan treatment baru. Ini tentang memahami bagaimana kulit merespons treatment, bagaimana kita mengontrol proses treatment tersebut, serta bagaimana menciptakan pendekatan regenerasi yang lebih presisi dan personal sesuai kebutuhan setiap pasien,” ujar Dr. Samuel Stemi.
Pembahasan mengenai regenerative medicine juga hadir melalui sesi “Stem Cell Science, Safety & Regenerative Beauty” yang dibawakan Dr. Adi Wijayanto, Founder Biothera Stem Cell Clinic, Jakarta.
Dr. Adi membahas potensi regenerative medicine, skin regeneration, dan healthy aging, sekaligus menyoroti perbedaan antara evidence-based regenerative medicine dengan marketing claims. Menurutnya, pembahasan mengenai stem cell dan regenerative medicine perlu ditempatkan dalam kerangka science, evidence, safety, dan responsible clinical practice.
Selain perkembangan teknologi klinis, forum tersebut turut melihat bagaimana pengelolaan klinik dan pengalaman pasien menjadi bagian dari pertumbuhan bisnis.
Dalam Executive Talk Show “Mastering Hair & Facial Regeneration”, Dr. Andreas Widiansyah, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, Dr. Chen Ik Cen, M. Biomed (AAM), dan Dr. Vincentius Fabriyanti, M. Biomed (AAM), membahas berbagai aspek pengembangan klinik.
Pembahasan mencakup positioning, differentiated treatment portfolio, adopsi teknologi, patient acquisition, conversion, retention, hingga lifetime value.
Dr. Andreas Widiansyah menilai kemampuan klinik untuk berkembang tidak hanya bergantung pada teknologi terbaru, tetapi juga bagaimana clinical excellence dapat berjalan bersama kebutuhan pasien dan sistem pelayanan yang konsisten.
Sementara itu, Dr. Chen Ik Cen, CEO Chen Group, melihat teknologi dari sisi clinical value sekaligus business value. Menurutnya, tantangan klinik bukan hanya memilih teknologi baru, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat dioptimalkan untuk memberikan value bagi pasien dan sustainability bisnis.
Dr. Vincentius Fabriyanti, CEO Dr. Vincentius Clinic, menyoroti patient experience sejak konsultasi pertama. Baginya, pasien membutuhkan pemahaman mengenai kondisi mereka, treatment plan yang personalized, serta journey yang terarah.
AI menjadi bagian lain dari pembahasan mengenai masa depan industri aesthetic. Dalam sesi “Growth Hack in AI Era”, Adythia Pratama membahas perubahan consumer behavior, AI-powered marketing, content creation, customer insight, personalization, organic patient acquisition, serta pengembangan lean but high-impact marketing systems.
“AI bukan hanya tentang membuat konten lebih cepat. Perubahan yang lebih besar terjadi ketika AI digunakan untuk memahami customer, menemukan growth opportunity, membangun personalized journey, dan membuat keputusan marketing berdasarkan business outcomes,” ujar Adythia Pratama.
Menurut Adythia, perkembangan AI juga mengubah cara klinik memandang strategi marketing. Fokusnya bukan semata pada besarnya anggaran, melainkan bagaimana sistem marketing dapat dibuat lean, relevan, measurable, dan mampu menghasilkan pertumbuhan.
Berbagai pembahasan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan industri aesthetic berjalan di beberapa sisi sekaligus. Teknologi klinis, pendekatan berbasis data, regenerative medicine, pengalaman pasien, hingga pemanfaatan AI dalam marketing menjadi bagian dari perubahan yang sedang berlangsung.
Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026 menjadi salah satu rangkaian perayaan 25th Anniversary Beauty World Indonesia sekaligus forum knowledge sharing bagi para pelaku industri. Melalui pertemuan antara dokter, clinic owners, medical directors, business leaders, industry professionals, dan business partners, summit ini membahas perkembangan industri aesthetic dari sisi clinical innovation hingga business growth di tengah perubahan teknologi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda