JurnalPost.com - Sebuah penelitian yang dilakukan oleh SwiftKey pada 21 Februai 2015, menghasilkan sebuah penemuan yang menyatakan bahwa Indonesia dalah rangking pertama negara trilingual di dunia. Trilingual dalam istilah lain yakni kemampuan masyarakat untuk secara aktif berkomunikasi menggunakan tiga bahasa yang berbeda. Menurut laporan yang di dipublikasikan oleh wowshack.com pada 6 Oktober 2022 Indonesia memiliki populasi penduduk paling banyak dengan kemampuan tiga bahasa yakni sebesar 17,4%. “The trilingual combination of Indonesian/Javanese/English has given Indonesia the number 1 spot, followed by Israel (English/Hebrew/Russian) and Spain (Catalan/English/Spanish)” Kombinasi tiga bahasa yang digunakan di Indonesia yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa dan Bahasa inggris telah memberi Indonesia peringkat pertama dan diikuti oleh Israel dengan Bahasa Inggris, Ibrani dan Rusia dan Spanyol dengan Bahasa Katalan, Bahasa Inggris, dan Bahasa Spanyol.
Hal ini menjadi sangat menarik ketika kita membandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang mengatakan bahwa sepanjang tahun 2011-2019 ada sebanyak 11 bahasa daerah yang telah dinyatakan punah dari tanah nusantara. Melansir dari CNN Indonesia 30 Juni 2022, Kemendikbud memberikan tiga ketegorisasi merah beberapa untuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia. , yakni kategori punah sebanyak 11 bahasa, kategori terancam punah 26 bahasa dan 6 bahasa dalam kategori kritis.
Meksipun tidak termasuk kedalam kategori bahasa yang terancam punah atau kritis bahasa jawa patut waspada dengan potensi-potensi kemunduran eksistensi bahasa jawa, sejumlah penelitian terkait bahasa jawa telah menunjukkan mulai adanya perliaku keengganan untuk menggunakan Bahasa Jawa dalam keseharian. Mengutip penelitian yang dipublikasikan oleh Jurnal Skripta, Volume 6 Nomor 2, September 2020-PBSI UPY dengan judul “PERGESERAN PENGGUNAAN BAHASA JAWA KE BAHASA INDONESIA DALAM KOMUNIKASI KELUARGA DI SLEMAN” dan penelitian yang dipublikasikan SOLIDARITY : Vol 2 No 2 (2013) berjudul “KRISIS EKSISTENSI PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM KELUARGA JAWA (STUDI KASUS DI DUSUN SIROTO KELURAHAN SUSUKAN KECAMATAN UNGARAN TIMUR KABUPATEN SEMARANG), kedua penelitian tersebut menyatakan bahwa sudah terjadi pergeseran penggunaan Bahasa Jawa bahkan dari level keluarga, orang tua mulai menginggalkan Bahasa Jawa untuk diwariskan kepada anak-anaknya dan memilih Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional.
Menurut UNESCO permasalahan krisis penutur bahasa daerah juga dialami oleh negara-negara lain di dunia terutama negara-negara dengan keanekaragamaan etnis. UNESCO mencatat ada sekitar 7000 an bahasa di dunia, dan dalam setiap dua minggu ada 1 bahasa yang punah. Lantas apakah Indonesia akan melepas statusnya sebagai negara trilingual nomor 1 di dunia ?. Dan bagaimanakah upaya agar kita dapat mempertahankan Bahasa Jawa dan bahasa daerah lainnya?.
Praktisi sekaligus pegiat kebudayaan jawa dari Kabupaten Tulungagung, Jimmy Martin, S.Pd menyampaikan saat dijumpai pada Selasa, 20 Juni 2022. “ Penggunaan Bahasa Jawa yang masih umum dipergunakan di kalangan anak-anak yaitu level dasar atau Bahasa Jawa Ngoko. Pengaplikasiannya benar apabila digunakan untuk teman sebaya, yang tidak benar adalah dengan orang tua atau orang yang lebih tua masih menggunakan Bahasa Jawa Ngoko. Makanya kebanyakan anak-anak yang sulit untuk menggunakan Bahasa Jawa mereka cari aman saja dengan menggunakan Bahasa Indonesia kepada orang yang lebih tua”.
Didalam Bahasa Jawa kita mengenal adanya tiga tingkatan yakni Bahasa Jawa Ngoko, Krama Lugu dan Krama Alus. Menurutnya, Bahasa Jawa Krama Alus lah yang paling banyak ditinggalkan, padahal krama alus merupakan bahasa yang dipergunakan saat berbicara kepada orang tua dan orang yang lebih tua. Menurutnya alasan yang menjadi penyebab kenapa anak hingga saat ini masih banyak yang tidak mau menggunakan krama alus karena merasa malu,canggung, dan tidak terbiasa menggunakannya. “ Sangat rugi apabila anak kecil tidak diwarisi Bahasa Jawa, utamanya krama alus. Sayang apabila anak kecil tidak diajari caranya berbahasa yang baik dan benar menggunakan Bahasa Jawa (krama alus) kepada orang tuanya” lanjutnya.
Urgensi terkait dengan upaya pelestarian Bahasa Jawa ia menyampaikan “ English is international language, but javanesse language is the most heritage language in the world. Bahasa Jawa itu adalah bahasa yang ada sejarahnya, ada keunikan di dalamnya, apabila kita aplikasikan dengan baik dan benar tentunya menjadikan komunikasi itu lebih enak lebih gayeng”.
Sebagai bangsa Indonesia, yang dilahirkan dengan keanekaragaman etnis, bahasa dan budaya, sudah sepatutnya menjadi kewajiban bagi seluruh anak bangsa untuk menjaga warisan tersebut. Termasuk Bahasa Jawa, sebagai salah satu bahasa etnis yang paling banyak dituturkan, bukan berarti boleh lengah terhadap ancaman-ancaman degradasi. Sudah selayaknya sebagai masyarakat jawa melestarikan apa yang menjadi identitasnya dan termasuk juga budaya-budaya etnis yang lainnya. Bukan tentang predikat yang diperoleh bangsa Indonesia, namun bagaimana kita terus merawat dan melestarikan kekayaan khasanah bangsa sebagai jati diri bangsa Indonesia.
Oleh: Mochamad Fernanda Abuzar Zuhri, S.I.Kom


Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda