BEKASI, JurnalPost.com – Setelah pekan kemarin absen karena situasi Jakarta tidak kondusif, Aqsa Working Group (AWG) kembali mengajak seluruh masyarakat Indonesia terutama umat Islam untuk turun kembali menggelar Aksi Jum’at Bela Palestina pada 12 September 2025 pukul 16.00 WIB di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta.
Pada aksi edisi 23 ini tema yang diusung adalah “Berjama’ah Lindungi Sumud Frotilla, Dobrak Blokade Gaza Demi Al-Aqsa dan Palestina.”
Melalui aksi pekan ini, AWG menyerukan bangsa Indonesia bersatu melindungi gerakan global Sumud Flotilla menerobos blokade zionis Israel di Gaza. Sebuah misi kemanusiaan melalui jalur laut dengan sedikitnya 70 kapal yang melibatkan aktivis atau relawan lebih dari 40 negara termasuk Indonesia.
“Aksi ini harus terus dilakukan sampai zionis Israel hengkang dari tanah Palestina serta para pelaku dan kolaborator genosida diseret ke pengadilan internasional,” ujar Ketua Presidium AWG Muhammad Anshorullah, dalam keterangannya, Rabu (10/9).
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa jumlah korban warga Gaza akibat agresi zionis Israel sejak Oktober 2023 telah mencapai 64.600 jiwa dan setidaknya 140 anak meninggal kelaparan akibat blokade pangan zionis Israel.
Tetap Berlayar Meski Diintimidasi
Sementara itu puluhan aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) bertekad akan terus melanjutkan misinya berlayar menembus blokade Gaza oleh zionis Israel meski dua kali mengalami intimidasi serangan pesawat nirawak (drone) ke kapal aktivis yang sedang berada di perairan Tunisia.
Panitia GSF melaporkan kapal andalannya, Alma Boat, berbendera Inggris, diserang drone pada Selasa malam (9/9) hingga terbakar di dek. Namun api berhasil dipadamkan awak kapal dan tidak ada korban jiwa.
Sebelumnya, pada Senin dini hari sebuah kapal keluarga juga mendapat serangan drone yang diduga keras sebagai upaya intimidasi untuk menggagalkan misi kemanusiaan dobrak blokade Gaza oleh zionis Israel.

“Panitia GSF menegaskan, serangan demi serangan tersebut tidak akan melemahkan tekad para aktivis untuk terus berlayar dan menyuarakan kemanusiaan,” ujar salah satu relawan Indonesia saat melaporkan persiapan keberangkatan armada GSF ke Gaza secara daring, Rabu malam.
Ketua Presidium AWG Muhammad Anshorullah mengecam keras serangan yang menurutnya jelas melanggar hukum internasional, hukum laut, dan prinsip kemanusiaan universal.
“Ini adalah bentuk nyata terorisme. Siapapun di belakang serangan itu adalah pendukung kejahatan genosida dan penjajahan Zionis Israel di Palestina,” tegas Anshorullah.
Ia menyerukan kepada PBB, OKI, dan seluruh masyarakat internasional untuk segera bertindak nyata. Diam berarti bersekutu dengan kejahatan. Dunia harus memberikan sanksi tegas dan menghentikan kejahatan perang Zionis Israel.
Selain itu, AWG mengharapkan dukungan dan perlindungan pemerintah Indonesia terhadap para relawan Indonesia yang jumlah mencapai 30 orang (termasuk 4 orang dari AWG), jumlah terbesar di antara relawan negara-negara lain.
“Jika tidak ada perlindungan internasional yang kuat, maka keselamatan mereka dan nyawa WNI berada dalam ancaman nyata. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus melakukan upaya diplomasi untuk memberikan perlindungan kuat terhadap para WNI tersebut,” ujar Ketua Presidium AWG.
Global Sumud Flotilla (GSF) adalah misi kemanusiaan internasional non kekerasan yang berlayar dari Tunisia menuju Jalur Gaza dengan tekad menembus blokade ilegal Zionis Israel. Armada ini membawa aktivis, tokoh, pegiat kemanusiaan dari berbagai negara termasuk bantuan darurat kemanusiaan. (AM)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda