JAKARTA, JurnalPost.com — Tim Peneliti Pendidikan Teknik Elektronika Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengembangkan AI-Based Learning Assistant, sebuah prototipe pendamping belajar berbasis kecerdasan buatan untuk mata pelajaran Teknik Kontrol Mekatronika.
Prototipe yang memanfaatkan teknologi Large Language Models (LLMs) dan ChatGPT tersebut diuji coba di SMKN 69 Jakarta pada 15 Juni 2026. Pengujian melibatkan 29 peserta didik dan menunjukkan kenaikan rata-rata hasil belajar sebesar 20,92 poin setelah penggunaan asisten AI.
Penelitian dipimpin oleh Prof. Dr. Moch. Sukardjo, M.Pd., dengan melibatkan dosen Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika dari berbagai bidang keilmuan, yakni Dr. Arum Setyowati, M.T., Muhamad Wahyu Iqbal, M.T., Sri Wahyuni, M.Pd., Aedil Akmal, S.Pd., M.Pd., serta Agam Nizar Dwi Nur Fahmi, S.Pd., M.T.
Tim penelitian juga melibatkan dua mahasiswa, Meyta Salsabila dan Ilham Restu Ramadhan, serta Rezza Adzmi, S.Pd., M.Si., guru Teknik Kontrol Mekatronika SMKN 69 Jakarta sebagai mitra penelitian.
Inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pembelajaran vokasi yang memerlukan penjelasan cepat, kontekstual, dan sesuai dengan tingkat pemahaman peserta didik.
Dalam pembelajaran mekatronika, siswa tidak hanya dituntut mengenali berbagai komponen. Mereka juga harus mampu menghubungkan konsep, memahami logika rangkaian, serta memecahkan permasalahan pada sistem otomasi.

Kebutuhan tersebut semakin penting seiring berkembangnya otomasi di dunia industri. Lulusan sekolah menengah kejuruan tidak cukup hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah.
Karena itu, proses pembelajaran perlu memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi konsep, menguji pemahaman, melakukan kesalahan, serta menghubungkan materi pembelajaran dengan situasi kerja yang nyata.
AI sebagai Pendamping Belajar
Selama proses uji coba, AI-Based Learning Assistant digunakan untuk membantu peserta didik memperoleh penjelasan materi, mengklarifikasi konsep yang belum dipahami, dan belajar secara lebih mandiri.
Meski menggunakan teknologi kecerdasan buatan, penerapannya tetap diarahkan sesuai tujuan pembelajaran dan berada di bawah pendampingan guru.
Prototipe tersebut tidak dirancang sebagai chatbot bebas yang hanya memberikan jawaban secara langsung. Materi dan bentuk bantuan yang diberikan telah diarahkan agar tetap selaras dengan kompetensi Teknik Kontrol Mekatronika.
Guru tetap memegang kendali dalam menentukan tujuan pembelajaran, menetapkan batas penggunaan teknologi, serta memverifikasi informasi yang disampaikan sistem. Dengan demikian, teknologi berfungsi sebagai penguat proses pembelajaran, bukan sebagai jalan pintas bagi peserta didik.
Ketua Penelitian, Moch. Sukardjo, mengatakan nilai penting dari penelitian tersebut tidak hanya terletak pada penggunaan teknologi yang tengah berkembang pesat, tetapi pada bagaimana AI dirancang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
“Kami ingin menunjukkan bahwa AI dapat dirancang sesuai tujuan pembelajaran. Di kelas vokasi, siswa membutuhkan ruang untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, lalu memperoleh umpan balik dengan cepat,” ujar Sukardjo.
Menurutnya, kecerdasan buatan dapat memperluas kesempatan peserta didik untuk memperoleh penjelasan dan umpan balik. Namun, validasi guru dan literasi penggunaan teknologi harus tetap menjadi bagian utama dalam proses pembelajaran.
“AI seharusnya membantu siswa berpikir, bukan mengambil alih proses berpikir mereka. Karena itu, prototipe ini kami arahkan untuk memberikan penjelasan, umpan balik, dan pertanyaan pemantik, sementara guru tetap memegang kendali pembelajaran,” lanjutnya.

Hasil Belajar Meningkat 20,92 Poin
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar peserta didik meningkat sebesar 20,92 poin setelah menggunakan AI-Based Learning Assistant.
Temuan tersebut memberikan gambaran awal bahwa asisten AI berpotensi membantu peserta didik memahami materi Teknik Kontrol Mekatronika secara lebih efektif.
Berbeda dari chatbot umum yang cenderung langsung memberikan jawaban, prototipe ini ditempatkan sebagai pendamping belajar atau learning assistant.
Sistem diarahkan untuk membantu peserta didik mengeksplorasi konsep, memahami tahapan penyelesaian masalah, dan menemukan jawaban melalui proses berpikir. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk menyalin respons yang diberikan oleh sistem.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang terciptanya pembelajaran yang lebih personal dan adaptif. Setiap peserta didik dapat memperoleh penjelasan sesuai kebutuhan dan tingkat pemahamannya tanpa mengurangi peran guru sebagai perancang, fasilitator, dan evaluator pembelajaran.
Literasi Digital Tetap Diperlukan
Tim peneliti menilai pemanfaatan AI di lingkungan sekolah harus berjalan bersamaan dengan penguatan literasi digital.
Peserta didik perlu memahami bahwa setiap respons yang diberikan AI tetap harus diperiksa, dibandingkan dengan sumber belajar lain, dan didiskusikan bersama guru. Hal tersebut terutama penting ketika informasi yang diberikan berkaitan dengan keputusan teknis.
Sikap kritis diperlukan agar penggunaan teknologi tidak menimbulkan ketergantungan. Sebaliknya, AI diharapkan dapat membangun kebiasaan belajar yang lebih aktif, kritis, dan bertanggung jawab.
Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, tim peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut masih berasal dari pengujian terbatas yang dilakukan di satu sekolah dengan melibatkan 29 peserta didik.
Penelitian lanjutan diperlukan dengan melibatkan lebih banyak sekolah, jumlah peserta didik yang lebih besar, serta cakupan evaluasi yang tidak hanya berfokus pada pemahaman materi, tetapi juga keterampilan praktik.
Bagi tim peneliti UNJ, pengujian di SMKN 69 Jakarta menjadi pijakan awal dalam mengembangkan asisten AI yang lebih kontekstual bagi pendidikan vokasi.
Ke depan, prototipe tersebut akan terus dikembangkan agar dapat mendukung pembelajaran praktik dan diterapkan pada cakupan yang lebih luas.
Inovasi yang dimulai dari pembelajaran Teknik Kontrol Mekatronika ini memberikan gambaran mengenai masa depan pendidikan vokasi yang lebih adaptif dan interaktif, sekaligus tetap menempatkan guru sebagai pengendali utama proses pembelajaran.
Penulis Prof. Dr. Moch. Sukardjo, M.Pd. Muhamad Wahyu Iqbal, M.T. Dr. Arum Setyowati, M.T. Sri Wahyuni, M.Pd. Aedil Akmal, S.Pd., M.Pd. Agam Nizar Dwi Nur Fahmi, S.Pd., M.T. Meyta Salsabila Ilham Restu Ramadhan Rezza Adzmi, S.Pd., M.Si. — Mitra/Guru SMKN 69 Jakarta
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda