Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Anggota DPR-RI Asal Sulsel Dorong Program System of Rice Intensification

Anggota DPR-RI Asal Sulsel Dorong Program System of Rice Intensification

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
23 Maret 2016, 15.45 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Anggota DPR-RI Asal Sulsel Dorong Program System of Rice Intensification

JURNALPOST.COM - Anggota DPR-RI Asal Sulawesi Selatan M Nasyit Umar menyebut program System of Rice Intensification (SRI) dapat diandalkan untuk meningkatkan hasil panen padi. Ia pun berharap agar pemerintah menggalakkan program ini agar kesejahteraan petani semakin lebih baik lagi.

Metode SRI dalam penanaman padi ini adalah dengan memperhitungkan kelola tata air dalam penanaman. Nasyit yang merupakan pakar pengairan sudah pernah mencoba bekerja sama dengan Jepang saat ia dulu menjabat sebagai Kepala Dinas Perairan Provinsi Sulsel.

IKLAN

“Bisa dilakukan di daerah-daerah irigasi, yang sudah terdaftar semua. Karena sistem pemberian airnya tidak secara tradisional. Tradisional itu, petani baru puas kalau pematangnya air penuh setinggi 20 cm, seharusnya itu cukup macak-macak. Cukup 5-10 cm aja. Sebelum air habis, dimasukkan lagi,” ungkap Anggota Fraksi Demokrat DPR-RI itu.

mahasiswa ITB Indonesia
Baca Juga

ITB dan Universitas Tianjin Perkuat Kolaborasi Teknik Kimia Hijau melalui Kamp Musim Panas Internasional

“Padi ini bukan tanaman air, butuh oksigen/udara. Kalau dia nggak banyak airnya, oksigen bisa masuk ke pengakaran sehingga buahnya akan lebih besar dan banyak. Bibit yang dipakai juga efisien, hanya 25 persen dari biasa,” jelas Anggota Komisi IV DPR itu.

Dengan metode SRI, petani hanya perlu menyebar satu atau dua bibit untuk satu tanaman namun hasilnya akan menjadi banyak. Sehingga melalui cara ini selain menghemat air, hasil yang didapat dua kali lipat dari biasanya untuk sekali panen.

“Dengan satu bibit sudah bisa menghasilkan anakan sampai 50-60, rumpunnya lebih banyak dengan satu biji bibit. Karena oksigen masuk. Bisa menghasilkan dua kali lipat dari pada biasanya. Misalnya dia 4 ton biasanya, bisa sampai 8 ton. 5 jadi 10 ton,” tutur Nasyit.

Pemerintah sendiri disebutnya sudah menerapkan metode SRI, hanya saja belum maksimal. Selain di Sulsel, beberapa daerah yang telah menggunakan metode SRI seperti NTB dan NTT. Nasyit berharap agar pemerintah mau menggalakkan program ini.

ITB
Baca Juga

ITB Perkuat Kolaborasi Akademik dengan China University of Petroleum Beijing

“Pemerintah support tapi ndak maksimal. Saya harapkan pemerintah mau meningkatkan lagi dan menerapkan program SRI ini keseluruh petani untuk kesejahteraan petani. Bayangkan kita satu kali panen bisa 2x lipat. Bagaimana kalau dua kali panen? Bisa 4x lipat,” kata Nasyit.

IKLAN

“Sampai sekarang dilakukan. Hasilnya bagus, 9-10 ton per hektar, 2x lipat dari jumlah panen dan ini harusnya dikembangkan oleh pemerintah. Hanya pemerintah melakukan ini secara bertahap, ndak sekaligus. Kalau ndak salah tahun ini cuma sekitar 200 ribu hektar,” sambungnya.

Diperlukan peran pemerintah agar program SRI bisa berhasil secara nasional. Pasalnya ada beberapa hambatan termasuk dari pola pikir petani dalam menanam padi. Di mana pada umumnya petani baru puas menanam jika air di pematangnya banyak. Metode SRI juga akan semakin lebih bagus lagi jika pupuk yang digunakan adalah organik.

“Sosialisasi penting dan kemauan pemerintah untuk menerapkan metode ini. Padahal ini bagus sekali, dan kita jadi hemat air hanya 40-60 persen dari biasanya. Bayangkan 7 juta hektar di Indonesia, kalau 2 juta saja dua kali tanam dan menghasilkan dua kali lipat, kita tidak perlu lagi perluasan area,” terang Nasyit.

UMKM Batik Ciwaringin
Baca Juga

ITB Perkuat Daya Saing UMKM Batik Ciwaringin melalui Branding Naratif dan Integrasi Marketplace Global

Selain tata air, ada metode lain yang dapat berguna bagi petani untuk hasil panen yang lebih baik. Yakni metode untuk mengurangi biaya operasional pengolahan tanah. Yakni jika padi hasil panen ditinggalkan di tanah setinggi 5 cm.

“Jadi 5 centi batangnya itu tidak perlu diolah tinggal dimasukkan air, lalu akan tumbuh kembali seperti padi biasa dan hasilnya akan sama dengan saat dia panen sehingga ini akan mengurangi biaya pengolahan tanah. Petani jadi lebih untung dan efisien,” tutur Nasyit.

Meski begitu, master lulusan ITB tersebut mengakui bahwa pemerintah saat ini cukup memberi perhatian besar bagi kalangan petani. Yakni dengan memberikan banyak bantuan serta menjamin petani bahwa beras hasil panennya pasti akan dibeli melalui Bulog.

“Buktinya tahun ini untuk alat pertanian saja sekitar 3 triliun. Mulai dari pompa air, traktor, alat tanam, pupuk, alat potong, pasca panen ada diberi alat untuk mengolah padi, mesin giling. Sudah cukup baik ya,” ucapnya.

Hanya saja Nasyit berharap agar pemerintah mau serius dalam menggarap program SRI. Dengan demikian pemerintah tidak perlu banyak-banyak melakukan cetak sawah karena petani bisa mendapatkan hasil dua kali lipat untuk sekali paneh.

“Karena ini bagus. Saya harap pemerintah mau lebih serius lagi garap program SRI,” tutup Nasyit. (*PR)

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/anggota-dpr-ri-asal-sulsel-dorong-program-system-of-rice-intensification/1820/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.55 WITA

  • #Anggota DPR-RI
  • #ITB
  • #SRI

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Pilihan Editor

  1. 1 Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro
  2. 2

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  3. 3

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  4. 4

    Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan

  5. 5

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.