BOGOR, JurnalPost.com - Pembina Jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah se-Indonesia, KH. Abul Hidayat Saerojie, mengungkapkan bahwa konsep “pesantren masyarakat” yang digagas Imaam Wali Al Fattah pada 1976 bertujuan membangun kehidupan berjama'ah, yakni sebuah model kehidupan berjama'ah yang menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para Khulafaur Rasyidin.
Hal itu disampaikan KH. Abul Hidayat Saerojie dalam Ceramah Shubuh di Masjid At-Taqwa Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Rabu (1/7/2026). Menurutnya, gagasan besar tersebut diungkapkan Imaam Wali Al Fattah saat berkunjung ke Dusun Muhajirun, Desa Negera Ratu, Natar, Lampung Selatan, yang masih dipenuhi dengan rumput ilalang, termasuk masjid juga beratapkan ilalang, berdinding bambu dan lantai masih tanah.
"Kita akan membangun Pesantren Masyarakat di sini (Muhajirun)," kata ustadz Abul Hidayat mengutip pernyataan Imaam Wali Al Fattah saat itu.
Ustadz Abul Hidayat menjelaskan, kalimat tersebut bukan sekadar penamaan sebuah pesantren, tetapi menggambarkan konsep besar membangun kehidupan Islam secara menyeluruh. Dalam konsep itu, masjid menjadi sentral aktivitas umat, sementara kajian ilmu tidak hanya diperuntukkan bagi para santri, melainkan juga masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Konsep tersebut kemudian diwujudkan melalui pendirian Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah yang menyatu dengan kehidupan masyarakat Muhajirun. Kehadiran pesantren tidak dipisahkan dari masyarakat, tetapi menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari warga dalam membangun kehidupan yang berlandaskan ajaran Islam.
Pada perkembangan berikutnya Imaam Jama'ah Muslimin (Hizbullah) kedua, H. Muhyiddin Hamidy, yang meneruskan kepemimpinan almarhum Imaam Wali Al Fattah, menetapkan Kampung Muhajirun sebagai proyek percontohan kehidupan berjama'ah sebagaimana diperintahkan Allah subhanahu wa ta'ala dan dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersama para sahabat di Madinah.
Menurut ustadz Abul Hidayat, konsep serupa kini juga diterapkan di Markaz Shuffah Hizbullah Cileungsi, Kabupaten Bogor. Keberadaan pondok pesantren bersama masyarakat di sekitarnya menjadi miniatur pelaksanaan syariat Islam dalam kehidupan berjama'ah.
Imaam Wali Al Fattah
"Di lingkungan pesantren, shalat berjamaah, majelis taklim, pendidikan formal maupun nonformal, saling memberi salam, saling menguatkan sesama ikhwan, hingga gotong royong dan pelaksanaan sunnah-sunnah lainnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Lebih lanjut ustadz Abul Hidayat mengajak seluruh jamaah untuk mensyukuri nikmat keberadaan markaz atau pesantren masyarakat sebagai sarana mengamalkan Islam secara kaffah, bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.
"Mari kita syukuri nikmat berjama'ah ini. Jangan sampai terjebak pada penampilan fisik tanpa makna. Al Jama'ah harus memiliki kualitas sebagai Ahlul Haq. Kita berkumpul bukan karena dorongan politik, ekonomi ataupun kesukuan, melainkan karena memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya," katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga komitmen bai'at kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan penuh kesungguhan, sebagaimana Allah ingatkan dalam Al Qur’an surat Al Fath 10:
"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), mereka juga berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barang siapa melanggar janjinya, akibat pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri. Dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar."
Ustadz Abul Hidayat menegaskan, bai'at yang telah dilakukan harusnya melahirkan perubahan dalam kualitas ibadah dan akhlak seorang muslim. Ibadahnya semakin baik, semakin khusyuk dan tawadhu kepada Allah.
Dalam Ceramah Shubuh tersebut ia juga mengimbau pengurus masjid agar terus memakmurkan dan mengoptimalkan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat. Masjid harus menjadi tempat berkembangnya pendidikan, dakwah, ibadah, musyawarah, dan berbagai kegiatan yang memperkuat kehidupan masyarakat Islam.
Ustadz Abul Hidayat Saerojie mengajak seluruh untuk terus menjaga semangat kehidupan berjama'ah. Sehingga pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi tempat lahirnya masyarakat yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta tumbuhnya ukhuwah, ilmu, amal saleh, dan peradaban Islam. [AM]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda