JurnalPost.com, Jakarta – Polda Metro Jaya mengerahkan sebanyak 4.132 personel gabungan untuk mengamankan aksi unjuk rasa yang berlangsung di sejumlah kawasan Jakarta Pusat, Jumat (17/7/2026).
Ribuan personel tersebut ditempatkan di sejumlah titik strategis, mulai dari kawasan Monumen Nasional (Monas), Bundaran Hotel Indonesia (HI), Dukuh Atas, hingga sejumlah ruas jalan yang menjadi jalur menuju lokasi aksi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan, sebanyak 3.728 personel berasal dari Polda Metro Jaya. Sementara personel lainnya merupakan petugas gabungan dari sejumlah instansi terkait.
“Polda Metro Jaya jumlah personel 3.728, selebihnya personel gabungan,” ujar Budi, Jumat.
Budi menegaskan, kehadiran aparat keamanan bukan untuk menghalangi masyarakat dalam menyampaikan pendapat di muka umum. Pengamanan dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada peserta aksi maupun masyarakat yang tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Begitu juga memberikan layanan kepada seluruh aktivitas kegiatan masyarakat agar tetap berjalan aman, tertib, dan lancar,” ucapnya.
Selain menjaga lokasi aksi, petugas juga difokuskan pada pengaturan lalu lintas dan penerapan rekayasa arus kendaraan secara situasional.
Langkah tersebut dilakukan karena aksi berlangsung pada hari Jumat, ketika mobilitas masyarakat di kawasan pusat bisnis Jakarta relatif tinggi.
“Kita ketahui bahwa area Bundaran HI, Thamrin, Sudirman merupakan center of gravity Jakarta. Pusat keramaian, pusat ekonomi, pusat wisata, pusat transportasi umum. Ini juga harus kita jaga, kita kawal secara bersama-sama,” ungkap Budi.
Ia mengingatkan bahwa penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak setiap warga negara yang dijamin dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998.
Meski demikian, peserta aksi diminta tetap menjaga ketertiban, tidak merusak fasilitas umum, menjaga barang pribadi, serta menghormati pengguna jalan dan masyarakat lainnya.
Polda Metro Jaya juga mengimbau masyarakat untuk memantau informasi terkini melalui akun media sosial resmi kepolisian. Informasi tersebut dapat menjadi acuan bagi masyarakat dalam memilih jalur alternatif apabila terjadi pengalihan arus lalu lintas.
“Kami juga mengajak secara bersama-sama bagi masyarakat untuk bisa memonitor update Instagram official ataupun update layanan yang kami sampaikan terkait informasi terkini, sehingga masyarakat bisa memilih jalur alternatif ataupun aktivitas kegiatan tersebut bisa dialihkan di beberapa tempat lainnya,” ujarnya.
Terkait kemungkinan penyekatan jalan, Budi menjelaskan bahwa langkah tersebut akan diterapkan secara situasional. Penyekatan hanya dilakukan apabila terjadi kepadatan massa yang berpotensi mengganggu arus kendaraan di kawasan pusat Jakarta.
Menurutnya, ruas Sudirman, Thamrin, dan Bundaran HI merupakan kawasan penting karena menjadi pusat kegiatan ekonomi, perhotelan, transportasi umum, dan berbagai aktivitas masyarakat.
Apabila terjadi penumpukan massa di kawasan tersebut, kemacetan dikhawatirkan meluas hingga sejumlah jalur arteri lainnya, termasuk Sudirman dan Gatot Subroto.
“Kalau terjadi kepadatan di wilayah Jakarta, ini juga dapat menghambat perputaran ekonomi dan pastinya menghambat aktivitas masyarakat,” kata Budi.
Berdasarkan surat pemberitahuan yang diterima kepolisian, peserta aksi diperkirakan berjumlah sekitar 500 hingga 750 orang.
Namun, jumlah tersebut masih dapat bertambah karena tidak menutup kemungkinan adanya masyarakat yang datang secara spontan ke lokasi aksi.
“Kalau jumlah massanya diperkirakan berkisar sekitar 500 sampai dengan 750. Ini yang baru melaporkan, artinya baru memberikan informasi kepada kepolisian melalui surat pemberitahuan,” tuturnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda